2011/12/18

Negara Wani Piro

X:“Kerja dimana mas?” Y:“Di instansi x Pak”. X:”Wah, hebat, habis berapa masuknya?”. Mungkin percakapan seperti ini hal yang lumrah kita temui. Dan sudah menjadi rahasia umum. Rahasia yang semua orang juga sudah tahu dan sudah paham.

Percakapan inilah yang juga beberapa kali saya alami. Terakhir beberapa hari yang lalu. Saya ngobrol ngalor ngidul dengan bapak kos. Topik pembicaraan berganti-ganti hingga akhirnya ke masalah pekerjaan. Si bapak kos ini dulu pernah ketipu ketika akan mendaftar di sebuah instansi pemerintah. Pekerjaan tidak didapat uang amblas. Untung karena punya saudara “orang penting” jadi uang akhirnya bisa diselamatkan. Si bapak kos juga cerita saudaranya yang diterima di instansi “y” habis sekian ratus juta (jumlah yang banyak kawan). Dan nggak sampai 4 tahun uang sudah kembali. Hebat juga.

Akhirnya si bapak kos tanya, “kalau mas habis berapa masuk di xxxx?”. Saya jawab, “saya nggak bayar pak, cuma daftar lewat internet, ikut tes, dan akhirnya sampai disini.” Si bapak kos menjawab, “ah masak, kalau nggak mau terus terang habis berapa ya nggak papa.., sambil tersenyum”. Gubrak!

Walaupun saya jelaskan rekrutmen menggunakan pihak kedua dan seterusnya tetap tidak mempan. Akhirnya saya cuma senyam senyum saja dan topik pun beralih. Mungkin banyak di luar sana “rahasia umum” itu terjadi. Namun, untuk kasus yang saya alami dalam hidup saya itu tidak terjadi kawan.

Saya tidak menyalahkan orang yang melakukannya, masing masing tentu punya pilihan dan pertimbangan sendiri. Dan walaupun banyak yang melakukan tidak berarti semua juga melakukannya.

2011/12/11

Mengatasi Kamus Elektrik Alfalink Matot (Mati total) Terkena Air

Bermula dari rusaknya kamus elektrik yang saya belikan untuk ibu saya. Dan penyebabnya cukup konyol. Kucing peliharaan di rumah pipis di atasnya. Walhasil si kamus inipun eror.

Kemarin saya membawa kamus ini ke gerainya. Siapa tahu masih bisa diservis. Kalau nggak ya terpaksa beli lagi yang baru. Saya bilang ke mbaknya kamus rusak terkena air (pipis kucing termasuk air juga kan?). Oleh si mbak diperiksan dan memang mati total. Mbaknya juga menjelaskan kalau sampai ganti PCB biaya servisnya mendekati 200rb. Selisih sedikit dengan harga kamus elektrik yang baru. Oleh karena itu saya minta dicekkan dulu dan harga servisnya dikonfirmasi dulu. Kalau habis banyak mending beli lagi.

Namun oleh si mbak nya kamus ini coba diutek utek. Dan ternyata menyala!! Si mbak pun berkata, alhamdulilah ya, sesuatu banget, bisa nyala lagi (beneran ngomong seperti ini, tanpa adanya perubahan apapun). Saya pun setengah tidak percaya, coba saya pencet – pencet. Yup, memang menyala. Berfungsi normal. Wah, langsung saya puji si mbak ini, canggih!

Dan si mbak ini tidak pelit bagi ilmu. Ilmunya pun sangat sederhana. Kalau terkena air dan mati total coba di reset. Tentunya pastikan dulu kamusnya sudah kering. Copot batreinya, dan keringkan. Setelah beres tekan tombol reset dalam keadaan tanpa batrei. Ingat, tanpa batrei!! Walaupun saya sendiri heran bagaimana si kamus bisa reset kalau tidak ada batreinya, namun memang berhasil. Dan yang harus dijadikan perhatian jangan menggunakan pulpen atau pensil saat menekan tombol reset. Pakai tusuk gigi saja, kata si mbaknya.

Akhirnya kamus elektrik ini hanya saya ganti batreinya saja. Sampai di kos saya coba masih berfungsi normal. Selamat mencoba!

Memulai Lagi: Membaca

Rasanya sudah lama sekali terakhir kali saya membaca novel. Entah kapan. Akhirnya baru sekarang memulai membaca lagi. Novel yang lama tidak tersentuh mulai saya buka. Novel ini saya beli di semester terakhir saya kuliah. Sekitar setahun lalu. Sudah lama sekali. Terongok berdebu di kamar saya di rumah. Belum saya baca.

Akhirnya minggu kemarin saat beres2 untuk kembali ke kos novel ini saya masukkan ke tas. Dan baru hari ini sempat membuka beberapa lembar halamannya. Dengan beberapa persiapan tentunya. Memanaskan secangkir air. Satu sachet cappuccino saya siapkan. Cappuchino dan air panas saya tuangkan ke dalam cangkir bergambar wajah saya sendiri bonus dari mall produk IT terbesar di kota Surabaya ini. Asap mengepul di atas busa yang kental dan taburan coklat cappuchino. Hmmm… mantap. Apalagi didukung cuaca yang gerimis rintik – rintik.

Membaca memang membawa kenikmatan tersendiri kawan. Pengalaman yang diperoleh tidak sebatas hanya pada untaian kata-kata di dalamnya. Namun lebih dalam dari pada itu. Setiap orang mungkin memiliki kesan dan pengalaman yang berbeda tergantung imajinasi masing – masing. Dan berdasarkan pengalaman saya, imajinasi kita sendiri tersebut jauh menarik daripada saat novel tersebut divisualisasikan, dalam sebuah film misalnya.

Ketika membaca Harry Potter saya selalu membayangkan bagaimana nikmatnya coklat panas kental, dan seramnya lorong – lorong Hogwarts. Seolah-olah coklat panas tersebut benar – benar terkecap oleh lidah saya, dan saya benar benar berada di lorong hogwart yang seram. Hal ini tidak saya temui saat saya menonton film Harry Potter.

Novel ini akan saya jadikan pembuka untuk rutinitas membaca saya selanjutnya. Sudah ada beberapa rencana hunting buku. Selamat Membaca!

2011/12/09

Sejenak Menikmati Keelokan Bali

Kadang heran juga bagaimana saya bisa sampai di sini. Kalau bukan karena melaksanakan tugas mungkin saya tidak berada di sini, Bali. Sempat juga mengejutkan orang tua di rumah. Karena cukup mendadak saya belum sempat pamitan. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya ke pulau ini. Pas saya SMP juga pernah beberapa hari berputar – putar di Bali.

Kadang kala ironis juga. Turis asing yang berasal dari negara yang berjarak ribuan kelimoter sering mengunjungi pulau ini. Sedangkan penduduk Indonesia sendiri yang ibaratnya hanya tinggal melangkah saja tidak memiliki kesempatan kesini.

Memang tidak salah turis asing jauh-jauh datang ke sini. Pulau ini seolah-olah dari sananya sudah didesign sedemikian rupa untuk dapat dikatakan menarik. Ibarat manusia, pulau ini sudah cantik dari sononya,tanpa perlu make up aneh aneh yang tebal. Kondisi alam dan budaya sangat khas yang mungkin tidak dapat dijumpai di tempat lain.

Disela sela jadwal kegiatan yang ada saya sempatkan berjalan-jalan sejenak. Pasang headset, menyampirkan tas kecil saya kepundak, kaki pun melangkah ke pantai sanur. Kebetulan hotel yang saya tempati tidak jauh dari pantai ini. Sebenarnya pantai seperti ini juga dapat ditemui di ribuan pulau lain yang ada di negeri ini. Namun pantai ini menjadi berbeda karena pantai ini di Bali, kawan. Dari jauh terdengar suara semacam gamelan mengalun. Bau dupa dan bunga tercium. Ternyata sedang diadakan upacara. Hal seperti inilah yang tidak ditemui di tempat lain.

