2014/04/30

tambal gigi dan cabut gigi - my fear factor


 
Setiap orang pasti memiliki ketakutan masing – masing kawan. Dan bagi saya salah satu hal yang paling mengerikan adalah pergi ke dokter gigi. Padahal dua gigi saya sedang bermasalah dan perlu perawatan. Sebenarnya duluu sekali gigi saya ini pernah saya tambal. Namun akhirnya sewaktu saya kuliah tambalan ini lepas dan saya biarkan saja. Gigi yang tambalan nya lepas ini akhirnya habis dan menyisakan potongan kecil. Dan apesnya gigi bermasalah ini ternyata mengajak gigi di sebelahnya untuk bersekongkol melubangi diri. Jadilah saya memiliki 2 gigi yang bermasalah, satu sudah rontok tinggal kecil dan satunya lagi berlubang cukup ekstrim. 

Satu setengah tahun lalu gigi yang berlubang ini sakit luar biasa. Kalau pas lagi sakit tanpa terasa air mata langsung menetes, kepala berdenyut denyut. Akhirnya terpaksa ke dokter gigi. Ternyata begitu diperiksa di dalam lubang gigi saya telah tumbuh semacam daging. Dan daging ini membengkak sehingga terasa sakit. Oleh dokter diberikan obat dan diminta untuk datang lagi 3 hari kemudian. 3 hari berikutnya saya datang lagi. Walah, ternyata tempat praktek dokter bersama ini dokter giginya ada banyak. Kali ini dokter yang menangani berbeda. Saya jadi agak ragu karena ditangani dokter yang berbeda. Apalagi dokter kali ini mengatakan kalau bengkaknya tidak sembuh dicabut saja. Vonis yang membuat saya berkeringat dingin. Apalagi ini adalah gigi geraham sebelah atas yang saya perhatikan paling besar dibandingkan teman – temannya. Saya coba gerak – gerakkan pun tetap bergeming masih gagah perkasa menancap di gusi saya. Saya membayangkan alangkah sakitnya kalau dicabut. Akhirnya saat tiba saya harus kontrol lagi saya tidak datang hingga beberapa minggu lalu satu setengah tahun kemudian saya kembali ke dokter gigi di tempat yang lain.

Sebelum ke dokter gigi saya sempat melakukan riset kecil kecilan mengenai kondisi gigi saya melalui mbah gugel. Menurut berbagai sumber dari mbah gugel saya tahu bahwa di dalam gigi saya yang berlubang telah tumbuh polip. Polip ini tumbuh sebagai bentuk pertahanan tubuh untuk mencegah infeksi karena adanya lubang di gigi. Nah yang membuat riset saya menjadi mengerikan adalah untuk dapat ditambal si polip ini harus dipotong. Gubrak. Membayangkan saja rasanya sudah panas dingin. Semakin saya membaca berbagai literatur tentang si polip ini saya semakin takut ke dokter gigi. Namun karena saya sedang berencana mengikuti sesuatu hal, dan di tempat tersebut menurut informasi dari teman yang sudah berangkat terlebih dahulu biaya kesehatan termasuk pemeriksaan gigi cukup mahal akhirnya saya merencanakan untuk segera memeriksakan gigi saya.

Setelah mensurvei orang – orang sekantor akhirnya saya mengerucut ke satu dokter gigi. Menurut informasi katanya sudah cukup senior dan sekaligus dosen di kedokteran gigi. Walaupun bukan di tempat yang dicover oleh asuransi kantor tidak masalah. Yang penting gigi saya berada di tangan yang tepat. Dalam proses survei banyak cerita cerita tragis tentang cabut gigi yang gagal sehingga bengkak dan sebagainya. Beberapa kali saya membuat rencana ke dokter gigi dan selalu saya batalkan sendiri secara sepihak karena mendekati hari H badan saya panas dingin deg degan, hehe. Sempat terpikirkan untuk menggunakan jasa hipnoterapis agar saya berani ke dokter gigi. Terdengar lebay ya? Hehe. Namun kelebayan harus berhenti karena browsing sana – sini jasa hipnoterapis lumayan mahal. Untung saya sempet diajarkan cara self hipnosis bulan sebelumnya sewaktu pelatihan. Beberapa malam saya mencoba menghipnotis diri saya sendiri. Hasilnya? Gagal total.

