2012/08/12

Berdagang Jangan Berdagang Kalau Banyak Bohongnya

Salah satu profesi yang mungkin tertua di dunia mungkin berdagang. Entah dulu bagaimana cara berdagang dilakukan. Entah dengan menukar barang satu dengan yang lain atau dengan sesuatu benda yang bernilai sebagai standar nilai tukar. Sampai sekarang pun berdagang masih dilakukan tentunya dengan cara yang semakin beragam dan juga memanfaatkan teknologi canggih.

Salah satu yang menggelitik saya dari urusan dagang berdagang ini yaitu bagaimana cara si penjual meyakinkan pembeli. Beberapa waktu lalu saat berburu hp saya coba melihat – lihat hp second di salah satu daerah sentra jual beli hp di bali. Akhirnya saya mulai tertarik pada salah satu counter. Barang secara fisik masih mulus bagus. Harga juga tidak terlalu tinggi dan masih bisa ditawar. Garansi barang pun masih panjang dari garansi resmi. Sangat menarik. Namun saya memutuskan untuk tidak jadi beli. Kenapa? Karena si mas penjual semangat sekali meyakinkan saya. Mungkin secara ilmu marketing hal ini bagus ya? Berusaha meyakinkan calon customer bahwa produk yang dimiliki bagus. Tapi saya bukan tipe orang yang suka dengan cuap – cuap iklan kecap seperti ini. Semakin bersemangat penjual menawarkan sesuatu entah kenapa saya semakin curiga. Pasti ada apa – apanya. Pasti ada sesuatu yang berusaha disembunyikan. Walaupun mungkin kadang si penjual memang sedang menjual barang yang bagus. Kecurigaan saya semakin besar ketika sepuluh menit disitu terdapat kurang lebih lima orang yang komplain barangnya bermasalah. Si mas penjual kelihatan sangat kecewa ketika saya memutuskan melangkah keluar. Sudah berbusa busa ternyata nggak jadi, begitu mungkin pikirnya.

Lebih logis masuk ke kepala saya kalau si penjual melakukan metode apa adanya. Begini kondisinya mas.. kekurangannya ini blab la bla, namun secara umum kualitasnya masih bagus toh ada garansinya. Dan dengan penjual yang tidak terlalu banyak cuap cuap seperti ini akhirnya saya deal, barang berpindah tangan.

Pengalaman saya selanjutnya ketika hunting laptop di salah satu mall pusat IT. Di mall ini cara kerja salesnya agak ekstrim kawan. Enggak beda jauh dengan makelar penumpang di terminal Bungurasih Surabaya. Akhirnya saya mampir ke salah satu kios yang penjualnya kelihatan pasrah menunggu pembeli. Tanya sekilas lumayan, harga cukup miring. Terdapat dua penjual, mas dan mbak, di kios tersebut. Saya terlebih dulu tanya tanya harga ke mas nya. Sekilas harganya cukup lumayan lebih murah. Akhirnya setelah tanya ini itu saya mengulangi pertanyaan yang sama ke si mbak. Dan lucunya si mbak ini memberikan harga yang cukup mahal ditambah penjelasan, di tempat lain nggak ada mas yang semurah ini. Hehe, terlihat sudah, kurang koordinasi. Langsung saya sikat, saya jelaskan kalau si mas memberikan harga yang lebih murah. Si mbak melirik masnya dengan cemberut, campur malu tentunya. Sekalian serang saja, harga saya tawar lebih murah lagi dari yang ditawarkan masnya. Babat habis, gak pake bonus bonusan mbak, saya bilang. Si mbak akhirnya terpojok dan menyebutkan harga. Dan setelah saya muter – muter memang standar harganya di kisaran itu. Namun yang jelas saya tidak beli di situ. Saya hampir saja dibodohi kawan.

Dunia berdagang dan tawar menawar memang unik kawan. Setiap penjual pasti menjelaskan kalau kecapnya nomor satu. Tidak ada kecap yang nomor dua kawan. Jikalau ada lima merek kecap pasti semuanya menjelaskan kalau kecapnya nomor satu. Jadi mau memilih kecap dari penjual yang mana?

