
Sengaja kali ini judulnya pendek. "Kalau buat judul jangan panjang-panjang... kalau bisa dibawah tiga kata", begitu petunjuk pak pemred sewaktu memeriksa tulisan saya.
Sebelum akhirnya menjadi wartawan, saya punya gambaran sendiri tentang profesi yang satu ini. Menjadi wartawan itu mengabadikan sebuah momen kedalam untaian kata dan gambar. Sebuah profesi yang sangat saya inginkan. Mengingat saya suka menulis dan mengamati sesuatu.
Namun, wartawan bukanlah sebuah profesi. Lebih dari itu. Untuk menjadi wartawan harus lebih dari sekedar "ingin". Butuh tekad yang besar untuk bisa melakoni pekerjaan ini. Sedikit saja kegamangan timbul, kita bisa mundur (seperti saya..hehe).
Menjadi wartawan butuh otak yang lumayan encer. Minimal seorang wartawan pemikirannya harus selevel dengan narasumber. Lebih tinggi lebih baik. Tidak lucu ketika interview wartawannya malah ak uk ak uk nggak bisa diajak ngomong.
Selanjutnya anda perlu fisik dan mental superman untuk menjadi wartawan. Dan benar seperti yang diceritakan oleh five for fighting bahwa menjadi Superman is not easy. Nggak boleh sakit. Tidak ada waktu untuk sekedar demam atau pilek. Panas, hujan, badai tidak boleh menghambat. Ingat, koran harus terbit. Fisik superman juga diperlukan karena jam kerjanya panjang. Mm.. lebih tepatnya sangat panjang. Dan ini yang menyebabkan saya KO. KO tidak hanya secara fisik, namun juga mental. Terlalu lamanya saya di luar, kadang saya berpikir kehidupan saya sendiri hilang.
Dan terakhir, tidak terlepas pula soal materi. Tidak perlu saya ceritakan berapa gaji wartawan. Silahkan di search sendiri di google. Banyak yang sudah membahas hal ini. Dan jangan kaget membacanya.
Namun saya salut sekali dengan wartawan. Apalagi wartawan yang bersih. Karena sungguh tidak mudah. Beban kerja dan tingkat stress tinggi. Jam kerja panjang, dan gaji, ya begitulah. Salut saya kepada para senior yang sudah bertahun tahun menekuni bidang ini.
Sekarang, biarlah menulis hanya sekedar hobi untuk saya. Sebagai tempat untuk mengasah sisi intelektualitas diri saya. Dan anda yang bercita cita menjadi wartawan, silahkan, teruskan. Siapa tahu anda cocok dengan profesi yang satu ini. Bersiaplah untuk mendapatkan segudang pengalaman menarik di dalamnya.
2010/12/29
Wartawan dimata saya
Satu tahap lagi dalam hidup terlewati

Rasanya sudah lamaaa sekali nggak ngeblog, walaupun baru seminggu lebih. Terlalu banyak hal terjadi, terlalu banyak yang diingat membuat hari terasa begitu lama. Selama seminggu saya mendapatkan pengalaman baru. Berawal dari diterimanya saya menjadi wartawan di salah satu koran lokal yang juga merupakan bagian dari koran yang cukup terkenal di Indonesia (akan saya ceritakan di artikel selanjutnya).
Yang jelas sekarang saya merasa lebih mensyukuri hidup. Begitu banyak masalah yang terjadi di luar sana. Saya benar - benar belajar banyak hal. Dan syukur, saya tidak perlu mengalami hal tersebut untuk mendapatkan hikmahnya. Ternyata hidup saya selama ini sempurna! terlepas dari kekurangan dan kegagalan yang pernah saya alami.
Dulu saya sangat ingin sekali menjadi wartawan. Alhamdulilah sudah dikabulkan. Setelah saya sempat mencicipi, saya sadar kalau ini bukan hidup yang saya inginkan. Satu lagi teori dalam hidup ini yang saya temukan. Apalah yang diketahui manusia dari keinginannya. Kadang kita sendiri pun tidak tahu apa yang kita inginkan, apa yang kita sukai. Kadang kita mengira menyukai sesuatu yang sebenarnya tidak disukai. Aneh kan? Jalan keluar terbaik adalah meminta kepada Sang Pencipta, berdoa. Karena apa yang diberikan kepada kita bukanlah apa yang kita inginkan, namun sesuatu yang kita butuhkan, sesuatu yang terbaik untuk kita.