Salut juga bagaimana budaya lokal masih bisa bertahan disini, ditengah berbagai penetrasi budaya lain yang datang. Kehidupan yang sama sekali berbeda. Mobil mobil mewah berlalu lalang. Restoran, café berjajar memenuhi jalan. Orang-orang dari berbagai ras di dunia membaur. Terkadang lupa kalau saya masih di Indonesia. Berbagai bahasa yang aneh dan asing nyantol di kuping saya saat saya berpapasan dengan orang-orang ini.

Semua hal tersebut berdampingan dengan orang-orang berkebaya, bau dupa, dan sesajen di beberapa sudut tempat. Benar benar sesuatu yang kontras, namun keduanya dapat berjalan beriringan. Di satu sisi budaya yang cenderung hedonis dan di sisi lain kesederhanaan budaya lokal.
Terbukti bahwa dengan kebudayaan dan kekhasannya sendiri pun Bali tetap eksis di tengah perkembangan jaman. Justru kebudayaan tersebut menjadi suatu keunikan yang tidak dapat ditemui di belahan lain di dunia.

Beruntunglah Indonesia memiliki Bali, salah satu tujuan wisata terbaik di dunia. Semoga pulau cantik ini tetap ada di hati penduduk dunia.

2011/11/16

Menunggangi si burung besi raksasa


Petualangan hidup saya berlanjut ke tahap selanjutnya, kawan. Kali ini saya bergeser kembali, namun lebih dekat dengan rumah. Dalam pergeseran tersebut saya dan rekan seperjuangan boleh memilih moda transportasi yang diinginkan. Karena waktu yang agak mepet dan banyak dari kami yang ndeso (terutama saya) kamipun sepakat memilih pesawat.

Tas (atau yang lebih tepat disebut rumah portable) penuh dengan berbagai barang. Tas ini sebenarnya tidak didesain untuk bepergian di perkotaan. Karena tas ini adalah tas carrier untuk mendaki gunung. Tapi lumayan ampuh dijejali barang sampai melembung. Menumpang taksi kami berombongan ke bandara setelah sebelumnya berpamitan dengan kantor lama. Ternyata 4 bulan terasa cepat. Baru mulai akrab, baru mulai beradaptasi dengan suasananya, sudah berpisah lagi. Dan setelah beberapa kali mengalami dapat saya ambil kesimpulan bahwa terkadang suatu keakraban adalah tanda dekatnya perpisahan, memang aneh, tapi nyata terjadi.

Setelah terjebak macet kami pun sukses sampai di bandara sebelum jadwal keberangkatan. Dan ternyata pesawatnya delay. Saya yang seumur umur belum pernah naik pesawat kagok juga prosedur di bandara. Memang kalau dari sononya ndeso nggak bisa dibohongi ternyata. Mungkin saya kalah dengan nonik kecil yang sudah akrab keluar masuk bandara. Untung nggak sendirian. Saya pasrah saja ngikut rombongan kecil pejuang-pejuang muda pelabuhan ini.

Lama menunggu, bosen juga mengutak atik hp, akhirnya saya bersama teman beranjak ke mushola untuk sholat dulu. Baru juga mengambil wudu (dan tiket saya sempat jatuh ke selokan saat membungkuk, ampun deh) dari kejauhan terdengar suara mengumumkan nomor penerbangan. Kami segera bergegas menuju pesawat. Setelah sebelumnya menunjukkan tiket saya yang setengah basah dan agak tidak berbentuk, kami melangkah mendekati pesawat. Pesawat ukuran sedang sudah menunggu. Tergesa – gesa kami mencari tempat duduk. Ternyata kami adalah penumpang terakhir yang masuk pesawat. Setelah beberapa persiapan pesawat pun bersiap lepas landas. Mbak pramugari pun sigap menjelaskan prosedur keselamatan dan sebagainya. Dengan bahasa yang agak terlalu cepat menurut saya, terutama bahasa inggrisnya.Mungkin karena si mbak sudah mengatakannya ratusan ribu atau sekian juta kali jadi seakan akan lidah tidak perlu bergerak. Meluncur saja saking fasihnya.

Mesin pun dihidupkan dan pesawat memasuki landasan. Kecepatan bertambah cepat dan dalam sekejap lepas dari permukaan tanah. Saya terbang kawan! Hmm.. ternyata begini sensasinya. Terlebih saya duduk di tepi jendela. Puas menikmati pemandangan. Bagaimana sensasinya? Tidak terlalu menyenangkan kawan, hehe. Pernahkan kalian melintasi gundukan atau jalan yang agak naik dan turun dengan kecepatan tinggi? Perut seolah – olah terangkat dan dihempaskan kembali? Begitulah sensasinya. Hanya saja sensasi itu tidak sebentar, sering sekali terasa sepanjang perjalanan. Kaki ini ingin sekali segera menjejak tanah lagi rasanya. Apalagi sempat melintasi mendung. Kalau orang inggris bilang mungkin saya saat itu in the middle of nowhere. Kanan kiri hanya ada warna abu abu. Gumpalan kapas putih bersih yang mengiringi perjalanan saya lenyap.

Naik pesawat ini bagi saya mirip sekali dengan naik wahana yang sering membuat jantung berdegup. Dan hebatnya wahana ini memiliki durasi yang cukup lama. Isi perut rasanya sudah hampir sampai di kerongkongan. Nasi kucing terakhir saya di semarang, sarapan saya sebelum berangkat, sudah memberontak ingin keluar. Saya coba memejamkan mata. Semalaman begadang beres-beres cukup membantu mata cepat terlelap.

Untunglah perjalanan ini cuma sebentar, tidak sampai sejam. Tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau harus naik untuk berjam jam lamanya. Senang sekali rasanya menginjak bumi lagi, mungkin sesenang pelaut yang bertahun tahun tidak menyentuh daratan.

Entah hanya saya yang mengalaminya, atau yang lain juga. Yang jelas apabila sekarang saya ditawari pesawat atau kereta, kalau memungkinkan dan saya boleh memilih, tanpa pikir dua kali saya akan menjawab kereta!

2011/10/21

Kapal Pesiar di Malam Hari? Hmm... Cantik!

Tidak terasa sudah akhir pekan lagi. Bernafas sejenak kembali memencet tuts keyboard. Kebetulan kemarin ada sesuatu yang menarik untuk ditulis. Untuk kesekian kalinya ada kapal pesiar yang singgah di tempat kerja saya. Kapal yang lumayan besar walaupun penumpangnya tidak terlalu banyak hanya beberapa ratus orang saja.


maap kalau watermarknya agak lebay, sengaja memang, hehe

Nah, yang mengasikkan kapal ini ternyata menginap. Biasanya kapal pesiar selepas magrib sudah berangkat lagi. Kali ini berbeda. Kesempatan kawan. Apalagi kalau bukan hunting foto. Kebetulan ada salah satu pegawai juga nitip untuk difotokan untuk dijadikan cover. Sekalian bekerja dan bereksperimen mencari angle dan setingan yang pas.

Sebelum pulang kerja kamera dslr kantor saya charge dulu. Malamnya bisa siap dipakai. Apesnya ketika akan berangkat hujan turun. Sempat ngiyup sebentar di kos teman akhirnya perjalanan pun dilanjutkan. Bersama seorang rekan saya pun meluncur. Pertama pinjam dulu satu lagi kamera dslr milik saudara rekan saya. Beres segera meluncur ke tkp.


cantik kawan! (masih banyak foto lain yang lebih menarik sebetulnya, hehe)

Berbekal id dengan security pas saya pun memasuki lokasi. Di depan saya terongok sesosok benda raksasa terapung bercahaya di kegelapan. Cantik kawan! Hotel berjalan ini berkilauan dan dengan anggunnya tenang saja dihajar ombak yang lumayan kencang. Gerimis masih turun ketika saya mulai jepret sana sini mengambil gambar. Lokasi yang basah terkena air semakin membuat suasana menarik.