Salah satu profesi yang mungkin tertua di dunia mungkin berdagang. Entah dulu bagaimana cara berdagang dilakukan. Entah dengan menukar barang satu dengan yang lain atau dengan sesuatu benda yang bernilai sebagai standar nilai tukar. Sampai sekarang pun berdagang masih dilakukan tentunya dengan cara yang semakin beragam dan juga memanfaatkan teknologi canggih.

Salah satu yang menggelitik saya dari urusan dagang berdagang ini yaitu bagaimana cara si penjual meyakinkan pembeli. Beberapa waktu lalu saat berburu hp saya coba melihat – lihat hp second di salah satu daerah sentra jual beli hp di bali. Akhirnya saya mulai tertarik pada salah satu counter. Barang secara fisik masih mulus bagus. Harga juga tidak terlalu tinggi dan masih bisa ditawar. Garansi barang pun masih panjang dari garansi resmi. Sangat menarik. Namun saya memutuskan untuk tidak jadi beli. Kenapa? Karena si mas penjual semangat sekali meyakinkan saya. Mungkin secara ilmu marketing hal ini bagus ya? Berusaha meyakinkan calon customer bahwa produk yang dimiliki bagus. Tapi saya bukan tipe orang yang suka dengan cuap – cuap iklan kecap seperti ini. Semakin bersemangat penjual menawarkan sesuatu entah kenapa saya semakin curiga. Pasti ada apa – apanya. Pasti ada sesuatu yang berusaha disembunyikan. Walaupun mungkin kadang si penjual memang sedang menjual barang yang bagus. Kecurigaan saya semakin besar ketika sepuluh menit disitu terdapat kurang lebih lima orang yang komplain barangnya bermasalah. Si mas penjual kelihatan sangat kecewa ketika saya memutuskan melangkah keluar. Sudah berbusa busa ternyata nggak jadi, begitu mungkin pikirnya.

Lebih logis masuk ke kepala saya kalau si penjual melakukan metode apa adanya. Begini kondisinya mas.. kekurangannya ini blab la bla, namun secara umum kualitasnya masih bagus toh ada garansinya. Dan dengan penjual yang tidak terlalu banyak cuap cuap seperti ini akhirnya saya deal, barang berpindah tangan.

Pengalaman saya selanjutnya ketika hunting laptop di salah satu mall pusat IT. Di mall ini cara kerja salesnya agak ekstrim kawan. Enggak beda jauh dengan makelar penumpang di terminal Bungurasih Surabaya. Akhirnya saya mampir ke salah satu kios yang penjualnya kelihatan pasrah menunggu pembeli. Tanya sekilas lumayan, harga cukup miring. Terdapat dua penjual, mas dan mbak, di kios tersebut. Saya terlebih dulu tanya tanya harga ke mas nya. Sekilas harganya cukup lumayan lebih murah. Akhirnya setelah tanya ini itu saya mengulangi pertanyaan yang sama ke si mbak. Dan lucunya si mbak ini memberikan harga yang cukup mahal ditambah penjelasan, di tempat lain nggak ada mas yang semurah ini. Hehe, terlihat sudah, kurang koordinasi. Langsung saya sikat, saya jelaskan kalau si mas memberikan harga yang lebih murah. Si mbak melirik masnya dengan cemberut, campur malu tentunya. Sekalian serang saja, harga saya tawar lebih murah lagi dari yang ditawarkan masnya. Babat habis, gak pake bonus bonusan mbak, saya bilang. Si mbak akhirnya terpojok dan menyebutkan harga. Dan setelah saya muter – muter memang standar harganya di kisaran itu. Namun yang jelas saya tidak beli di situ. Saya hampir saja dibodohi kawan.

