Sudah sekitar sebulan sejak kepala saya digunduli ternyata rambut saya belum tumbuh signifikan. Masih tersisa sedikit2 aura aneh karena kepala gundul ini. Berawal dari diklat yang harus saya ikuti di pusdik brimob, maka mau nggak mau saya harus merelakan mahkota saya dibabat habis. Untung sebelumnya dikasih amplop uang saku. Jadi agak semangat, hehe.
Pernahkah kawan semua digunduli? Awalnya terasa aneh. Seolah olah kulit kepala ini peka sekali terhadap perubahan cuaca. Kalau dingin terasa sekali dingin. Kalau panas, mak nyos langsung ke kulit kepala. Paling lucu kalau pas keramas. Berapapun sampo yang dituangkan nggak berbusa. Dan bisanya cuma dikosoki seperti kalau membersihkan badan, karena minimnya rambut.
Dan ternyata rambut gundul ini juga berefek sosial. Sepulangnya diklat saya membelikan sesuatu untuk ibu saya. Beres dari toko saya dan ibu saya kembali ke mobil. Bapak saya dibalik kemudi pun melambai ke tukang parkir mengacungkan seribuan rupiah. Dan anehnya pak petugas parkir menolak dan menjawab "sampun pak" (sudah pak). Kami pun bingung karena memang tadi tidak ada yang memberikan uang parkir. Ya wes lah kami pun berlalu.
3 minggu kemudian, saya pulang dari semarang lokasi saya melaksanakan ojt. Saya sempatkan main ke rumah salah seorang sahabat. Setelah berhasil membangunkan teman saya ini yang molor karena capek setelah melaksanakan training 3 minggu, saya teman saya, dan 1 orang teman baru, keluar cari sarapan. Ternyata bingung. Karena di tempat tinggal saya sendiri, saya jarang sekali makan di luar. Atas rekomendasi dan hasil diskusi kami pun berhenti di warung pecel. Mobil saya parkir di depan warung.
Belum sempat menyeruput teh hangat pesanan saya, salah seorang petugas dishub menghampiri, "mas nuwun sewu maaf mengganggu, mobilnya tolong diparkir di sebelah sana nggih". Ternyata di dekat warung tersebut adalah jalur lomba balap sepeda. Saya pun memindah mobil dipandu pak petugas tersebut. Selesai makan kamipun bergegas keluar. Pas membuka pintu mobil, ada truk yang hendak parkir. Tiba tiba ada teriakan dari pak petugas tadi "parkire d kono ojo d kene" parkir di sana jangan disini. Saya pun lingak linguk lirik lirikan dengan teman saya. Di dalam mobil kami cekikikan. Beda sekali si pak petugas tadi memberikan instruksi. Ketika meminta saya memindah mobil sangat halus bahkan buwun sewu. La ini malah teriak teriak. Tahu kan alasannya?hehe.
Ternyata unik juga berkepala gundul. Tapi kayaknya menjadi gundul tidak terlalu menarik. Saya kangen rambut kriwul saya yang awut awutan. Mungkin nanti saja saya gundul lagi pas insyaAllah menunaikan haji, amiin.
2011/07/22
Efek Berkepala Gundul
2011/07/13
Beruntung
Pernah nggak menyadari bahwa kita adalah orang - orang yang sangat beruntung? Akhir - akhir ini saya semakin merenungi pertanyaan ini. Dalam training ojt yang saya jalani, sesekali saya terjun langsung ke lapangan. Berbeda dengan situasi kantor yang sejuk ber ac, di lapangan terhampar kehidupan yang keras.
Sekumpulan pemuda, bahkan lebih muda dari saya bekerja di bawah terik matahari yang menyengat berhadapan dengan gelondongan kayu besar. Sebagian mengoperasikan alat - alat berat untuk memindahkan kayu gelondongan tersebut ke truk trailer. Seorang mandor mengawasi dari jauh.
Sebuah pekerjaan yang berat dan penuh resiko. Saya tidak berani membayangkan bagaimana seandainya kayu gelondongan yang hanya diikat tali itu lepas dari crane dan menggelinding. Ngeri.
Beberapa menit saja di lokasi peluh sudah mengalir. Kerah dan lengan baju putih saya sedikit menghitam kotor terkena debu. Bagaimana kalau seharian bergelut dengan gelondongan kayu ini? Salut saya dengan mas mas pekerja ini. Mereka orang - orang yang tangguh dan pekerja keras.