Sembari mengambil gambar sesekali saya melongok mencoba mengintip isi kapal ini, dan nampak di dalamnya lorong yang tidak kalah dengan hotel berbintang. Pantaslah. Dengan tarif 1000 dolar perhari tentu fasilitasnya nggak main main.

Selain itu yang masih membuat saya penasaran adalah ukurannya. Bagaimana benda sebesar ini terbuat dari besi bisa terapung dengan tenang di atas air. Walaupun sudah dijelaskan berulang kali oleh salah seorang rekan dari teknik perkapalan tetap saja saya takjub. Begini mungkin salah satu keajaiban ilmu pengetahuan.

Dua jam tanpa terasa saya muter muter mengambil gambar. Walaupun setengah basah terguyur hujan namun hati puas. Bisa memanfaatkan kesempatan langka seperti ini. Pulang kembali ke kos dengan hati tersenyum.

2011/10/14

Kurang Tidur = Kacau

Akhirnya bisa santai sejenak dan memencet tuts keyboard lagi. Walaupun mata masih agak berat karena rutinitas kemarin. Diawali dari futsal yang berlangsung hingga hampir tengah malam. Futsal? Yup. Beberapa kali ini saya ikut futsal kawan. Bersama rekan rekan sekerja tentunya. Dengan gaya amburadul super ngawur tentunya. Namun lumayan menyenangkan. Bisa teriak sepuasnya, tertawa lepas, dan mengumpat nggak jelas. Fiuh, lumayan membuat relax lagi.

Pulang dari ”memeras keringat” di lapangan sintetis arena futsal berlanjut ke angkringan. Di semarang ini banyak ditemukan warung nasi bungkus yang dikemas super mini atau nasi kucing. Cukup 1500 sebungkus. Biasanya saya habis 3 bungkus belum termasuk gorengan. Sayangnya keinginan menikmati susu jahe panas nggak kesampaian karena masnya kehabisan stok susu. Nggak papa deh. Cukup jahe panas saja.

Cangkrukan jadi tambah ramai karena tiba tiba ada warga lokal nimbrung. Warga yang satu ini, maaf, termasuk dalam kategori down syndrom. Tanpa bermaksud merendahkan kami mengobrol ngobrol. Dan beberapa kali teman saya dikatai yang tidak jelas. Mungkin karena kata itu yang sering didengar dari orang orang yang mengajalk ngobrol.

Sampai kos mengobrol sebentar dilanjut mandi biar seger. Sekitar jam satu malam baru bisa merebahkan diri. Pagi hari jam 5 pintu digedor gedor teman satu kos karena hari ini ada senam pagi yang berarti harus berangkat satu jam lebih awal. Selesai sholat subuh dengan sedikit merangkak ke kasur saya pun terlelap lagi di tepi kasur. Digedor lagi oleh teman lainnya baru saya meraih handuk dan mandi. Sepanjang perjalanan mata masih setengah terpejam.

Sampai kantor dimulailah rutinitas seperti biasa. Untung hari jumat jadi tidak terlalu padat. Baru beraktifitas sebentar sudah tiba waktunya sholat jumat. Hawa masjid yang dingin dan kontras sekali dengan suhu diluar yang panas menyengat menambah berat mata. Kebetulan saya duduk di sebelah teman kerja. Sebelum kutbah dimulai teman saya berpesan, ”kalau nanti saya ketiduran bangunkan ya?” saya pun mengangguk. Tak lama dimulailah kutbah jumat. Beberapa saat kemudian entah bagaimana caranya, saya terkaget. Ternyata ada yang membangunkan saya. Asem. Ternyata saya ketiduran hampir sepanjang kutbah. Dan baru bangun saat sholat akan dimulai. Karena kaget bercampur kesadaran yang masih setengah setengah saya sampai lupa berada dimana. Kaki juga kesemutan. Terhuyung huyung saya berdiri bersiap mengikuti sholat. Dan hebatnya teman di sebelah saya sama pulasnya tertidur dan mengalami nasib serupa.

Seumur – umur baru kali ini saya benar benar tertidur saat sholat jumat. Sebelumnya mungkin pernah namun hanya sekilas dan kemudian melek lagi. Selesai sholat jumat saya pun ”balas dendam” sedikit dengan tiduran di pelataran masjid. Mumpung jam istirahat masih ada.

Sampai di kantor lihat hp ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab. Dari teman kerja saya. Ternyata dokumen yang saya fotokopi ada yang kurang dan setelah ditelusuri ketinggalan di foto kopian, hehe. Maaf kawan. Walaupun bukan sepenuhnya salah saya juga karena mbak fotokopinya lupa menstaples jadi satu.

Dan ternyata ”aksi” ketiduran saya banyak diketahui mas – mas pegawai dari divisi lain (sedivisi dengan teman saya yang juga ketiduran). Si mas bercerita kalau saya terhuyung huyung, hehe. Teman saya malah parah. Karena katanya dibangunkan berkali kali nggak berhasil, hehe. Kayaknya jadwal futsal harus dipikirkan ulang. Karena kecapekan + tidur larut alamat mengacaukan hari berikutnya.

2011/09/23

Bener bener faktor usia..

Hari ini seperti hari jumat sebelum – sebelumnya saya mengikuti senam di kantor tempat saya bekerja. Kali ini instruktur senamnya, walaupun sudah agak sepuh, semangat sekali memimpin gerakan senam. Sangkng semangatnya beberapa kali kami diajak push up. Kalau biasanya jam setengah 8 lebih sedikit prosesi senam sudah kelar, kali ini berbeda. Jam 8 kurang sedikit baru beres. Beberapa sudah kecele mengambil bubur dan telur rebus padahal senam belum selesai. Lumayan berkeringat.

Setelah senam, melibas bubur kacang ijo, telur rebus, bagi bagi doorprize (ada temen saya yang beruntung untuk ketiga kalinya, asem) acara dilanjutkan dengan olahraga lainnya. Tersedia beberapa pilihan, mulai volly, bulu tangkis dan tenis meja. Saya mungkin bisa melakukan banyak hal di dunia ini. Namun saya tidak ahli dalam satu hal kawan, yaitu suatu kegiatan yang bernama olahraga.

Namun saya senang melakukannya walaupun cuma sekedar iktu ikut an. Bosan oper operan bola volly saya pun meraih raket yang tergeletak. Bersama rekan lainnya kami memainkan bulutangkis yang mungkin bisa masuk rekor muri. 6 pemain dalam 1 lapangan dan 2 shuttle cock. Entah termasuk kategori ganda apa ini.

Bertahun tahun tidak pernah memegang raket membuat tangan saya kaku. Saya yang dulunya memang tidak bisa bermain bulutangkis semakin tambah parah saja skill nya. Namun setelah beberapa kali oper sana sini lumayan bisa juga. Oper operan semakin kencang dan tinggi. Sampai akhirnya saya akan membalas operan dari teman saya yang melambung lumayan tinggi. Pandangan ke atas, tangan memegang raket menjulur ke depan, kaki melangkah. Dan beberapa saat kemudian, gedubrak. Saya sukses nyosor di lapangan batako. Wenak.

Celana training yang saya pakai tidak mampu melindungi lutut saya yang mulus ini. Beberapa memar dan luka gores menghiasi lutut saya. Namun saya segera bangkit (campur malu tentunya) dan posisi siap kembali. Permainan dilanjutkan. Bosan bulutangkis saya kemudian melirik tenis meja. Masih dengan skill pas pas an saya bermain ganda. Dan ternyata tidak jauh beda. Keringat keluar bukan karena capek menangkis bola. Keringat keluar karena terlalu sering memungut bola yang tidak berhasil saya tangkis, hehe. Sampai disini cenut cenut di lutut saya belum terasa. Masih segar bugar.

