
Alhamdulilah dalam tes rekruitmen yang saya ikuti, saya diberikan begitu banyak kemudahan. Akhirnya saya sampai di tahapan tes kesekian yaitu tes kesehatan. Kembali saya menuju Surabaya, kota dimana tes tersebut dilaksanakan. Dan kali ini masih seperti sebelumnya, saya menumpang di kosan seorang teman.
Sampai di lokasi tes ternyata pesertanya sudah lumayan banyak berkurang. Semakin bersyukur karena masih diberikan kemudahan hingga bisa sampai tahap ini. Setelah melihat beberapa pengumuman dan menunggu sebentar akhirnya para peserta tes dipersilahkan masuk. Agak ngeri juga di dalam ruangan. Ruangan hall rumah sakit sudah ditata sedemikian rupa. Beberapa meter sebelah kanan saya terdapat tulisan di kertas ”tes darah”. Perasaan sudah mulai nggak enak. Saya termasuk kategori orang yang pobia jarum suntik, kawan. Liat jarumnya saja sudah lemas rasanya.
Hal pertama yang dilakukan adalah registrasi. Satu persatu peserta dipanggil ke depan. Akhirnya tiba juga giliran saya. Perawat menanyakan, identitas dan kartu peserta. Kemudian yang ditanyakan adalah umur. Dengan refleks saya menjawab 22 tahun. Kemudian buru buru saya ralat, eh, 23 tahun mulai hari ini, 1 april. Perawat yang satunya bertanya, wah, ulang tahun kalau gitu, sini coba liat (mengambil ktp saya dan memastikan). O iya, selamat kalau gitu, ucapnya sambil menyalami saya.
Nggak terasa sudah setahun saya menggunakan angka 22 ini. Tanpa berpikir pun otak saya otomatis menyebutkannya. Hari itu saya beberapa kali melakukan kesalahan dengan angka ini. Pada saat tes rekam jantung ketika ditanya perawatnya saya menyebutkan 22 lagi, dan baru sadar setelah tes usai. Entah bagaimana tes yang lain saya lupa saya menyebutkan 22 atau 23. Perawatnya pasti bingung waktu mengumpulkan hasil pemeriksaan karena umur saya berganti ganti. Maaf ya mbak/bu perawat, lawong saya sendiri saja juga masih bingung. Masih menyesuaikan dengan angka 23.
Ternyata tes nya lumayan lengkap. Hampir semua bagian di cek. Komplit pokoknya. Dan ketika menunggu panggilan antri tes, panitia di depan menjelaskan sesuatu, ”untuk tes darah kedua nanti 2 jam setelah makan ya, silahkan melapor kalau sudah selesai makan”. Gubrak! Ternyata tidak cukup hanya sekali darah saya diambil. Dan memang benar kata orang, disuntik itu seperti di gigit semut. Namun kelihatannya semut yang dimaksud adalah semut mutan yang memiliki gigitan yang meyakitkan. Tetap saja, disuntik itu sakit kawan.
Selamat tinggal angka 22, terima kasih sudah menemani selama setahun ini. Selamat datang sahabat baruku angka 23, mari kita sambut tantangan esok hari dengan penuh semangat.
Obie, 2 April 2011
2011/04/03
Kebiasaan Saya Akan Angka 22
Sambelan VS Lalapan
Bahasa ternyata memang sesuatu yang unik. Kenapa sesuatu disebut dengan sesuatu mungkin ada alasan tertentu, namun terkadang memang tidak ada alasannya sama sekali. Kali ini penyebutan bisa ditelusuri asalnya.
Pertama kali tinggal di Malang saya sempat kaget dengan salah satu makanan yang banyak dijajakan, terutama di sekitar kampus. ”Sedia Lalapan”, begitulah tulisan yang sering ditemui di warung warung kaki lima. Setahu saya yang namanya lalapan adalah sayuran bisa mentah/rebus yang biasanya disajikan dengan sambal. Ternyata disini konsep lalapan yang saya pahami tersebut berbeda. Menu utama lalapan sebenarnya bukan sayurnya, melainkan adalah lauk yang biasanya digoreng. Lauk ini bisa berupa ayam goreng (yang paling umum) baik digoreng biasa atau juga tepung ala pred ciken, bermacam macam ikan semisal lele, nila, dan yang akhir akhir ini sedang tren yaitu jamur. Heran. Kenapa kok tidak disebutkan saja ”sedia ayam / ikan/ jamur goreng” malah lalapannya yang dituliskan. Lalapannya pun kadang sekadarnya. Beberapa helai kemangi dan irisan mentimun.