Dunia berdagang dan tawar menawar memang unik kawan. Setiap penjual pasti menjelaskan kalau kecapnya nomor satu. Tidak ada kecap yang nomor dua kawan. Jikalau ada lima merek kecap pasti semuanya menjelaskan kalau kecapnya nomor satu. Jadi mau memilih kecap dari penjual yang mana?

2012/07/24

Rumah

Akhir – akhir ini saya punya hobi baru yang nyeleneh kawan. Tiba – tiba antusias dengan hal – hal yang berhubungan dengan arsitektur, desain rumah, material bangunan dan sebagainya. Bahkan kalau pas mampir ke mall yang ada pusat peralatan rumah tangga saya bisa betah berlama – lama. Walaupun di dalamnya tidak membeli apa – apa dan cuma melongo melihat berbagai pernak pernik rumah yang sangat beragam. Sementara hanya bisa berandai – andai pingin rumah yang seperti apa kelak.

Hmm, rumah seperti apa ya yang menarik? Yang jelas saya tidak terlalu suka rumah dengan nuansa etnik. Entah kenapa rumah dengan banyak benda benda etnik kok terkesan suram menurut saya. Saya lebih suka rumah yang minimalis tidak terlalu banyak sekat, dan bernuansa cerah.

Rumah ini harus cukup untuk keluarga mini dengan dua atau tiga anak. Lingkungannya normal dan sehat. Tidak perlu yang mewah. Yang sederhana saja namun kesan “rumah” nya sangat terasa. Karena rumah bukan hanya tempat tinggal. Rumah dan keluarga harus menjadi magnet yang bisa menarik anggota keluarganya untuk kembali entah seberapa jauhnya berpetualang nantinya.

Kalau masih ada ruang nganggur saya juga ingin pusat entertainment mini. Beberapakali saya lihat iklan mesin karaoke di Koran atau majalah. Kelihatannya menarik juga punya benda seperti ini, hehe. Bisa bengak bengok sepuasnya setelah capek bekerja.

Rumah ini juga harus dapat mendukung setiap anggota keluarganya untuk berkembang. Apabila nanti ada malaikat – malaikat kecil yang lahir, rumah harus bisa menjadi pendukung kreatifitas. Saya tidak ingin terlalu sayang rumah dari pada malaikat – malaikat kecil ini. Terserah bagaimana asal positif dan mendukung kreatifitas. Mau menggambari dinding? Silahkan. Kalau perlu anggap saja dinding rumah adalah kanvas raksasa untuk melukis. Lukisan atau gambar yang unik bisa langsung dikasih bingkai. Saya tidak ingin terlalu cerewet, eh adik nggak boleh coret coret ya.. dik jangan nanti pecah, awas nanti karpetnya kotor dan sebagainya. Namun tentu aturannya silahkan kalau di rumah sendiri. Jangan rumah orang digambari.

Hmm… Rumah. Sebuah mimpi yang besar (sebesar cicilannya tentunya, hiks).

2012/07/04

Negaraku oh Negaraku

  
 
Apa yang kawan semua dengar di televisi akhir – akhir ini? Kasus korupsi yang menjadi jadi (bahkan Al Quran pun dikorupsi), kemiskinan di berbagai penjuru negri, kesemrawutan dan berbagai hal negatif lainnya. Apa mungkin karena negara ini terlalu luas? Jadi sulit untuk mengaturnya. Walaupun sebenarnya luasnya area ini sebenarnya bisa diatur dengan sistem yang baik dan berjalan dengan baik pula.





 Beberapa waktu lalu saya berkesempatan diajak ke negara tetangga kita yang terkenal dengan ikon singa berbuntut ikan ini. Negara yang kecil mungil dibandingkan dengan Indonesia yang membentang begitu luasnya. Namun jangan salah. Negara ini adalah salah satu yang termaju di Asia. Berbagai pusat perekonomian penting ada di sini.