Beberapa jam kemudian, termasuk ketika saya mengetik tulisan ini, lutut saya njarem njarem. Memar di lutut perih terkena sabun pas mandi. Kaki juga agak kaku. Padahal dulu seingat saya pas masih kecil jatuh semacam ini sudah biasa. Ini kok sampe terasa efeknya. Mungkin memang faktor usia mempengaruhi.

2011/09/20

Destiny dan Destination

Kalau dilihat lihat kayaknya kata destiny dan destination ini memiliki root atau akar kata yang sama ya? Dan makna katanya sendiri walaupun tidak sama tapi ternyata bisa sangat berkaitan.

Takdir dan tujuan. Kelihatannya sih tidak ada kaitannya. Namun setelah saya renungkan ternyata jutru berkaitan. Kalau ibaratnya hidup ini adalah sebuah garis, maka destination ada di ujung garis itu. Diantara garis itu banyak sekali percabangan percabangan atau destiny. Garis inipun kadang lurus menurun yang tidak perlu keluar banyak tenaga kita akan mudah berlari. Terkadang si garis juga menanjak ke atas yang melangkah sejengkal saja nafas sudah terengah engah. Si garis juga bisa berputar putar mbulet tidak karuan. Namun entah bagaimana garisnya tetap saja diujungnya ada destination.

Kata destiny ini juga mengingatkan saya akan sesuatu. ”Kebetulan” itu sebenarnya ada apa nggak? Apakah ketika akan keluar rumah baru satu langkah kemudian hujan itu kebetulan? Apakah kita duduk di bis kemudian duduk dengan seseorang itu kebetulan? Apakah ketika berdiri di suatu barisan dan berdiri di samping seseorang itu kebetulan? Saya pernah mengalami sesuatu yang mungkin unik. Ketika awal registrasi sebelum kuliah saya tidak kenal siapapun. Ketika duduk pada saat diberikan pengarahan saya berkenalan dengan mahasiswa baru lain yang ada di samping saya. Agar tidak lupa saya mencatat nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi di buku catatan satu satunya yang saya bawa. Buku catatan ini selanjutnya terus saya pakai selama ospek dan sering saya gunakan karena kebetulan saya ketua regunya. Karena banyak kejadian lucu menyertai buku ini saya pun menyimpannya. Salah satu kejadian lucunya adalah ketika senior memberikan tugas, masing masing ketua regu pun maju. Mencatat apa saja tugas (seperti biasa tugas aneh aneh) yang diberikan. Beres mencatat saya pun kembali. Nah, malamnya ketika akan mengerjakan tugas tersebut buku catatan saya buka. Hebatnya saya tidak bisa membaca tulisan saya yang corat coret nggak karuan. Akhirnya dengan ingatan setengah setengah dan sedikit ilmu ngawur saya menjelaskan ke teman teman, hehe. Besoknya semua sukses dihukum.

Sebagai kenang kenangan buku ini pun saya simpan. Namun pelan pelan buku ini juga mulai terlupakan. Tertumpuk entah dimana. Saya sudah lupa. Suatu saat ketika akan pindah kos saya bongkar bongkat barang dan menemukan kembali buku ini. Tahukah apa yang saya temukan? Ternyata nama dan nomor yang saya catat itu, yang bahkan saya sudah lupa pernah mencatatnya, adalah nama yang sampai sekarang masih menjadi sahabat saya. Bukanlah sebuah kebetulan ketika teman saya itu duduk di samping saya. Karena memang demikianlah seharusnya. Karena memang demikianlah destiny atau takdirnya.

Kebetulan itu tidak ada. Karena memang sudah diatur demikian adanya. Ada hal hal tertentu di dunia ini yang ternyata memang benar benar diluar kuasa manusia. Entah kenapa kita diarahkan ke suatu jalan dalam hidup. Dan semoga jalan itu yang terbaik untuk kita. Terkadang memang menurut kita sebagai manusia jalan itu kadang terasa sulit. Seolah olah kita adalah manusia paling sial dan menderita didunia. Karena terkadang memang sulit untuk memahami suatu jalan takdir dengan otak manusia yang pas pasan ini. Namun ketika menemukan jawaban pertanyaan protes kita tentang takdir kita akan bersyukur. Bukan kebetulan ketika selangkah keluar rumah ternyata hujan deras, dan kita pun mengurungkan niat keluar. Hati pasti nggrundel dan protes nggak karuan karena waktunya jalan jalan batal. Namun ketika duduk, melihat tayangan tv dan diberitakan bahwa jalan yang seharusnya kita lalui kalau jadi berangkat ternyata disapu banjir, dan kita pun akan bersyukur, karena kita telah memahami jawaban dari pertanyaan protes kita tadi.

Dan bagaimana pun ruwetnya atau mungkin enaknya hidup suatu saat nanti ada destination. Peringatan bagi yang hidupnya enak karena alphard dan ladang berhektar hektar miliknya tidak ikut dibawa. Demikian juga yang hidupnya susah. Karena sebentar lagi kesusahan itu pergi, dan semoga membawa ke tempat yang lebih baik. Kita memang tidak selalu bahagia namun kesedihan pun tidaklah abadi. Berusaha menjalani hidup ini dengan baik, melintasi satu persatu destiny yang ada apapun bentuknya dengan syukur.

2011/09/14

Togetherness is priceless


Dulu saya mengira jauh dari keluarga cuma dialami oleh anak kuliahan yang ngekos di kota lain. Ternyata tidak demikian adanya. Banyak hal yang berbeda di petualangan hidup saya kali ini. Perusahaan tempat saya bekerja memiliki cabang yang lumayan banyak di berbagai provinsi di Indonesia. Tentu hal ini membawa efek kepada pegawainya. Sering terjadi mutasi dari satu cabang ke cabang yang lain.

Bagi saya tentu tidak masalah. Tinggal cangklong tas, bismilah, saya akan berangkat. Lantas bagaimana dengan yang sudah berkeluarga? Disini saya banyak menemui senior rekan kerja yang harus berpisah jauh dari keluarga. Meninggalkan istri dan anak entah dimana di kota asal. Sekali lagi menjadi anak kos. Belum lagi rekan seangkatan yang sudah menikah dan memiliki putra/ putri yang masih kecil. Sebenarnya bukan kali ini saja saya menemui hal semacam ini. Bahkan orang dekat saya pun demikian. Namun saya belum menemui sebanyak ini.

Apabila ada pertanyaan menghampiri, pilih mana? karir atau keluarga? Mungkin suatu saat nanti saya akan menjawab, saya akan memilih keduanya. Entah bagaimana caranya.

Memang terkadang jarak menjadi hal yang memusingkan. Jarak juga yang membuat sebuah kebersamaan menjadi tidak ternilai. Karena tidak semua orang dapat memiliki kemewahan sebuah kebersamaan. Pepatah "mangan ora mangan sing penting kumpul" mungkin benar adanya. Namun prioritas sesekali harus dibuat. Pengorbanan harus dilakukan. Dan semoga kebahagiaan akan datang, entah bagaimana, dengan caranya sendiri.

2011/09/03

Ngeprint Tabel Pake Canon Putus - Putus? ini solusinya

Berawal dari tugas yang diberikan oleh ibu saya untuk mencetak perangkat mengajar. Printer dihidupkan, kertas dimasukkan klik print. Tapi ternyata hasil cetak tidak sesuai harapan. Tabel yang saya print renggang di sana sini. Garisnya juga tidak beraturan. Sempat agak pusing.