Sekembali dari lapangan saya dihadapkan dengan meja, laptop / komputer, fotokopian yang berserakan dan buku catatan saya. Jadi menyesal karena sempat mengeluh bosan di kantor, sedangkan di luar sana banyak yang membanting tulang demi sesuap nasi. Mungkin memang dari sananya yang namanya manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Punya motor inginnya mobil. Punya mobil satu belum juga puas kalau nggak dua. Demikian seterusnya. Ketika melihat orang lain yang keadaannya jauh lebih baik terkadang kita ngresulo. Merasa menjadi orang paling tidak beruntung di dunia. Padahal di luar sana banyak yang menginginkan bahkan bermimpi memiliki apa yang kita miliki. Dan kunci dari kondisi ini ternyata sederhana. Bersyukur. Karena ternyata setiap diri kita ini adalah orang yang beruntung. Entah dalam hal / bidang apa. Semakin bersyukur semakin terasa bahwa kita adalah orang yang beruntung.
2011/07/08
Pendidikan itu penting atau tidak? sekarang saya bisa menjawab pertanyaan inii

Ketika saya lulus kuliah tahun kemarin, sama sekali belum terlintas di benak saya mau kerja apa. Sempat mau kuliah lagi. Namun akhirnya saya urungkan dulu. Disela sela menganggur saya yang tidak jelas, sesekali saya isi dengan menonton film. Salah satu film yang saya tonton adalah "alangkah lucunya negri ini". Dialog yang paling saya ingat adalah ketika Dedy Mizwar dan Jaja Miharja berdebat soal penting atau tidak sebenarnya pendidikan itu.
Sebenarnya penting atau tidak pendidikan itu? Kadang - kadang bingung juga. Motivasi seseorang untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin kebanyakan tidak lepas dari faktor ekonomi. Berharap suatu saat memperoleh pekerjaan yang baik. Seperti yang diperdebatkan Dedy Mizwar dalam film tersebut. Muluk, anak Dedy Mizwar dalam film tersebut adalah seorang sarjana manajemen dan belum juga memperoleh pekerjaan.
Bagi orang yang pesimistis mungkin akan berpikiran bahwa mengejar pendidikan itu tidak ada gunanya. Toh banyak sarjana yang menganggur. Sarjana saja menganggur apalagi D3, atau bahkan SMA? Bangku kuliah hanya mencetak pengangguran intelektual. Menjadi sukses tidak usah kuliah. Banyak orang yang bahkan tidak tamat SD namun dari sisi ekonomi bisa dikatakan sangat makmur.
Memang tidak salah pemikiran seperti ini. Karena kenyataannya yang terjadi demikian adanya. Namun kalau pertanyaan penting atau tidakkah pendidikan itu mampir ke saya, jawabannya simpel, pendidikan itu Penting!
Mengejar pendidikan setinggi mungkin itu penting. Tidak ada ilmu yang sia sia kawan. Sejauh itu positif pasti akan membawa manfaat bagi kita. Entah nantinya mungkin pendidikan yang kita miliki justru tidak terpakai ketika akhirnya memiliki pekerjaan. Suatu saat nanti ilmu yang kita miliki pasti berguna.
Niatkan saja mengejar pendidikan untuk mencari ilmu. Dan sebagai bonusnya mungkin suatu saat nanti kita akan memiliki pekerjaan yang cocok dan sesuai bidang pendidikan kita.
Saya sendiri menyadari bahwa pendidikan itu penting justru ketika saya lulus kuliah. Dulu ketika masih sma, tidak ada motivasi untuk kuliah atau melanjutkan ke jenjang lain yang lebih tinggi. Saya ingin berwiraswasta. Namun karena mayoritas teman - teman saya kuliah, dan alhamdulilah kondisi keuangan memungkinkan akhirnya saya kuliah. Kuliah pun dijalani saja, tidak ada bayangan nantinya mau jadi apa.
Ternyata kuliah memang ada manfaatnya. Setelah kuliah alhamdulilah saya mendapat bonus pekerjaan pertama, kedua, dan ketiga.
Kalau kondisi keuangan memungkinkan,punya kemampuan dan kemauan nggak ada salahnya untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Namun kalau memang ada kendala dan akhirnya tidak bisa melanjutkan, tidak usah berkecil hati. Ilmu bisa dicari dimana saja, tidak harus di bangku sekolah. Dan sebagai bonus dari ilmu yang kita cari tersebut semoga kelak akan mendapatkan pekerjaan yang baik dan barokah.
2011/07/02
Selamat Datang Hidup Baru
Selamat datang hidup baru. Yup, sekarang ini saya memasuki tahap kehidupan yang benar - benar baru kawan. Dulu pas kuliah saya memasuki hidup baru, namun masih banyak teman - teman sma saya menyertai. Demikian pula ketika bekerja. Dua orang teman sekantor, bahkan seruangan adalah teman sma saya, bahkan salah satunya teman sebangku saya di sma, dunia memang sempit. Kali ini dunia baru saya berbeda. Benar benar baru. Teman baru, tempat hidup baru, suasana baru.