Saat mencicipi tinggal di Surabaya, saya juga merasa asing dengan salah satu menu yang dijajakan warung warung kaki lima di sana. Kali ini tertulis ”Sambelan”. Makanan apa lagi ini sambelan. Dilihat dari namanya pasti berhubungan dengan sambel, pedas. Saya suka yang pedas pedas, tidak ada salahnya dicoba. Mau menebak apa sebenarnya sambelan? Tidak lain tidak bukan adalah sama dengan lalapan. Sambelan adalah ayam/ikan goreng yang disajikan dengan sambal, dan seperti biasa beberapa helai kemangi dan irisan mentimun. Saya heran dengan kedua kota ini. Jaraknya hanya beberapa puluh kilometer namun istilahnya sudah berbeda beda. Dan kali ini untuk sesuatu hal yang sama.
Jadi kawan, kalau anda di malang dan ada teman anda dari surabaya silahkan ditraktir ”lalapan”. Dan sebaliknya, kalau anda di surabaya dan ada teman anda dari malang silahkan traktir teman anda tersebut ”sambelan”. Dan jangan lupa tanyakan teman anda tersebut, enak mana sambelan atau lalapan.
2011/03/20
Nggak Terasa Ternyata Sudah Seminggu Lebih

Beginilah nasib job seeker kawan, moncat mancit kesana kemari mengadu nasib. Kali ini saya terdampar di kota terbesar kedua di indonesia yaitu surabaya. Berhubung ada interview dan tes pekerjaan saya pun meluncur ke kota ini.
Seperti biasa ketika pertama kali tiba di suatu daerah yang asing, semua terasa membingungkan. Bahkan berbeda gang saja saya bingung. Sekarang juga masih bingung namun sudah mulai mengenal lingkungan sekitar terutama swalayan dan warung warung dimana saya bisa beli makan. Dan nggak terasa ternyata sudah seminggu lebih saya di sini. Menumpang di kosan teman (makasih ya).
Sebenarnya sudah sering ke surabaya, namun baru kali ini merasakan tinggal di surabaya. Bagaimana rasanya? hmm, ada beberapa hal yang sudah saya perkirakan dan ada beberapa yang diluar dugaan. Seperti yang saya duga, surabaya ibarat sauna raksasa. Panas. Pakaian sehari hari adalah tidak berpakaian. Cukup kaos dalam saja, itupun keringat masih bercucuran. Satu satunya keuntungan dari situasi ini adalah cepatnya menjemur pakaian. Cukup beberapa jam sudah lumayan kering. Bahkan yang tidak terkena panas langsung pun juga kering terkena hawa panasnya. Kipas angin juga bukan solusi yang tokcer karena kipas ini juga membuat panas merata.
Namun ada juga yang diluar dugaan. Ternyata kok disini lebih aman dari kota yang lama saya tinggali sebelumnya, malang. Dengan santainya motor berjajar di gang gang. Aman aman saja. Dulu di malang sudah di garasi berpagar, dikunci, digembok, alarm dll saja masih bisa hilang.
Di sini juga saya ikut dan menyaksikan bagaimana perjuangan mencari kerja. Ada yang datang dari jauh, dan setelah tes baju dilipat, dimasukkan tas karena besok dipakai kembali. Ada yang memakai make up yang lumayan heboh. Berbagai macam karakter juga terlihat. Ada yang begitu yakin saat tes, bahkan mengerjakan sambil nyanyi nyanyi (di samping saya). Ada yang tiba tiba otaknya buntu dan menghela nafas panjang (saya). Dan setelah tes pun banyak yang masih meributkan sesuatu misalnya ragu tadi sudah tanda tangan atau belum di lembar jawaban.
Banyak yang asik ngobrol ngobrol bagi yang ikut tes dengan teman temannya. Dan saya cuma plonga plongo saja. Karena tidak ada yang saya kenal. Inilah namanya sendiri di tengah keramaian kawan. Dan saya memilih untuk menjadi observator saja. Melihat lihat dan mengamat amati.
Dan masih ada tes lagi yang harus saya lalui. Semoga saja ini jalan yang terbaik untuk saya, dan akhirnya bisa diterima. Namun, kalaupun tidak, semoga saya senantiasa diberi keikhlasan, dan diberi kekuatan lagi untuk terus semangat dan berusaha, amiin.
2011/03/09
Umur Berapakah Pertama Kali Dipanggil Pak / Bu?

Kemarin, saya berkeliling mengurus SKCK. Tahu sendiri kan prosesnya? ribet. Harus kesana kemari. Nah, tempat ketiga yang saya datangi adalah kantor kecamatan. Setelah menyerahkan berkas dari desa saya pun menunggu di luar untuk di tanda tangan dan di stempel. Pas saya menunggu ada salah satu ibu petugas yang keluar ruangan. Saya melihat dan bermaksud menyapa walaupun nggak kenal. Ternyata si ibu ini dulu yang menyapa saya. Namun terlihat bingung menentukan sapaan yang pas. Akhirnya meluncurlah kata kata, mau daftar apa PAK pakai SKCK nya? akhirnya saya jawab untuk mendaftar di salah satu bumn.