Setelah saya pikir matang-matang, akhirnya saya pun mengundurkan diri. Sebenarnya tidak enak juga. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk sekedar coba - coba atau bermain - main. Saya serius, sangat serius malah. Namun semakin hari saya semakin menyadari kalau saya tidak terlalu cocok dengan pekerjaan ini. Dan kalaupun diteruskan, saya takut saya tidak bisa melakukan pekerjaan saya ini dengan baik, karena ada perasaan yang mengganjal.
Masih ada satu lagi cita cita yang tersisa. Namun, saya sendiri pun tidak tahu apakah ini juga benar benar yang saya inginkan. Yang jelas, berusaha untuk terus belajar. Berusaha untuk mencari lagi kesempatan. Siapa tahu saya menemukan yang cocok, dan bisa saya jalani dengan baik. Semoga saja. Aminn.
2010/12/09
Pak Pos si pengantar asa

Fiuh, mendaftar cpns itu memang lumayan ribet. Sebelum mendaftar terlebih dulu harus mengumpulkan syarat syaratnya. Entah itu materai, sampai dengan keterangan mencari kerja. Memang aneh, sudah jelas saya ini mencari kerja, ee masih perlu juga surat yang membuktikan saya ini sedang mencari pekerjaan. Setelah persyaratan lengkap berkas lamaran pun dikirimkan melalui pos. Selesai. Selanjutnya yang bisa dilakukan adalah menungu. Menunggu dan menunggu. Ternyata balasan surat yang juga berisi keterangan bisa ikut tes atau tidak lama sekali datangnya. mungkin karena saya mendaftar di kabupaten yang berbeda. Makanya waktu yang diperlukan juga lumayan lama.
Hari ini, dua hari menjelang tes, akhirnya saya datang ke kantor pos kecamatan setempat. Saya menanyakan surat balasan cpns. Pak petugas menjelaskan kalau surat baru saja diambil petugas pos keliling. Saya pun pulang. Di jalan saya menjumpai sosok berwarna orange menyala. Wah, pak pos!! akhirnya drama kejar kejaran pun terjadi. Ajaibnya pak pos ini cepat sekali menghilang. Dengan honda supra fit kendaraan dinasnya lincah meliuk liuk gang gang sempit. Sesekali saya kehilangan jejak karena terhambat lalu lintas. Ketemu lagi sosok orange langsung saya kejar lagi. Asem, kesekian kalinya saya kehilangan jejak. Ya wislah, akhirnya saya memutar, pulang saja. Ternyata takdir memang misteri. Yang tadi dicari cari nggak dapet dapet, ee sekarang mau ditinggal pulang ternyata pak pos tersebut nongol di belakang saya, entah darimana. Alhamdulilah.
Akhirnya setelah saya panggil pak pos tersebut menepi. Saya menanyakan surat balasan cpns. Alhamdulilah ternyata surat untuk saya ada. Saya juga menanyakan 2 surat lain dari kabupaten yang berbeda. Ternyata belum ada. Ya sudahlah. Semoga yang lainnya besok sudah sampai. Amiin.
Terima kasih pak pos, si pengantar asa.
2010/11/16
Alhamdulillah, artikel pertama saya di media cetak
Bagi bro yang berada di area jawa timur dan berlangganan Harian Surya, mungkin kemarin (selasa, 16 november) sempat membaca artikel mengenai blog. Artikel itu ditulis oleh Muchamad Robby aka juragan blog ini..hehe. Sebenarnya saya cuma iseng menulis sesuatu dan kemudian mengirimkannya ke harian surya. Ee.. lakok kemarin saya liat ternyata dimuat. Alhamdulillah. Seneng rasanya. Bayangkan berapa ribu eksemplar yang dicetak tiap hari, dan kemarin artikel saya nongol di setiap eksemplarnya.Tulisan saya banyak yang diedit..hehe. Bingung sebenernya. Di ketentuan ditulis harus sesuai ejaan yang disempurnakan. Nulisnya saya ati ati saya pikir sebaku mungkin, tp ternyata yang dimuat justru agak tidak baku..hehe. Tapi memang lebih luwes dan enak dibaca.