Akhirnya jurus pamungkas dikeluarkan. Tanya mbah gugel. Ternyata yang saya temukan justru malah membuat tambah frustasi. Gimana tidak? lawong sarannya suruh ganti cartridge. Akhirnya ilmu coba - coba dikeluarkan. Seting saya ubah ke kualitas tinggi. Dan hasilnya? sip! tabel dapat dicetak dengan baik. Garisnya lurus sempurna. Cara yang simpel dan tentu saja tidak perlu ongkos. Hanya efeknya proses mencetak jadi lemot. Tapi tidak masalah.

Selamat mencoba!
*maaf gambar hasil printer sebelum dan sesudah nggak bisa dimasukkan.. nggak ada kamera soalnya.. silahkan dicoba langsung





2011/08/29

Home


Hmm.... Senangnya bisa kembali pulang. Baru kali ini saya benar - benar merasakan semangat untuk mudik. Menanti hari demi hari sampai tiba saatnya pulang. Kalau dulu saya bisa kapanpun pulang tinggal putar kontak sepeda motor saya, dan beberapa jam kemudian sudah sampai rumah. Namun sekarang berbeda. Karena kali ini saya terdampar di sebuah kota yang agak jauh dari rumah.

Jauh hari sebelumnya sudah pesan tiket travel dulu. Alhamdulilah dapet di belakang. Lumayan bisa menyelonjorkan kaki sambil tidur di sepanjang perjalanan. Dan entah karena pak sopirnya pingin cepat mudik juga atau apa, perjalanan kali ini lumayan cepat. Atau mungkin juga saya yang tidur kelamaan ya?

Turun dari travel langsung disambut dinginnya udara pagi. Saya pun bergegas ke masjid sembari menunggu orang tua saya menjemput. Liat jam di tangan ternyata sudah waktunya sahur. Untung tadi sudah persiapan roti plus susu plus sebotol aqua. Setelah 1 jam lebih menunggu akhirnya jemputan datang juga.

Akhirnya sampai juga dirumah. Home sweet home. Mungkin tidak ada tempat lain yang bisa mengalahkan kehangatan rumah. Tempat dimana saya akan kembali entah sejauh apa petualangan hidup saya nanti.

2011/08/06

Apa kabarmu teman - temanku?

Apa kabarmu teman - temanku
Ku tahu kamu setia menunggu
Walaupun aku selalu sok sibuk
Kini ku datang hanyalah untukmu

Aku ada disini menghiburmu
Sekali lagi seperti dulu
senang ataupun susah
slalu ceria
long live my family

Ku ingat semua tingkah gilamu
Ku ingat juga wajahmu yang lucu
Kita semua seperti saudara
Tumbuh bersama sampai kita tua

Aku ada disini menghiburmu
Sekali lagi seperti dulu
senang ataupun susah
slalu ceria
long live my family

Apa kabarmu teman - temanku
Lama terasa tidak bertemu
Mungkin dirimu tlah banyak berubah
Jadi apapun tak jadi masalah

Aku ada disini menghiburmu
Sekali lagi seperti dulu
senang ataupun susah
slalu ceria
long live my family

Lagu yang dinyanyikan endank soekamti diatas mungkin membuat saya teringat sesuatu. Apalagi suasananya cocok. Tidak lama lagi lebaran tiba. Pasti nanti banyak teman - teman lama pulang kampung. Apa kabarmu teman - temanku? Kita semua sudah tersebar kemana mana. Mencari nasib, mengikuti jalan hidup.

Sebentar lagi lebaran kawan, sempatkanlah pulang. Berkumpul bersama lagi seperti dulu ketika kita masih imut - imut. Mungkin suasananya sudah agak berbeda. Kalau dulu kebanyakan kita masih jadi anak kuliahan dengan jadwal yang agak longgar, namun kayaknya sekarang tidak demikian. Banyak yang sudah memangku profesi yang berbeda beda.

Mungkin jalan hidup kita berbeda beda. Ketika pulang nanti lepaskan semua itu. Kita menjadi sama rata sama rasa seperti dulu. Profesi kita masing - masing hanyalah baju, dan untuk sementara kita tanggalkan. Tidak ada lagi perbedaan.

Sampai ketemu nanti kawan di kampung halaman.

2011/07/22

Efek Berkepala Gundul

Sudah sekitar sebulan sejak kepala saya digunduli ternyata rambut saya belum tumbuh signifikan. Masih tersisa sedikit2 aura aneh karena kepala gundul ini. Berawal dari diklat yang harus saya ikuti di pusdik brimob, maka mau nggak mau saya harus merelakan mahkota saya dibabat habis. Untung sebelumnya dikasih amplop uang saku. Jadi agak semangat, hehe.

Pernahkah kawan semua digunduli? Awalnya terasa aneh. Seolah olah kulit kepala ini peka sekali terhadap perubahan cuaca. Kalau dingin terasa sekali dingin. Kalau panas, mak nyos langsung ke kulit kepala. Paling lucu kalau pas keramas. Berapapun sampo yang dituangkan nggak berbusa. Dan bisanya cuma dikosoki seperti kalau membersihkan badan, karena minimnya rambut.

Dan ternyata rambut gundul ini juga berefek sosial. Sepulangnya diklat saya membelikan sesuatu untuk ibu saya. Beres dari toko saya dan ibu saya kembali ke mobil. Bapak saya dibalik kemudi pun melambai ke tukang parkir mengacungkan seribuan rupiah. Dan anehnya pak petugas parkir menolak dan menjawab "sampun pak" (sudah pak). Kami pun bingung karena memang tadi tidak ada yang memberikan uang parkir. Ya wes lah kami pun berlalu.

3 minggu kemudian, saya pulang dari semarang lokasi saya melaksanakan ojt. Saya sempatkan main ke rumah salah seorang sahabat. Setelah berhasil membangunkan teman saya ini yang molor karena capek setelah melaksanakan training 3 minggu, saya teman saya, dan 1 orang teman baru, keluar cari sarapan. Ternyata bingung. Karena di tempat tinggal saya sendiri, saya jarang sekali makan di luar. Atas rekomendasi dan hasil diskusi kami pun berhenti di warung pecel. Mobil saya parkir di depan warung.

Belum sempat menyeruput teh hangat pesanan saya, salah seorang petugas dishub menghampiri, "mas nuwun sewu maaf mengganggu, mobilnya tolong diparkir di sebelah sana nggih". Ternyata di dekat warung tersebut adalah jalur lomba balap sepeda. Saya pun memindah mobil dipandu pak petugas tersebut. Selesai makan kamipun bergegas keluar. Pas membuka pintu mobil, ada truk yang hendak parkir. Tiba tiba ada teriakan dari pak petugas tadi "parkire d kono ojo d kene" parkir di sana jangan disini. Saya pun lingak linguk lirik lirikan dengan teman saya. Di dalam mobil kami cekikikan. Beda sekali si pak petugas tadi memberikan instruksi. Ketika meminta saya memindah mobil sangat halus bahkan buwun sewu. La ini malah teriak teriak. Tahu kan alasannya?hehe.

Ternyata unik juga berkepala gundul. Tapi kayaknya menjadi gundul tidak terlalu menarik. Saya kangen rambut kriwul saya yang awut awutan. Mungkin nanti saja saya gundul lagi pas insyaAllah menunaikan haji, amiin.

2011/07/13

Beruntung

Pernah nggak menyadari bahwa kita adalah orang - orang yang sangat beruntung? Akhir - akhir ini saya semakin merenungi pertanyaan ini. Dalam training ojt yang saya jalani, sesekali saya terjun langsung ke lapangan. Berbeda dengan situasi kantor yang sejuk ber ac, di lapangan terhampar kehidupan yang keras.

Sekumpulan pemuda, bahkan lebih muda dari saya bekerja di bawah terik matahari yang menyengat berhadapan dengan gelondongan kayu besar. Sebagian mengoperasikan alat - alat berat untuk memindahkan kayu gelondongan tersebut ke truk trailer. Seorang mandor mengawasi dari jauh.