Akhirnya suatu hari tanpa rencana selepas lembur kerja saya meluncur ke dokter gigi. Saya ceritakan kondisi gigi saya kemudian pak dokternya memeriksa secara langsung. Dia memberikan dua alternatif untuk gigi geraham saya yang berlubang dan ada dagingnya. Dicabut atau dirawat. Kalau dirawat memerlukan sekitar tiga kali kunjungan. Saya pun menanyakan bagaimana nasib daging di dalam lubang tersebut. Pak dokter menjelaskan nanti akan diberikan obat sehingga jaringan di dalamnya mati. Kedengarannya tidak terlalu mengerikan, akhirnya saya memilih dirawat saja. Lubang gigi saya dimasuki obat kemudian ditambal sementara. Aneh juga sebenarnya. Karena biasanya saya sentuh sendiri sakit si daging ini, pada saat diperiksa dan dimasuki obat tidak sakit. Kunjungan pertama ke dokter gigi ini berjalan lancar aman dan terkendali.

Tiga hari kemudian kunjungan kedua ke dokter gigi. Na ini dia saat yang agak mengerikan. Gigi saya yang berlubang diperiksa kembali. Entah kapan dan bagaimana karena saya merem ketakutan pak dokter berkata ini dagingnya mas sudah saya ambil ya, sambil menunjukkan semacam pinset yang ada dagingnya. Gubrak. Setelah dibersihkan dan dibor sana sini gigi saya yang berlubang kemudian ditambal sementara kembali. Setelah selesai dengan gigi yang berlubang pak dokter menyarankan gigi yang rusak disebelahnya untuk dicabut. Karena memang bengkak setelah gigi yang berlubang dirawat. Setelah saya pikir pasti gigi tinggal seiprit ini nggak sakit saat dicabut. Saya pun menyetujui. Dokter meminta anestesi ke asistennya. Ampun. Liat suntiknya dah panas dingin saya. Akhirnya merem saja dan berdoa. Terasa ada yang tajam menyentuh gusi saya. Seperti digigit semut kata orang bilang. Tapi jangan sekai kali percaya awan, rasanya sakit. Dua atau tiga kali saya disuntik. Terasa juga saat obat keluar dan menelusup diantara gusi. Brr. Dibiarkan sebentar menunggu reaksi bius bekerja. Kemudian tes obat biusnya. Gusi saya semacam ditusuk. Pak dokter bertanya, masih terasa sakit? Saya pun mengiyakan. Dokter pun berkata lagi ke asisten, anestesi. Gubrak. Lagi?? Pingin kabur saja sebenanrya tapi sudah terlanjur basah. Akhirnya 2 atau tiga suntikan lagi mendarat. Bibir saya yang memang tebal terasa semakin tebal. Bahkan sedikit bagian hidung saya seolah – olah hilang dari wajah saya. Namun efeknya lumayan. Sekarang kayanya area mulut sebelah kiri saya kebal rasa sakit.

Sekarang giliran alat mengerikan lainnya bekerja. Pak dokter meminta semacam tang dari suster. Gigi saya yang tinggal seiprit kemudian dicoba untuk dicabut. Dan ajaibnya gigi seuprit ini bandel sekali. Pak dokter sampai berkali kali ganti berbagai jenis tang. Saya yang sesekali merem dan melek melihat dengan ngeri. Akhirnya terasa sesuatu dengan susah payah ditarik dari gusi saya dan menghilang. “akarnya panjang mas” kata pak dokter. Ternyata gigi seuprit ini menipu saya. Untunglah berhasil tercabut. Saya kemudian diminta untuk menggigit sesuatu semacam kapas selama satu setengah jam dan menebus obat di apotik.

Beberapa kali setelah gigi dicabut saya meludah merah darah. Sekitar dua jam kemudian di kos saya penasaran dan melepas kapas yang katanya digigit sejam ini. Walahdalah, darah dimana mana kawan. Perlahan lahan nyut nyut ringan juga terasa. Saya mencoba untuk merem walau sesekali meludah karena banyak darah dan air liur. Besoknya nyut nyut sudah menghilang. Dan oonnya saya merasa sudah sembuh padahal belum. Siangnya langsung saya tes dengan seporsi besar betutu yang pedas dan penuh rempah. Otomatis bumbu dan entah benda apa lagi nempel di bekas cabutan gigi. Hal ini reflek membuat saya berkumur agak kuat yang semestinya tidak boleh dilakukan.

Besoknya seharusnya saya kontrol lagi memeriksa tambalan sementara saya. Tapi ternyata ada tugas dari kantor ke surabaya. Ya sudahlah, sekalian pulang kampung. Di surabaya gigi saya yang belum sembuh ini saya tes lagi bebek sinjay di madura. Pas. Entah mungkin karena kecapekan akhirnya kondisi saya tidak fit. Tenggorokan terasa panas dan agak flu. Kondisi ini terasa sampai saya kembali ke bali 3 hari kemudian. Esoknya saya periksakan lagi gigi saya yang terasa agak aneh ke dokter gigi sekalian cek tambalan sementara saya.