Ini penampakan artikel saya di harian Surya:
2010/11/09
Aneh, Putri Indonesia Belajar Bahasa Indonesia
Xixixixi, membaca jawapos hari ini ada sesuatu yang menggelitik. Di halaman show dan selebriti terpampang jelas judul artikel putri indonesia belajar bahasa indonesia. Bagi saya kok aneh ya? putri indonesia kok nggak bisa bahasa indonesia. Pasti ini nggak tahu sumpah pemuda,
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Menurut saya putri Indonesia yang dulu, yang nggak bisa berbahasa Inggris jauh lebih mencerminkan rasa Indonesianya. Wajar lah orang Indonesia nggak bisa bahasa inggris. Na ini? malah kebalikannya. Memang sih, lahir dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di inggris membuat putri indonesia yang sekarang lebih inggris dari pada indonesia. La trus? kok jadi putri Indonesia?
Pertanyaan - pertanyaan aneh aneh yang lazim ditanyakan di setiap kontes putri putrian atau kontes kecantikan lainnya sebaiknya dirubah. Terutama yang mewakili bangsa, seperti putri indonesia. Pertanyaan diganti dengan pertanyaan lain untuk menggali seberapa indonesia kah kontestan tersebut. Sudah nggak jamannya lagi pertanyaan misalnya "kalau anda diberi kesempatan untuk terlahir kembali, anda ingin menjadi siapa" atau pertanyaan tentang global warming misalnya. Sudah terlalu umum. Mending dicari di Google saja dari pada ditanyakan. Putri Indonesia juga nggak harus berwajah londo alias bule. Justru yang hitam manis, tidak terlalu tinggi malah menurut saya indonesia banget. Kalo wajahnya bule kenapa nggak dinamakan putri bule saja?
Sering saya baca kalau putri indonesia membawa misi untuk mengenalkan Indonesia di dunia internasional. Na, kalo yang mengenalkan saja "agak' indonesia bagaimana bisa mewakili indonesia yang sebenarnya? di indonesia nggak ada yang jjs ke pantai sempakan plus bh alias bikini, tapi di pentas putri putri ini "mewakili" orang indonesia dengan busana demikian. Kalau niatnya mewakili sebaiknya disesuaikan dengan kondisi riil yang ada di indonesia. Sebodo amat menang kontes atau nggak. Kenapa harus ikut ikut budaya orang lain hanya untuk sebuah gelar?
Mau alay malah apes...hehe
Sebenarnya kejadiannya agak lama. Sekitar minggu yang lalu. Tapi berhubung kabel data kamera baru ketemu jadi baru bisa posting sekarang. Minggu lalu selesai wisuda saya nggak bisa foto foto di kampus karena cuaca mendung mengancam. Akhirnya dibuatlah rencana keesokan harinya untuk foto foto tentu saja dengan memakai toga, hehe. Keesokan paginya, saya buru buru beli mmc buat kamera. Batrei sudah juga sudah di charge. Sampe dikampus ternyata hujan sudah turun rintik rintik. Gpp lah, wong cuma grimis. MMC baru yang masih kinyis kinyis dimasukkan ke kamera. Loh, lakok nggak ndetect. No memory card tulisannya. Asem. Ternyata memang kameranya yang eror. Sebelum ini kamera aneh ini sudah sukses membuat 1 msd saya yang juga masih kinyis kinyis eror dan rusak. Akhirnya pakai memori internal saja. Piksel di set ke rendah agar muat agak banyak. Selama saya ngutek2 kamera ternyata hujan tambah deras. Ya sudahlah. Ditunggu sampe agak reda. Setelah agak reda dikit, hanya beberapa jepret sudah hujan lagi. Acara foto foto berubah menjadi acara berteduh. Hujan masih rintik rintik satu teman saya nekat pulang. Saya dan satu teman yang lain masih menunggu. Ternyata ini adalah strategi yang salah. Tambah sore hujan tambah deras. Perut yang kriuk kriuk memaksa untuk nekat saja menerobos hujan.