Kadang - kadang masih mikir bagaimana ceritanya sampai akhirnya saya bercokol disini. Kalau saya ini sebuah mobil mobilan tamiya, maka hidup saya belakangan ini mirip sirkuitnya. Saya pasrah mengikuti saja kemana arah sirkuit ini.
Sekarang tidak ada lagi teman lama yang menyertai, jauh dari saudara. Sebagai gantinya saya banyak mendapatkan teman baru yang "bernasib" sama. Sama sama memulai hidup baru di tempat yang baru. Teman - teman seangkatan.
Sebuah babak baru dalam lembaran catatan saya akan dimulai. Semoga saya bisa melaluinya dengan baik dengan semangat, amiin.
2011/06/24
Jika aku menjadi - polisi
Salah satu rangkaian diklat yang harus saya ikuti setelah saya lolos seleksi salah satu BUMN adalah diklat pembentukan karakter. Entah karakter bagaimana yang harus dibentuk, karena 20 tahun umur saya masih berusaha membentuk karakter saya sendiri.
Setelah 10 hari asik menikmati fasilitas hotel, mandi air hangat, makan enak, hari itu, kami 117 peserta dibawa menggunakan truk brimob ke pusat pendidikan brimob watukosek. Perlu diketahui, pusdik watu kosek ini memiliki kontur mirip bukit. Menanjak dari bawah ke atas. Barak terdapat di puncak bukit sekitar 3 km dari bawah, dan menuju ke barak tidak lain tidak bukan adalah dengan berjalan kaki.
Setelah lumayan berkeringat sampailah kami di atas. Masuk ke barak masing masing dan meletakkan tas tas yang dibawa. Kami langsung disodori bejibun aktifitas yang dimulai malam itu juga. Yang paling awal dan harus dilakukan oleh peserta laki laki adalah digundul. Berbarislah kami dalam antrian menunggu saat penggundulan. Tidak perlu terlalu banyak prosedur / teknik untuk menggunduli kepala. Hanya beberapa menit rambut sudah habis dibabat. Tersisa beberapa mili bagian samping dan beberapa cm bagian atas. Resmilah kami menjadi kompi upin ipin malam itu.
keesokan harinya aktifitas sebenarnya dimulai. Memakai seragam lengkap, yaitu seragam pdl (mirip seragam satpam) dan sepatu boot tentara. Khusus sepatu boot ini penuh perjuangan memakainya. Sama sekali tidak nyaman. Keras dan berat. Tidak sedikit yang kakinya lecet lecet, karena memang kebanyakan kami hanya membawa kaos kaki tipis yang cocok untuk pantofel.
Kegiatan sehari hari lumayan padat. Selalu ada apel sebelum melaksanakan sesuatu. Kemana mana baris dan harus sama langkahnya. Jam 4 kurang saya sudah lari ke kamar mandi kalau tidak mau keduluan. Karena kamar mandinya hanya beberapa, kalau agak siang sedikit siap siap mandi bareng atau mandi terekspos dari luar karena pintu kamar mandi yang berlubang menganga.
Beberapa hari awal badan rasanya aneh, pegel linu. Tidur pun juga menjadi sangat cepat. Begitu kepala nempel di bantal langsung bablas, saking capeknya. Hari - hari berikutnya sudah mulai "agak" terbiasa.
Untung cuma 10 hari. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana siswa sebenarnya yang menjalani pendidikan disini berbulan bulan. Siang bolong panas - panas berlari lari keliling pusdik tanpa baju. Jadi seperti ini ya bagaimana briptu norman caiya caiya dulu dididik. Briptu norman lulus dari pusdik ini tahun 2006.
Dan pantas saja Briptu norman pandai bernyanyi. Pusdik ini punya segudang stok nyanyian. Bahkan komandan kompi diklat kami pun mahir menciptakan puisi. Tampilan boleh garang, tapi hati ternyata lembut.
Akhirnya, setelah pertengahan minggu sempat diare dan diakhir minggu flu, diklat di pusdik ini pun berakhir. Ditutup dengan pesan, bawa yang baik baik dari pusdik dan tinggalkan yang jelek jelek di sini. Entah karakter saya berubah atau tidak (setidaknya warna kulit berubah). Yang jelas saya memperoleh pengalaman baru. Watukosek tak akan kulupa....
2011/06/05
Hidup Saya Memang Mengalir, Namun Jangan Seperti Air
Pernahkah terpikirkan akan menjadi apa ketika anda beranjak dewasa kelak? Mungkin ada yang mencita - citakan sesuatu dan kemudian benar benar meraih cita cita tersebut. Namun, kalau saya sendiri, saya tidak pernah tahu akan menjadi apa kelak. Dimulai ketika kuliah, jurusan yang saya pilih, masih belum bisa menjamin akan menjadi apa kelak. Bahkan bapak saya sendiri pun khawatir, mau kerja apa saya.