Kembali lagi saya bersandar di bawah lampu menyilaukan kursi periksa dokter gigi. Kayaknya pak dokter nya membawa berita buruk. Tambalan sementara saya agak infeksi sehingga belum berani ditambal permanen dan kembali diberi obat. Untuk bekas gigi saya yang dicabut juga bermasalah. “Sering begadang mas? Sempat demam?” tanya pak dokter. Saya cuma mengangguk angguk pasrah. “hmm, saya rawat lagi ya bekas cabutannya agak infeksi, seharusnya sudah menutup lukanya namun karena kondisi tubuh tidak bagus agak bermasalah” ujar pak dokter. Kembali saya mengangguk pasrah. Namun hal yang mengerikan dan tidak terduga terjadi. “anestesi” ujar pak dokter ke suster. Halooo, nggak salah denger? Anestesi? Dengan tampang memelas saya pun bertanya, “disuntik lagi dok?”. “sedikit, tenang saja, rileks” jawab pak dokter. Ampun. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain berdoa dan pasrah. Kembali 2 kali suntikan mendarat digusi saya. Entah diapakan lagi gusi bekas cabutan gigi saya. Kembali setelah itu saya harus menggigit kapas sama seperti awal gigi baru dicabut. Sampai kos segera saya tidur agar gigi ini tidak sempat terasa nyut nyut.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya kali ini gigi saya perlakukan dengan sangat halus. 3 hari saya makan bubur dan lontong. Berkumur sangat pelan dan hati – hati. Setiap ingin makan yang aneh – aneh saya teringat jarum suntik berkilat di bawah lampu periksa. Akhirnya setelah tiga hari saya makan makanan normal dengan pelan dan menghindar dari lokasi cabut gigi. Sekarang saatnya periksa kembali. Deg degan juga setelah kunjungan sebelumnya kondisi gigi saya memburuk. Alhamdulilah kunjungan kali ini sebaliknya. Gigi saya yang berlubang akhirnya bisa ditambal permanen. Setelah saya lihat tambalan raksasa melindungi gigi saya. Bekas cabut gigi juga bagus namun belum sempurna harus hati hati lagi. Tinggal satu proyek lagi, memberihkan karang gigi. Nantilah setelah benar benar sembuh karang di gigi saya diberantas.

Akhirnya sesi mendebarkan 4 kali ke dokter gigi terlewati. Nah bagi kawan semua yang sedang browsing tentang sakit gigi dan nyasar ke blog saya berikut beberapa tips:
1.      Sebisa mungkin lubang gigi ditambal semakin awal semakin baik. Semakin lama semakin mengerikan penanganannya.
2.      Apabila menurut anda tindakan yang akan dilakukan menakutkan silahkan cari second opinion ke dokter lain.
3.      Lubang gigi besar dengan polip di dalamnya masih bisa ditambal lo. Lumayan daripada ompong dan tidak bisa makan kacang lagi.
4.      Cari rekomendasi dokter gigi yang bagus. Jangan sungkan tanya – tanya dokter gigi recomended di kota anda.
5.      Jangan berkumur kuat di bekas cabut gigi karena akan merusak jaringan yang baru akan terbentuk untuk menutup lubang bekas cabut gigi.
6.      Selamat memeriksakan gigi, semoga cepat sembuh : )

9 comments:

Kratingdaeng said...

Kita sehati, masalah kita sama. Fear factor yang nomer 1 adalah jarum suntik apalagi di gigi. Sampe sekarang masih ada lubang yg dibiarkan hingga pilar ketakutan akan roboh.

Handika said...

Saya baca ini keluar air mata sambil ketawa sedih. Gigi geraham kiri saya bolong arah lubangnya dr depan ke belakang, kelihatan putih2nya, kalau lg congkel butiran nasi & kesenggol - aduuuh... nikmatnya... Masih takut nih. Ragu jg, mau tambal atau cabut. Biayanya berapa ya?

blog e obie said...

dulu saya juga gitu , nikmat ngilu sampai nangis pas kemasukan butiran nasi, kalau saya biayanya sekitar 150 sekali datang belum termasuk obat

Wira Lazuardi said...

nice sharing...saya juga sudah cabut gigi geraham depan dan akan tambal geraham belakangnya...emang rasanya nyot-nyot tapi selesai cabut dan tambal plong..makan jadi enak lagi..

inue susilawati said...

nice post....lagi deg2an juga....pengen ke dokter beresin ni gigi...tapi pengen nangis juga rasanya, taakut gak kuat hiiyyy

HAN and REN_SHOP said...
This comment has been removed by the author.
Eisel Oyoz said...

Bikin trauma Y_Y
Jarum suntik.a berkali-kali mendarat k gusi tanpa kompromi T_T
Mending d bius total Y_Y

Husnun Afifah said...

Aku mau tanya, waktu di tambal nya sakit atau linu ga? Dibius ga? Hhe

Sepeda said...

Thx infonya