Begitu menginjakkan kaki aura kemegahan sudah terasa. Bandara yang mewah dan lapang, dan herannya lengang. Padahal bandara ini salah satu yang tersibuk di asia. Namun dengan pembagian yang baik tidak begitu terlihat penumpukan penumpang. Lantai karpet empuk di sepanjang perjalanan layaknya hotel berbintang.


salah satu titik di universal studio

Keluar dari area bandara aura tersebut semakin kuat. Melihat kondisinya cukup aneh mengingat negara ini hanya sejengkal saja dari negara kita. Sama sekali berbeda. Mobil mobil mewah aneka jenis seliweran. Sangat beragam, nggak melulu avanza dan kijang. Jalanan dan gedung tertata dengan baik. Berbagai fasilitas tersedia dengan lengkap. Terlihat sekali disini membangun sesuatu nggak setengah – setengah. Kalau bisa yang paling modern, paling canggih, paling besar, dan paling paling yang lainnya.

Kontrasnya kondisi disini membuat saya bertanya tanya. Selama ini kita kemana saja ya? Seolah olah waktu di negara kita di – pause saat negara tetangga ini asik membangun mengembangkan diri. Setelah negara ini maju baru tombol resume dipencet dan kita akan melongo melihat ketertinggalan.

Tentu semua fasilitas super lengkap tersebut ada tapinya. Fasilitas tersebut nggak gratis kawan. Semua ada pajaknya. Lewat di jalan sekalipun ada tarifnya. Semua juga ada aturannya. Melanggar aturan? Siap siap kena denda. Dan jangan kawatir untuk berkelit dari denda, karena wajah manis anda saat melakukan pelanggaran terekam di cctv yang seabrek tersebar di berbagai sudut seolah olah cctv disini gratisan. Bahkan di dalam bus sekalipun ada cctv. Banyaknya denda ini bahkan mengilhami pembuat gantungan kunci dengan mengabadikan denda – denda tersebut di karyanya.

Dengan kondisi yang lebih maju dan daya beli yang tinggi sebanding dengan harga – harga berbagai produk. Terlebih banyaknya produk yang diimpor dari luar negri menyebabkan harga melambung. Beberapa barang yang saya amati dan saya bandingkan harganya malah lebih murah di Surabaya, bahkan sampai setengahnya. Dengan harga ini toko – toko tetap ramai pengunjung. Dan diantara pengunjung – pengunjung tersebut terdengar bahasa Indonesia, bahkan bahasa jawa suroboyoan. Banyak juga ternyata rekan senegara disini.

Disini semua sudah tersistem dengan baik. Dan hebatnya sistem tersebut juga berjalan dengan baik. Melanggar sistem? Siap – siap saja kena hukuman atau denda.


Menginjak tanah sendiri di negeri orang

Namun walaupun dengan kondisi fasilitas yang serba wah ini saya tetap memilih negara saya sendiri kawan. Negara yang luas dan kaya  yah walaupun masih sedikit carut marut di sana sini. Bayangkan beberapa hari di sini saya sering kali melewati jalan yang sama. Beberapa area juga hasil reklamasi (tanah dari negara kita tentunya), yang semakin menandakan sempitnya negara ini. Saking sempitnya bahkan akan direncanakan memanfaatkan bawah tanah (walaupun sekarang juga sudah digunakan untuk tempat parkir misalnya. Di sini saya juga tidak menemukan sesuatu yang khas yang memang benar benar hasil karya budaya asli. Semuanya buatan manusia.

Lagi pula di negara inipun tetap saja ada sisi lainnya. Golongan yang terpinggirkan. Satu dua masih ada penjual di sebelah halte dengan sepeda butut. Kayaknya apes banget jadi yang terpinggirkan di negara ini. Bayangkan kawan mengayuh sepeda butut diantara kumpulan maserati dan jeep. Yah, setidaknya jadi orang susah di negara kampung halaman bisa agak bernafas, karena lebih banyak temannya, hehe.