Sampai gerbang kampus tambah menggila. Akhirnya diputuskan berteduh lagi. Perut tambah kriuk kriuk. Untunglah di kejauhan ada bapak penjual bakmi sedang menata dagangannya. Meluncurlah kami kesana. Baju sudah 3/4 basah, tapi nggak papa wis. Ternyata rasa bakminya lumayan normal. Entah berapa kali saya lewat di sekitar situ tapi tidak pernah ada keinginan mampir mencoba bakmi si bapak ini. Setelah makan beres cuaca pun mendukung. Lumayan reda, akhirnya bisa pulang.
hasil jepretan:




2010/10/31
hari yang panjang
Kemarin, selesai wisuda, menyelesaika urusan perut, leyeh leyeh sebentar, hp saya berbunyi. Mas mukhtarom sms dan dilanjutkan dengan telepon mengabarkan kalau ada kopdar blogger di masjid sabilillah blimbing. Sebenarnya masih capek, tapi kok ya eman. Akhirnya saya datang. Menyenangkan bisa bertemu teman - teman baru yang sehobi. Biasanya saya tergolong alay sendiri. Kemana mana bawa kamera, foto motor sana sini, ee... lakok kemarin saya merasa "normal", hehe. Malah saya alay karena nggak bawa kamera. Pas tuker tukeran saling mencoba motor semua spontan mengeluarkan kamera. Ya sudah, saya ngowoh tok. Setelah puas touring keliling kota Pak Wiro mengajak karaokean. Sebenarnya tadi ada rencana mau karaokean sama teman teman, tapi nggak jadi, malemnya lakok keturutan. Akhirnya begadang jangan begadang kalau tiada artinya terjadi. Sampe kosan sudah larut malam. Hampir pagi lebih tepatnya. Karena suara klotak klotek ibu kos sampe bangun (maaf bu ya..hehe). Setelah sholat waktunya tidur. Terlalu banyak hal yang terjadi membuat saya sulit terlelap. Kejadian kejadian sepanjang hari seperti terputar kembali. Mulai wisuda saya yang gj sampai kopdar blogger otomotif. Namun, karena capek akhirnya saya tertidur.
Pagi setelah sholat saya tidur lagi. Masih proses mau merem ada sms dari teman menanyakan rencana hari ini. Saya dan dua teman berencana foto foto wisuda di kampus. Lo kok? iya, wisudanya memang kemaren. Tapi belum sempat foto foto karena terburu buru ke studio foto dan keburu hujan. Hari ini rencananya membawa toga lengkap mau mereka ulang kejadian kemarin. Ee.. lakok ada masalah. Kamera saya eror. MMC yang baru saya beli nggak detect. Masalah kedua hujan mulai turun. Klop. Akhirnya karena mmc nya gak bisa kepake saya mengandalkan memori internal. Lumayan. Cukup untuk 20 an jepretan. Akhirnya di bawah rintik2 hujan sesi foto2 dimulai. Gak page toga, cuma topinya saja untuk mempersingkat waktu. Masih beberapa jepretan hujan tambah deras. Pos pak satpam terdekat menyelamatkan saya dan teman dari hujan. Ketika agak reda satu teman saya pulang. Nah, kesalahan hari ini dimulai. Seharusnya saya ikut pulang. Namun, karena serakah pingin beberapa jepret lagi sekalian menunggu benar benar kering akhirnya diurungkan. Ternyata hujan tambah menggila. Deras pol. Dan hujan ini bertahan sampe sore. Fiuh. Akhirnya diputuskan untuk nekat saja ketika hujan agak reda. Tapi, ketika akan keluar dari gerbang kampus, hujan kumat lagi derasnya. Saya menepi di kantin yang sedang tutup. Basah, dingin, kelaparan melanda. Untung ada bapak penjual nasi goreng dan bakmi sedang bersiap siap. Akhirnya, belum juga persiapannya beres saya sudah menyerbu. Sepiring bakmi lumayan menambah sedikit tenaga. Hujan juga mulai reda. Tinggal rintik rintik. Akhirnya bisa pulang juga.
Malemnya jadwal ke kosan lama mengembalikan sprei yang terbawa alias katut. Sekalian menjenguk adik teman saya yang sakit. Sampai kosan teman sudah jam 9 lewat. Batrei saya mulai lowbat. Ngubek ngubek lowongan kerja cuma nemu beberapa yang menarik, tambah bikin ngantuk.Akhirnya pamit pulang. Sampe kos saya sempatkan menulis ini dulu. Sekarang waktunya tidur....huaamhh..