Sebuah pekerjaan yang berat dan penuh resiko. Saya tidak berani membayangkan bagaimana seandainya kayu gelondongan yang hanya diikat tali itu lepas dari crane dan menggelinding. Ngeri.

Beberapa menit saja di lokasi peluh sudah mengalir. Kerah dan lengan baju putih saya sedikit menghitam kotor terkena debu. Bagaimana kalau seharian bergelut dengan gelondongan kayu ini? Salut saya dengan mas mas pekerja ini. Mereka orang - orang yang tangguh dan pekerja keras.

Sekembali dari lapangan saya dihadapkan dengan meja, laptop / komputer, fotokopian yang berserakan dan buku catatan saya. Jadi menyesal karena sempat mengeluh bosan di kantor, sedangkan di luar sana banyak yang membanting tulang demi sesuap nasi. Mungkin memang dari sananya yang namanya manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Punya motor inginnya mobil. Punya mobil satu belum juga puas kalau nggak dua. Demikian seterusnya. Ketika melihat orang lain yang keadaannya jauh lebih baik terkadang kita ngresulo. Merasa menjadi orang paling tidak beruntung di dunia. Padahal di luar sana banyak yang menginginkan bahkan bermimpi memiliki apa yang kita miliki. Dan kunci dari kondisi ini ternyata sederhana. Bersyukur. Karena ternyata setiap diri kita ini adalah orang yang beruntung. Entah dalam hal / bidang apa. Semakin bersyukur semakin terasa bahwa kita adalah orang yang beruntung.

2011/07/08

Pendidikan itu penting atau tidak? sekarang saya bisa menjawab pertanyaan inii


Ketika saya lulus kuliah tahun kemarin, sama sekali belum terlintas di benak saya mau kerja apa. Sempat mau kuliah lagi. Namun akhirnya saya urungkan dulu. Disela sela menganggur saya yang tidak jelas, sesekali saya isi dengan menonton film. Salah satu film yang saya tonton adalah "alangkah lucunya negri ini". Dialog yang paling saya ingat adalah ketika Dedy Mizwar dan Jaja Miharja berdebat soal penting atau tidak sebenarnya pendidikan itu.

Sebenarnya penting atau tidak pendidikan itu? Kadang - kadang bingung juga. Motivasi seseorang untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin kebanyakan tidak lepas dari faktor ekonomi. Berharap suatu saat memperoleh pekerjaan yang baik. Seperti yang diperdebatkan Dedy Mizwar dalam film tersebut. Muluk, anak Dedy Mizwar dalam film tersebut adalah seorang sarjana manajemen dan belum juga memperoleh pekerjaan.

Bagi orang yang pesimistis mungkin akan berpikiran bahwa mengejar pendidikan itu tidak ada gunanya. Toh banyak sarjana yang menganggur. Sarjana saja menganggur apalagi D3, atau bahkan SMA? Bangku kuliah hanya mencetak pengangguran intelektual. Menjadi sukses tidak usah kuliah. Banyak orang yang bahkan tidak tamat SD namun dari sisi ekonomi bisa dikatakan sangat makmur.

Memang tidak salah pemikiran seperti ini. Karena kenyataannya yang terjadi demikian adanya. Namun kalau pertanyaan penting atau tidakkah pendidikan itu mampir ke saya, jawabannya simpel, pendidikan itu Penting!

Mengejar pendidikan setinggi mungkin itu penting. Tidak ada ilmu yang sia sia kawan. Sejauh itu positif pasti akan membawa manfaat bagi kita. Entah nantinya mungkin pendidikan yang kita miliki justru tidak terpakai ketika akhirnya memiliki pekerjaan. Suatu saat nanti ilmu yang kita miliki pasti berguna.

Niatkan saja mengejar pendidikan untuk mencari ilmu. Dan sebagai bonusnya mungkin suatu saat nanti kita akan memiliki pekerjaan yang cocok dan sesuai bidang pendidikan kita.

Saya sendiri menyadari bahwa pendidikan itu penting justru ketika saya lulus kuliah. Dulu ketika masih sma, tidak ada motivasi untuk kuliah atau melanjutkan ke jenjang lain yang lebih tinggi. Saya ingin berwiraswasta. Namun karena mayoritas teman - teman saya kuliah, dan alhamdulilah kondisi keuangan memungkinkan akhirnya saya kuliah. Kuliah pun dijalani saja, tidak ada bayangan nantinya mau jadi apa.

Ternyata kuliah memang ada manfaatnya. Setelah kuliah alhamdulilah saya mendapat bonus pekerjaan pertama, kedua, dan ketiga.

Kalau kondisi keuangan memungkinkan,punya kemampuan dan kemauan nggak ada salahnya untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Namun kalau memang ada kendala dan akhirnya tidak bisa melanjutkan, tidak usah berkecil hati. Ilmu bisa dicari dimana saja, tidak harus di bangku sekolah. Dan sebagai bonus dari ilmu yang kita cari tersebut semoga kelak akan mendapatkan pekerjaan yang baik dan barokah.

2011/07/02

Selamat Datang Hidup Baru

Selamat datang hidup baru. Yup, sekarang ini saya memasuki tahap kehidupan yang benar - benar baru kawan. Dulu pas kuliah saya memasuki hidup baru, namun masih banyak teman - teman sma saya menyertai. Demikian pula ketika bekerja. Dua orang teman sekantor, bahkan seruangan adalah teman sma saya, bahkan salah satunya teman sebangku saya di sma, dunia memang sempit. Kali ini dunia baru saya berbeda. Benar benar baru. Teman baru, tempat hidup baru, suasana baru.

teman sekamar pas diklat

Kadang - kadang masih mikir bagaimana ceritanya sampai akhirnya saya bercokol disini. Kalau saya ini sebuah mobil mobilan tamiya, maka hidup saya belakangan ini mirip sirkuitnya. Saya pasrah mengikuti saja kemana arah sirkuit ini.

teman satu barak

Sekarang tidak ada lagi teman lama yang menyertai, jauh dari saudara. Sebagai gantinya saya banyak mendapatkan teman baru yang "bernasib" sama. Sama sama memulai hidup baru di tempat yang baru. Teman - teman seangkatan.
teman satu pleton

Sebuah babak baru dalam lembaran catatan saya akan dimulai. Semoga saya bisa melaluinya dengan baik dengan semangat, amiin.

2011/06/24

Jika aku menjadi - polisi

Salah satu rangkaian diklat yang harus saya ikuti setelah saya lolos seleksi salah satu BUMN adalah diklat pembentukan karakter. Entah karakter bagaimana yang harus dibentuk, karena 20 tahun umur saya masih berusaha membentuk karakter saya sendiri.

Setelah 10 hari asik menikmati fasilitas hotel, mandi air hangat, makan enak, hari itu, kami 117 peserta dibawa menggunakan truk brimob ke pusat pendidikan brimob watukosek. Perlu diketahui, pusdik watu kosek ini memiliki kontur mirip bukit. Menanjak dari bawah ke atas. Barak terdapat di puncak bukit sekitar 3 km dari bawah, dan menuju ke barak tidak lain tidak bukan adalah dengan berjalan kaki.

Setelah lumayan berkeringat sampailah kami di atas. Masuk ke barak masing masing dan meletakkan tas tas yang dibawa. Kami langsung disodori bejibun aktifitas yang dimulai malam itu juga. Yang paling awal dan harus dilakukan oleh peserta laki laki adalah digundul. Berbarislah kami dalam antrian menunggu saat penggundulan. Tidak perlu terlalu banyak prosedur / teknik untuk menggunduli kepala. Hanya beberapa menit rambut sudah habis dibabat. Tersisa beberapa mili bagian samping dan beberapa cm bagian atas. Resmilah kami menjadi kompi upin ipin malam itu.

keesokan harinya aktifitas sebenarnya dimulai. Memakai seragam lengkap, yaitu seragam pdl (mirip seragam satpam) dan sepatu boot tentara. Khusus sepatu boot ini penuh perjuangan memakainya. Sama sekali tidak nyaman. Keras dan berat. Tidak sedikit yang kakinya lecet lecet, karena memang kebanyakan kami hanya membawa kaos kaki tipis yang cocok untuk pantofel.