Beberapa hari disana akhirnya kembali ke kampung halaman. Kembali berhadapan dengan seliweran nggak jelas kendaraan, jalan berlubang, fasilitas rusak. Ah sebodo amat, tarik nafas dan tersenyum. Ini negeriku. Tempat terbaik di seluruh dunia. Dan harus bersyukur karena diluar sana masih banyak yang serba kekurangan.









Ya, Manusia Bisa Berubah

Lagi – lagi saya dibuat geleng – geleng dengan makhluk yang dinamakan manusia. Ternyata banyak sekali dalam hidup ini yang saya belum pahami kawan. Bahkan memahami makhluk yang bernama manusia. Dua puluh tahun lebih saya menjadi manusia ternyata apa yang saya ketahui masih seujung kuku saja.

Ternyata manusia mirip – mirip dengan grafik forex. Sebentar – sebentar berubah tergantung pasar. Beberapa orang yang saya kenal mengalami transformasi yang signifikan. Diluar dugaan.Yang dulu begini sekarang begitu. Yang dulu begitu sekarang begini. Kaget, pangling, heran. Apalagi saya dulu sama sekali tidak memiliki yang namanya jejaring sosial. Entah saya ketinggalan berapa ribu episode tentang orang –orang yang saya kenal.

Perubahan – perubahan tersebut membuat saya memikirkan sesuatu. Lantas bagaimanakah kita benar -  benar mengetahui tentang seseorang. Puluhan tahun menjadi teman belum menjamin kita benar – benar mengenal seseorang. Terus terang saya belum menemukan teori untuk masalah ini. Bingung.

Ketika kita benar benar yakin bahwa orang yang kita kenal tersebut tipe A ee ternyata berjalannya waktu berubah menjadi tipe B. Orang yang kita kira tipe B ee ternyata malah tipe A. Dan hal ini lumayan krusial. Kepercayaan terhadap orang  -orang yang kita kenal menjadi berkurang. Kita akan berpikir, jangan – jangan si ini begitu, si itu begini. Berprasangka buruk. Dan semakin deg deg an juga bagaimana memilih orang yang, ehem, mungkin kita akan membagi hidup.

Saya sendiri pun perlu berkaca. Memejamkan mata membayangkan diri saya beberapa tahun yang lalu. Membuka mata dan melihat diri saya yang sekarang. Apa saya juga berubah ya? Jangan – jangan saya berubah tanpa saya sadari? Kalau tambah jelek, item dan tua itu sudah wajar, nggak usah ditanya. Namun apa saja yang berubah di dalam diri saya?

Memang ada beberapa orang yang saya kenal yang saya yakin dan saya percaya masih tetap seperti yang dulu yang saya kenal. Bagaimana saya mempercayainya? Entah. Saya sendiri tidak tahu. Seperti itulah yang saya rasakan. Mungkin saja apa yang saya percayai salah. Namun saya tetap memilih untuk percaya.

Mungkin ini mengapa kita diajarkan untuk berprasangka baik saja. Ya, setidaknya dengan berprasangka baik tidak merugikan orang yang sebernarnya baik tapi kita sangka buruk. Toh berprasangka baik kepada orang yang sebenarnya tidak baik pun juga nggak rugi. Mungkin ini teori yang tepat. Kawan, terserah bagaimana penampilan anda, sikap anda, perubahan anda, saya akan berprasangka baik saja. Dan bagaimanapun anda kita akan tetap berkawan.

2012/05/09

Reuni Para Perantau

Hidup di tempat yang jauh ternyata terkadang membuat kita menemukan keunikan – keunikan tersendiri kawan. Seperti yang baru saja saya alami. Di sebuah warung Tahu Tek khas Surabaya di pelataran sebuah agen travel. Saya dan teman saya duduk satu meja dengan dua orang bapak – bapak, dan satu orang lagi bapak yang datang sendirian.