Akhirnya saat saat kuliah pun berakhir (kangen juga saat2 kuliah). Dihadapkanlah saya ke pasar kerja. Mencoba melamar kesana kemari. Saya tidak terlalu banyak melamar pekerjaan sebetulnya. Hanya beberapa saja. Pengalaman ketika saya melamar jadi supervisor sales LPG dan dipanggil, bapak dan ibu saya heboh, hehe. Setelah itu saya jarang melamar. Cuma beberapa saja yang sekiranya saya mengerti pekerjaan tersebut.
Karena saya suka menulis saya pun mencoba melamar menjadi reporter. Sempat dipanggil salah satu portal berita online, namun karena jauh saya batalkan. Saya pun kemudian diterima di salah satu koran lokal yang merupakan bagian dari media ternama. Namun hanya tahan tidak lebih dari 2 minggu.
Pekerjaan saya berikutnya masih terkait jurnalistik. Saya menjadi corporate journalist salah satu perusahaan. Pekerjaan yang menyenangkan kawan! Bayangkan saja pak bondan winarno yang dibayar untuk mencicipi makanan, atau valentino rossi yang dibayar untuk mengendarai ducati. Saya dibayar untuk ngeblog!!!
Namun, aliran nasib saya ternyata belum berhenti. Sebelum menjadi corporate journalist saya juga sempat mendaftar di salah satu bumn, dan ternyata lolos seleksi. Saya pun resign dari pekerjaan kedua saya ini. Selain karena bumn ini dendanya besar kalau tidak saya ambil, orang tua saya pun menyarankan untuk mengambil yang satu ini. Jadi, dalam setengah tahun saya berganti 3 pekerjaan.
Semakin bersyukur ketika saya masuk karena ternyata yang mendaftar di bumn tersebut totalnya 12.000 orang. Semua yang ikut seleksi pun bukan orang sembarangan, rata rata sudah berpengalaman. Kalau hanya mengandalkan kemampuan saya semata sejak awal pasti saya sudah rontok. Namun karena ini adalah takdir saya dari Yang Maha Kuasa, dan dengan doa orang tua saya, akhirnya saya lolos.
Entah bagaimana nantinya hidup saya. Mengalir saja. Namun jangan seperti air. Karena air selalu mengalir ke bawah. Saya ingin menjadi air yang anomali. Saya ingin menjadi air yang bisa mengalir ke atas.
obie, 5 juni 2011, tretes -prigen, pasuruan
2011/05/14
Mengantri

Dalam suatu masyarakat keberadaan suatu "antrian" adalah hal yang wajar. Semakin ramai suatu masayarakat tersebut antrian bisa tambah panjang. Entah mengantri untuk keperluan apa.
Seperti yang saya alami tadi siang. Karena menjadi anak kos lagi otomatis saya harus membeli makanan di luar. Saya menuju warung di depan kosan saya. Fiuh, ternyata antriannya lumayan. Saya pun ikut berjubel di dalam antrian.
Setelah beberapa pelanggan dilayani, mbak penjual bertanya kepada saya, dibungkus atau makan sini? saya menjawab, ibu ini duluan mbak. Si ibu pun dilayani oleh si mbak penjual. Selesai, kembali saya ditanyai, bungkus atau makan sini? bapak ini dulu mbak gilirannya. Si mbak pun heran, la terus sampeyan gilirannya kapan? saya jawab, setelah bapak ini baru giliran saya.
Mungkin si mbak penjual heran, didulukan kok malah nggak mau. Namun saya punya pengalaman juga tentang antrian. Dulu pas saya masih kuliah di malang, sepulang dari kampus saya biasanya mampir ke warung beli makan. saya pun ikut di barisan antrian. Tapi yang menyebalkan adalah ada 2 kali orang yang baru datang langsung dilayani oleh penjual. Saya bengong setengah mangkel. Akhirnya setelah akan dilayani oleh ibu penjualnya saya pun melengos pergi. Dan itu terakhir kalinya saya menginjakkan kaki di warung itu.
Disadari atau tidak, dalam sebuah antrian, kedewasaan seseorang sebagai bagian dari masyarakat diuji. Yang merasa datang belakangan ya nggak usah ngeyel minta duluan. Yang datang belakangan dan akan didulukan, kalau masih normal, dan merasa kalau bukan gilirannya ya seharusnya menyadari. Toh cuma selisih beberapa menit. Nggak mati kalau harus berdiri antri beberapa menit lagi. Malah tambah sehat karena membakar kalori.