Kegiatan sehari hari lumayan padat. Selalu ada apel sebelum melaksanakan sesuatu. Kemana mana baris dan harus sama langkahnya. Jam 4 kurang saya sudah lari ke kamar mandi kalau tidak mau keduluan. Karena kamar mandinya hanya beberapa, kalau agak siang sedikit siap siap mandi bareng atau mandi terekspos dari luar karena pintu kamar mandi yang berlubang menganga.

Beberapa hari awal badan rasanya aneh, pegel linu. Tidur pun juga menjadi sangat cepat. Begitu kepala nempel di bantal langsung bablas, saking capeknya. Hari - hari berikutnya sudah mulai "agak" terbiasa.

Untung cuma 10 hari. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana siswa sebenarnya yang menjalani pendidikan disini berbulan bulan. Siang bolong panas - panas berlari lari keliling pusdik tanpa baju. Jadi seperti ini ya bagaimana briptu norman caiya caiya dulu dididik. Briptu norman lulus dari pusdik ini tahun 2006.

Dan pantas saja Briptu norman pandai bernyanyi. Pusdik ini punya segudang stok nyanyian. Bahkan komandan kompi diklat kami pun mahir menciptakan puisi. Tampilan boleh garang, tapi hati ternyata lembut.

Akhirnya, setelah pertengahan minggu sempat diare dan diakhir minggu flu, diklat di pusdik ini pun berakhir. Ditutup dengan pesan, bawa yang baik baik dari pusdik dan tinggalkan yang jelek jelek di sini. Entah karakter saya berubah atau tidak (setidaknya warna kulit berubah). Yang jelas saya memperoleh pengalaman baru. Watukosek tak akan kulupa....

2011/06/05

Hidup Saya Memang Mengalir, Namun Jangan Seperti Air

Pernahkah terpikirkan akan menjadi apa ketika anda beranjak dewasa kelak? Mungkin ada yang mencita - citakan sesuatu dan kemudian benar benar meraih cita cita tersebut. Namun, kalau saya sendiri, saya tidak pernah tahu akan menjadi apa kelak. Dimulai ketika kuliah, jurusan yang saya pilih, masih belum bisa menjamin akan menjadi apa kelak. Bahkan bapak saya sendiri pun khawatir, mau kerja apa saya.


Akhirnya saat saat kuliah pun berakhir (kangen juga saat2 kuliah). Dihadapkanlah saya ke pasar kerja. Mencoba melamar kesana kemari. Saya tidak terlalu banyak melamar pekerjaan sebetulnya. Hanya beberapa saja. Pengalaman ketika saya melamar jadi supervisor sales LPG dan dipanggil, bapak dan ibu saya heboh, hehe. Setelah itu saya jarang melamar. Cuma beberapa saja yang sekiranya saya mengerti pekerjaan tersebut.

Karena saya suka menulis saya pun mencoba melamar menjadi reporter. Sempat dipanggil salah satu portal berita online, namun karena jauh saya batalkan. Saya pun kemudian diterima di salah satu koran lokal yang merupakan bagian dari media ternama. Namun hanya tahan tidak lebih dari 2 minggu.

Pekerjaan saya berikutnya masih terkait jurnalistik. Saya menjadi corporate journalist salah satu perusahaan. Pekerjaan yang menyenangkan kawan! Bayangkan saja pak bondan winarno yang dibayar untuk mencicipi makanan, atau valentino rossi yang dibayar untuk mengendarai ducati. Saya dibayar untuk ngeblog!!!

Namun, aliran nasib saya ternyata belum berhenti. Sebelum menjadi corporate journalist saya juga sempat mendaftar di salah satu bumn, dan ternyata lolos seleksi. Saya pun resign dari pekerjaan kedua saya ini. Selain karena bumn ini dendanya besar kalau tidak saya ambil, orang tua saya pun menyarankan untuk mengambil yang satu ini. Jadi, dalam setengah tahun saya berganti 3 pekerjaan.

Semakin bersyukur ketika saya masuk karena ternyata yang mendaftar di bumn tersebut totalnya 12.000 orang. Semua yang ikut seleksi pun bukan orang sembarangan, rata rata sudah berpengalaman. Kalau hanya mengandalkan kemampuan saya semata sejak awal pasti saya sudah rontok. Namun karena ini adalah takdir saya dari Yang Maha Kuasa, dan dengan doa orang tua saya, akhirnya saya lolos.

Entah bagaimana nantinya hidup saya. Mengalir saja. Namun jangan seperti air. Karena air selalu mengalir ke bawah. Saya ingin menjadi air yang anomali. Saya ingin menjadi air yang bisa mengalir ke atas.

obie, 5 juni 2011, tretes -prigen, pasuruan

2011/05/14

Mengantri


Dalam suatu masyarakat keberadaan suatu "antrian" adalah hal yang wajar. Semakin ramai suatu masayarakat tersebut antrian bisa tambah panjang. Entah mengantri untuk keperluan apa.

Seperti yang saya alami tadi siang. Karena menjadi anak kos lagi otomatis saya harus membeli makanan di luar. Saya menuju warung di depan kosan saya. Fiuh, ternyata antriannya lumayan. Saya pun ikut berjubel di dalam antrian.

Setelah beberapa pelanggan dilayani, mbak penjual bertanya kepada saya, dibungkus atau makan sini? saya menjawab, ibu ini duluan mbak. Si ibu pun dilayani oleh si mbak penjual. Selesai, kembali saya ditanyai, bungkus atau makan sini? bapak ini dulu mbak gilirannya. Si mbak pun heran, la terus sampeyan gilirannya kapan? saya jawab, setelah bapak ini baru giliran saya.

Mungkin si mbak penjual heran, didulukan kok malah nggak mau. Namun saya punya pengalaman juga tentang antrian. Dulu pas saya masih kuliah di malang, sepulang dari kampus saya biasanya mampir ke warung beli makan. saya pun ikut di barisan antrian. Tapi yang menyebalkan adalah ada 2 kali orang yang baru datang langsung dilayani oleh penjual. Saya bengong setengah mangkel. Akhirnya setelah akan dilayani oleh ibu penjualnya saya pun melengos pergi. Dan itu terakhir kalinya saya menginjakkan kaki di warung itu.

Disadari atau tidak, dalam sebuah antrian, kedewasaan seseorang sebagai bagian dari masyarakat diuji. Yang merasa datang belakangan ya nggak usah ngeyel minta duluan. Yang datang belakangan dan akan didulukan, kalau masih normal, dan merasa kalau bukan gilirannya ya seharusnya menyadari. Toh cuma selisih beberapa menit. Nggak mati kalau harus berdiri antri beberapa menit lagi. Malah tambah sehat karena membakar kalori.

2011/05/04

Totalitas Sang Pengamen Transgender

Kemarin malam, seperti biasa saya dan teman saya berburu makan malam. Karena masih asing dengan Surabaya saya manut saja mau makan dimana. Kami pun menuju ke sebuah gang di sekitaran salah satu kampus di Surabaya.

Di depan salah satu warung di gang tersebut dari kejauhan nampak seseorang sedang mengadakan "pertunjukan". Setelah agak dekat, ternyata ada pria yang berpenampilan wanita sedang mengamen. Semangat sekali aksinya. Dengan dandanan yang super menor dan alat musik seadanya dengan semangat bernyanyi dan menari.