Awalnya kami pun mengobrol sendiri – sendiri, tentu saja karena tidak mengenal satu sama lainnya. Akhirnya setelah tercetus nama – nama jalan di Solo oleh bapak yang datang berdua, teman saya pun menyahut. Ya, teman saya dari Solo kawan. Setelah mengobrol beberapa saat si Bapak ini pun menyebut Malang. Nah, yang ini saya paham. Saya pun ikut nimbrung dalam pembicaraan. Dalam satu meja tersebut semua berbahasa jawa, dua Bapak dari malang, satu dari Surabaya, dan teman saya dari Solo.

Lega rasanya bisa berbahasa jawa lagi ceplas ceplos. Mendengar si Bapak dari Malang ini kuping saya menemukan sesuatu yang ternyata sudah lama tidak saya dengar dan saya kangen. Logat orang Malang. Masih terasa sekali boso malangan nya. Rumah si Bapak inipun juga mepet dengan kampus saya semasa kuliah di Malang. Saya bahkan sering blusukan ke gangnya karena lebih cepat sebagai jalan pintas.

Dan tiba – tiba saja kami semua seolah – olah akrab dan mengobrol ngalor ngidul dengan santai. Dari topik yang dibicarakan terlihat sekali bapak – bapak ini bukan perantau newbie (seperti saya). Mungkin levelnya sudah perantau holic atau perantau donatur (kaskus mode on). Sering sekali membicarakan daerah  A B C dan sebagainya. Entah pengalaman apa saja yang sudah dilibas habis oleh bapak –bapak ini.

Tahu tek yang terhidang mungkin sudah ludes dalam hitungan menit. Namun obrolan di warung ini berlangsung hampir sejam. Bahkan kami pun membubarkan diri bareng bareng. Setelah saling menyapa kamipun menuju arah kami masing – masing.

2012/05/06

Cermin

Dari beberapa pengalaman yang saya alami, semakin saya menyadari ternyata dunia ini sangat beragam ya kawan? Terutama salah satu makhluk di dunia yang bernama manusia. Setiap individu manusia memiliki peran tersendiri. Kadang saya berpikir kenapa si anu yang ketiban apes dapat peran ini sedangkan si itu dapat peran yang lain.

Yang ketiban dapat peran yang “tidak terlalu menarik” pun mengeluh. Mengapa kondisinya begitu – begitu saja. Kok saya begini, kok si itu si anu bisa enak dapat peran ini itu. Memang faktor nasib juga sangat menentukan. Namun ternyata tidak sepenuhnya demikian.

Sekarang baru saya menyadari bahwa kadang peran yang diterima ya memang cocok dan layak peran itu. Dan saya tidak bisa membayangkan apabila peran yang diterima oleh orang tersebut krusial dan penting mungkin jadinya bisa kacau berantakan. Mungkin ketika diamati sekilas kita akan bersimpati. Namun setelah agak memahami kita akan berpendapat, o ya memang sudah begitu seharusnya.

Dan ujung – ujungnya apabila orang tersebut atau bahkan kita sendiri tidak puas dengan peran yang diterima akan bertanya – tanya kepada Sang Pemberi Peran. Kok saya begini kok saya begitu. Mungkin kita akan berdoa begini, “Tuhan, kenapa kok kondisi saya begini, jadikanlah saya Presiden Direktur saja ya Tuhan…Biar dapat gaji banyak mobil mewah tanah luas dimana - mana”. Mungkin Tuhan akan heran, “Hellooo?? La kamu siapa minta seperti itu”. Terkadang kita memang meminta sesuatu tanpa melihat bagaimana diri kita sebenarnya. Sebenarnya layak nggak sih kita dengan apa yang kita minta? Sudah berimbangkah apa yang kita lakukan dengan apa yang kita minta?

Mungkin sebaiknya teorinya diubah begini. Selain mengeluh dan meminta bagaimana kalau kita mengupgrade diri agar sesuai dengan yang diminta. Ingin jadi supir misalnya bagaimana kalau kita mengupgrade diri kita agar bisa mengoperasikan kendaraan dengan belajar menyetir.

