2013/01/29

Membuat Dry Box Kamera Murah, Efektif, Tested dengan Hygrometer

Membeli kamera DSLR ternyata buntutnya panjang kawan. Bukan hanya aksesorisnya yang seabrek dan menggiurkan dan tentu saja harganya lumayan mahal, kamera ini juga memerlukan perlakuan khusus dalam penyimpanannya. Setelah baca – baca berbagai artikel tentang lensa jamuran saya jadi lumayan ngeri juga. Ternyata lensa bisa panuan juga kawan. Dan kalau sudah ada bakal jamur di lensa, tinggal tunggu waktu jamur tersebut berkembang dan menjalar di permukaan lensa. Efeknya? Yah bayangkan saja mata kawan jamuran. Pasti nggak bisa melihat dengan jelas kan?

Ditambah lagi kamar saya lumayan lembab. Sinar matahari terhalang oleh jajaran kamar kos depan dua lantai membuat kamar saya hanya kebagian seuprit sinar matahari. Jaket kulit yang saya gantung saja dijangkiti fungi ini. Kalau jaket kulit sih masih bisa ditanggulangi dengan dilap dengan agak keras. Kalau lensa? Harus diperbaiki. Dan tidak murah.

Browsing sana sini akhirnya sampailah saya di toko – toko online yang memajang drybox untuk kamera. Kotak plastik ini dari sononya memang didesain untuk menyimpan kamera. Harganya bervariasi dari yang paling kecil seharga 300 ribuan sampai jutaan. Karena sudah didesain khusus, kamera ini juga dilengkapi dengan alat mengukur kelembaban atau hygrometer dan penyerap lembab silica gel. Versi mahalnya malah memakai silica gel listrik.

Mau simpel dan kamera awet? Gampang. Beli saja drybox jadi. Namun saya memerlukan jurus kere aktif. Ditambah lagi pengeluaran bulan ini sudah lumayan jadi harus agak mengencangkan ikat pinggang. Harus dicari alternatifnya. Jadilah saya keluar masuk supermarket melihat lihat toples semacam Tupperware. Dan ternyata sejenis Tupperware dan lock and lock juga tidak murah kawan. Kedua jenis ini lumayan kedap. Namun  harganya selisih sedikit dengan drybox asli, fiuh. Akhirnya nemulah semacam toples kerupuk, hehe. Untuk lebih menyamarkan toples kerupuk ini saya memilih yang kotak. Ada sejenis yang bulat tapi terlihat sekali kalau toples kerupuk, hehe. Tutup toples ini tidak memiliki pengait seperti lock and lock namun lumayan lentur dan rapet. Dan satu hal yang penting. Harganya terjangkau ukurannya besar. Toples ini saya boyong seharga 35 rb rupiah.

Setelah toples berhasil didapat buruan saya selanjutnya yaitu penyerap lembab. Saya bingung dimana membeli silica gel. Banyak sih toko online yang menyediakan. Namun karena saya butuhnya cepat akhinya saya akali dengan penyerap lembab untuk lemari / ruangan. Kawan semua bisa memperolehnya di supermarket bagian kapur barus dan semacamnya. Harganya 10.500 rupiah. Sekalian saya beli refilnya seharga 10.000 rupiah tiga bungkus.

Saatnya merangkai. Penyerap lembab saya tempatkan di dasar toples. Toples saya bagi dua atas dan bawah. Untuk sekat diantara keduanya saya memakai kardus. Pastikan antar kardus masih ada rongga sehingga udara bisa bersirkuasi. Kamera saya letakkan di bagian atas.

Sampai tahap ini toples drybox sudah bisa digunakan namun masih ada yang mengganjal. Sebenearnya berapa sih kelembaban di dalam toples? Kan nggak lucu juga saya susah payah menyiapkan tempat, eh ternyata kelembaban di dalam toples masih jelek. Akhirnya saya memesan hygrometer di salah satu seller online. Hygrometer saya beli setelah ditambah ongkir menjadi 50rb rupiah. Hygrometer saya letakkan di ruang kamar saya. Tara, ternyata kamar saya memang lembab kawan. Kelembaban 80 persen. Padahal kelembaban normal 40-60 persen. Hygrometer pun saya masukkan toples drybox saya. Hasilnya? Kelembaban di dalam toples hanya 20 persen saja. Hehehe. Proyek Toples drybox ini lumayan berhasil.

Jadi rincian biaya untuk membuat toples drybox ini:
Toples                    : 35rb
Penyerap lembab    : 10500
Refil penyerap lembab: 10500
Hygrometer             : 50rb
Total                        : 106rb

Ternyata biayanya kurang dari sepertiga drybox asli. Apalagi dengan ukuran yang lebih besar. 106 ribu rupiah tentu jauh lebih murah dari harga kamera yang mungkin saja bisa rusak karena lembab.

Demikian, semoga bermanfaat.

7 comments:

Arif Furqan said...

kalo aku pake wadah seperti tupperware lalu aku sertakan lampu 5watt utk menjaga suhu,
efektif utk dry box
juga bisa menjadi obat mujarab ketika kamera basah kehujanan, atau barang2 elektronik lainnya

hpku yg terendam aku masukin drybox sehat kembali
jam tangan kena hujan juga,

intinya suhu di dalam tetep hangat dan kedap udara

blog e obie said...

iya pernah denger metode ini.. tp masih binngung mengira ngira lampunya brp watt trus jarak brp soanya kalau kepanasan malah bikin melar karet2.

Anonymous said...

Suhu hangat (35-40 C) malah menjadi suhu ideal bagi jamur.
Pd suhu rendah (20-25 C) jamua akan hibernate, tidak mati tp jg tidak akan berkembang.
Idealnya cukup pake silica gel aja. Kalo pake lampu tar berakibat pd daya tahan karet berkurang. Lampu yg terlalu panas jg akan mengakibatkan penguapan pd silica gel. Kl box kedap udara maka uap air akan terjebak dlm box, gak bisa keluar.
Jd sebaiknya gak usah pake lampu.

gladys franatha said...

Misi numpang tanya..agan beli hygrometernya dimana ya??

Arik Buchy said...
This comment has been removed by the author.
Arik Buchy said...

Iya mas, saya bingung klo pke lampu pasti ada kabelnya.. klo di tutup rapat kabelnya pasti kjepit,, klo tidak rapat, udara pasti msuk..
Klo pke daun teh gmna mas ?? Apakah bnar bsa mnyerap klembabpan ya ??

Arik Buchy said...

Iya mas, saya bingung klo pke lampu pasti ada kabelnya.. klo di tutup rapat kabelnya pasti kjepit,, klo tidak rapat, udara pasti msuk..
Klo pke daun teh gmna mas ?? Apakah bnar bsa mnyerap klembabpan ya ??