Akhirnya mbak/mas pengamen ini pun saya lewati, untuk menuju ke salah satu warung. Tak berapa lama, mbak/mas ini pun sampai ke warung tempat saya antri membeli makanan. Dimulailah lagi aksinya. Masih dengan semangat yang sama menyanyikan sebuah lagu yang saya sendiri sebenarnya tidak paham lagu apa. Toh, siapa yang peduli dengan lagunya. Melihat aksinya saja sudah bikin melongo yang melihat. Hebat sekali mbak/mas yang satu ini. Walaupun diiringi tatapan aneh orang yang lalu lalang tetap tidak mengurangi semangatnya.

Dengan kepedean yang super terus saja menyanyi dan menari. Temannya juga sesama mbak/mas hanya melhat dari kejauhan. Tingkat pd mbak/mas ini mungkin jauh lebih besar dari pada seluruh rasa pd separo penduduk surabaya ini bila disatukan.

Akhirnya si mbak/mas yang beraksi masuk ke warung. Berkata kepada si penjual untuk cepat memberinya uang. Ternyata si mbak penjual ini sudah kenal. Mungkin karena seringnya ngamen disitu. Mbak penjual pun menggoda dengan mengenalkannya kepada orang orang yang sedang antri di warung tersebut, dan menyurhnya duduk dulu. Tentu saja seisi warung memandang mbak/mas ini. Tak lama mbak/mas ini berkata kepada mbak penjual "mbak ndang kek ono ak duwit, kabeh wedi karo aku iki lo" , "mbak cepet kasih aku uangnya, semua yang disini takut sama aku". Setelah beberapa godaan lagi, akhirnya seribu rupiah berpindah tangan diiringi senyuman mbak/mas ini.

Sepulangnya saya membeli makanan saya melihat mbak/mas ini sedang mengamen lagi di sebuah toko yang sudah agak jauh dari warung tempat saya membeli makanan tadi. Masih dengan semangat yang kelihatannya sama sekali tidak berkurang. Hebat sekali totalitas seniman jalanan yang satu ini. Sayang saya tidak sempat mengambil fotonya (sebenarnya memang agak takut mengambil fotonya, hehe, jadi diurungkan niat ini).

2011/04/03

Kebiasaan Saya Akan Angka 22


Alhamdulilah dalam tes rekruitmen yang saya ikuti, saya diberikan begitu banyak kemudahan. Akhirnya saya sampai di tahapan tes kesekian yaitu tes kesehatan. Kembali saya menuju Surabaya, kota dimana tes tersebut dilaksanakan. Dan kali ini masih seperti sebelumnya, saya menumpang di kosan seorang teman.

Sampai di lokasi tes ternyata pesertanya sudah lumayan banyak berkurang. Semakin bersyukur karena masih diberikan kemudahan hingga bisa sampai tahap ini. Setelah melihat beberapa pengumuman dan menunggu sebentar akhirnya para peserta tes dipersilahkan masuk. Agak ngeri juga di dalam ruangan. Ruangan hall rumah sakit sudah ditata sedemikian rupa. Beberapa meter sebelah kanan saya terdapat tulisan di kertas ”tes darah”. Perasaan sudah mulai nggak enak. Saya termasuk kategori orang yang pobia jarum suntik, kawan. Liat jarumnya saja sudah lemas rasanya.

Hal pertama yang dilakukan adalah registrasi. Satu persatu peserta dipanggil ke depan. Akhirnya tiba juga giliran saya. Perawat menanyakan, identitas dan kartu peserta. Kemudian yang ditanyakan adalah umur. Dengan refleks saya menjawab 22 tahun. Kemudian buru buru saya ralat, eh, 23 tahun mulai hari ini, 1 april. Perawat yang satunya bertanya, wah, ulang tahun kalau gitu, sini coba liat (mengambil ktp saya dan memastikan). O iya, selamat kalau gitu, ucapnya sambil menyalami saya.

Nggak terasa sudah setahun saya menggunakan angka 22 ini. Tanpa berpikir pun otak saya otomatis menyebutkannya. Hari itu saya beberapa kali melakukan kesalahan dengan angka ini. Pada saat tes rekam jantung ketika ditanya perawatnya saya menyebutkan 22 lagi, dan baru sadar setelah tes usai. Entah bagaimana tes yang lain saya lupa saya menyebutkan 22 atau 23. Perawatnya pasti bingung waktu mengumpulkan hasil pemeriksaan karena umur saya berganti ganti. Maaf ya mbak/bu perawat, lawong saya sendiri saja juga masih bingung. Masih menyesuaikan dengan angka 23.

Ternyata tes nya lumayan lengkap. Hampir semua bagian di cek. Komplit pokoknya. Dan ketika menunggu panggilan antri tes, panitia di depan menjelaskan sesuatu, ”untuk tes darah kedua nanti 2 jam setelah makan ya, silahkan melapor kalau sudah selesai makan”. Gubrak! Ternyata tidak cukup hanya sekali darah saya diambil. Dan memang benar kata orang, disuntik itu seperti di gigit semut. Namun kelihatannya semut yang dimaksud adalah semut mutan yang memiliki gigitan yang meyakitkan. Tetap saja, disuntik itu sakit kawan.

Selamat tinggal angka 22, terima kasih sudah menemani selama setahun ini. Selamat datang sahabat baruku angka 23, mari kita sambut tantangan esok hari dengan penuh semangat.

Obie, 2 April 2011

Sambelan VS Lalapan


Bahasa ternyata memang sesuatu yang unik. Kenapa sesuatu disebut dengan sesuatu mungkin ada alasan tertentu, namun terkadang memang tidak ada alasannya sama sekali. Kali ini penyebutan bisa ditelusuri asalnya.

Pertama kali tinggal di Malang saya sempat kaget dengan salah satu makanan yang banyak dijajakan, terutama di sekitar kampus. ”Sedia Lalapan”, begitulah tulisan yang sering ditemui di warung warung kaki lima. Setahu saya yang namanya lalapan adalah sayuran bisa mentah/rebus yang biasanya disajikan dengan sambal. Ternyata disini konsep lalapan yang saya pahami tersebut berbeda. Menu utama lalapan sebenarnya bukan sayurnya, melainkan adalah lauk yang biasanya digoreng. Lauk ini bisa berupa ayam goreng (yang paling umum) baik digoreng biasa atau juga tepung ala pred ciken, bermacam macam ikan semisal lele, nila, dan yang akhir akhir ini sedang tren yaitu jamur. Heran. Kenapa kok tidak disebutkan saja ”sedia ayam / ikan/ jamur goreng” malah lalapannya yang dituliskan. Lalapannya pun kadang sekadarnya. Beberapa helai kemangi dan irisan mentimun.

Saat mencicipi tinggal di Surabaya, saya juga merasa asing dengan salah satu menu yang dijajakan warung warung kaki lima di sana. Kali ini tertulis ”Sambelan”. Makanan apa lagi ini sambelan. Dilihat dari namanya pasti berhubungan dengan sambel, pedas. Saya suka yang pedas pedas, tidak ada salahnya dicoba. Mau menebak apa sebenarnya sambelan? Tidak lain tidak bukan adalah sama dengan lalapan. Sambelan adalah ayam/ikan goreng yang disajikan dengan sambal, dan seperti biasa beberapa helai kemangi dan irisan mentimun. Saya heran dengan kedua kota ini. Jaraknya hanya beberapa puluh kilometer namun istilahnya sudah berbeda beda. Dan kali ini untuk sesuatu hal yang sama.

Jadi kawan, kalau anda di malang dan ada teman anda dari surabaya silahkan ditraktir ”lalapan”. Dan sebaliknya, kalau anda di surabaya dan ada teman anda dari malang silahkan traktir teman anda tersebut ”sambelan”. Dan jangan lupa tanyakan teman anda tersebut, enak mana sambelan atau lalapan.