Tuhan memang Maha Pemurah. Namun setidaknya kita punya “modal” untuk memperoleh kemurahan itu. Agaknya kurang enak juga apabila kita menengadahkan tangan saja tanpa usaha. Dan kembali lagi, yang mempunyai hak mutlak di acc atau tidak permintaan kita hanya Tuhan. Jungkir balik berusaha (yang menurut kita mentok maksimal) kok tetep peran kita itu itu saja. Diambil saja hikmahnya. Mungkin Tuhan sedang menyelamatkan kita dari peran lain (yang sebetulnya kita minta) yang kita mungkin tidak cocok didalamnya.

2012/04/26

Mengurus Paspor Sendiri = Mudah = Murah

Paspor. Mendengar kata yang terbentuk dari enam huruf ini pasti bayangan kita mengurusnya pasti sulit, berbelit – belit dan dana yang harus disiapkan tidak sedikit. Setidaknya itulah yang saya kira pada awalnya.

Ternyata tidak kawan. Yang dibutuhkan hanyalah beberapa dokumen, dua lembar seratusan ribu, selembar lima puluh ribu, selembar lima ribu, dan sedikit meluangkan waktu. Bagaimana caranya? Yuk mari disimak di bawah ini.

Awalnya saya mendaftar melalui paspor online yang ada di website resmi imigrasi. Isi data data yang diperlukan dengan benar. Tentunya tidak sulit. Apalagi yang sudah familiar dengan facebuk dan sebagainya, prosesnya mirip. Mengisi informasi yang diminta. Isi dengan benar sesuai dokumen yang dimiliki. Setelah itu kita diminta untuk mengupload beberapa berkas sesuai dengan persyaratan paspor yang kita minta. Saya upload hasil scan dari Kartu Keluarga, Akte kelahiran dan KTP. Beres menguplad doumen yang diminta kita bisa menentukan kapan kita ingin datang di kantor imigrasi terdekat. Pilih kantor imigrasi dan hari yang diinginkan. Tidak harus kantor imigrasi dengan lokasi yang sama dengan ktp. Dimana saja boleh kok. Saya berasal dari Jawa Timur dan saya mengurus paspor di Renon, Denpasar, Bali. Setelah proses selesai kita akan diberi bukti pendaftaran yang didalamnya terdapat bar code. Cetak bukti pendaftaran ini sebagai bukti.

Pada hari yang ditentukan datang ke kantor imigrasi yang sudah dipilih. Jangan lupa sebelum berangkat siapkan Kartu Keluarga, Akte Kelahiran dan Akte asli untuk ditunjukkan dan kopinya untuk diserahkan. Dilengkapi dengan bukti pendaftaran yang sudah dicetak.

Di kantor imigrasi sudah tersedia loket – loket dengan urutan tertentu. Tenang saja, nggak usah bingung. Nama kita akan dipanggil ke loket berapa. Prosedurnya menyerahkan dokumen, membayar di kasir (tarif resmi), foto biometri, dan wawancara.

Dari rangkaian tersebut mungkin yang paling membuat penasaran adalah wawancara. Tenang, wawancaranya bukan di ruang gelap dengan satu sorot lampu seperti ruang interogasi. Pertanyaannya pun ringan saja. Konfirmasi nama, pekerjaan, alamat dan sebagainya apakah sudah benar dengan yang ditulis. Selain itu akan ditanya keperluan ke luar negrinya dalam rangka apa. Kalau untuk urusan legal dan masuk akal, bukan untuk mengebom sesuatu maka tidak usah kawatir. Wawancaranya pun singkat sekitar 5 menit. Beres sudah. Saya datang ke kantor imigrasi jam setengah Sembilan pagi dan jam setengah sebelas sudah selesai.

Empat hari kemudian paspor sudah bisa diambil di kantor imigrasi tersebut. Total biaya yang saya habiskan adalah Rp. 255rb untuk paspor, Rp 2000 untuk fotokopi, Rp. 6000 untuk materai, Rp 1000 untuk parker, tambah Rp 6500 untuk pocari sweat biar nggak dehidrasi Gimana? Mau mencoba?