Nah, untuk saya pertama kali dipanggil pak umur 22 tahun. Si ibu memanggil saya pak mungkin dari pakaian yang saya kenakan. Karena sebelum kata itu meluncur si ibu mengamat amati saya dulu. Saya sengaja memakai pakaian yang agak formal karena akan keluar masuk kantor.
Sebenernya ini kali kedua saya dipanggil pak. Beberapa minggu lalu adalah yang pertama. Selesai jumatan saya mampir di foto kopi untuk membeli amplop. Pakaian yang saya kenakan tentu baju muslim dan pakai celana bahan warna hitam. Setelah saya masuk dan tanya tanya si penjaga toko memanggil saya pak. Gubrak! hehe. Memang pada saat itu karena agak lama nggak ada urusan sesuatu apa saya males cukur kumis dan jenggot. Memang sih nggak separah tom hanks di film cast away tp sudah cukup morat marit (walaupun memang aslinya dari sononya tampang saya juga morat marit, hehe). Apalagi ditambah baju koko ala bapak bapak, klop deh.
Rasanya agak aneh juga dipanggil pak. Tapi juga terasa bertambah dewasa beberapa kali lipat, hehe. Biasanya sih saya kemana mana dipanggil mas. Nah, bagaimana dengan anda? kapan pertama kali dipanggil pak / bu?
2011/03/03
Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Akhirnya, setelah film pocong ngesot, suster ngesot, babi kepet ngesot, hantu jembatan ngesot, hantu buah buahan ngesot, hantu rumah sakit ngesot, hantu janda perawan ngesot, dan semua makhluk ngesot yang lain, ada juga film produksi anak negeri yang menurut saya menarik. Film menarik ini berjudul ”Alangkah Lucunya (negeri ini)”. Film yang sangat lengkap pesannya menurut saya, baik nasionalisme, sosial dan tentu ciri khas pak Dedy Mizwar, unsur religius nya kental. Nah buat yang penasaran ingin nonton, berikut ini saya ceritakan sedikit jalan ceritanya.
Awal mula film ini diceritakan seorang sarjana management bernama Muluk sedang berkeliling mencari pekerjaan. Kisah ini sedikit banyak juga saya alami, hehe. Saya juga baru lulus dan sering muter muter mencari kerja. Nah, di tengah perjalanan ketika melintasi sebuah pasar dia mendapati seorang anak yag tengah mencopet bersama rekan rekannya. Setelah dibuntuti akhirnya si anak tertangkap, namun akhirnya ia melepas anak tersebut. Nah, tentang anak pencopet inilah yang akan mengisi cerita film ini.
Muluk menyukai seorang anak tetangganya. Namun karena ia tidak punya pekerjaan ayah si gadis tidak setuju, dan mengancam menikahkan anaknya dengan ”calon” anggota DPR. Serinkali juga terjadi perdebatan antara ayah si Muluk dan si ayah si gadis mengenai pendidikan. Apakah pendidikan itu penting atau tidak, pertanyaan yang menggelitik menurut saya.
Akhirnya setelah sumpek kesana kemari mencari pekerjaan, dan sempat kepikiran beternak cacing, Muluk bertemu lagi dengan si anak pencopet. Muluk meminta kepada si anak yang bernama komet untuk menunjukkan tempat tingalnya dan teman – temannya. Ternyata Muluk memiliki rencana. Setelah bertemu dengan anak – anak pencopet dan bosnya, Muluk mengajak bekerja sama. Ia menawarkan untuk mengelola sebagian hasil mencopet sebesar 10 persen, dan mereka setuju.
Dimulailah manajeman profesional di kumpulan pencopet cilik ini. Pembagian daerah kerja dilakukan. Hasil mencopet dicatat dalam pembukuan yang rapi, dan sebagian disimpan dalam bank. Dan hasilnya pun lumayan. Dalam waktu sekejap sudah terkumpul jutaan rupiah. Muluk pun ingin memberikan sesuatu kepada anak anak ini. Yang paling penting tentu, pendidikan. Ia mengajak temannya seorang sarjana pendidikan yang pekerjaan sehari harinya bermain gaple di pos ronda. Tidak mudah mengajak anak anak ini belajar. Akhirnya setelah di iming imingi bahwa dengan pendidikan mereka bisa mencopet lebih banyak misal dengan menjadi koruptor, mereka pun semangat. Muluk juga mengajak pipit tetangganya yang lain untuk mengajar agama. Resmilah, Muluk dan kedua temannya ini bekerja dan digaji oleh para pencopet.
Apa yang dilakukan Muluk ini banyak membawa manfaat. Ia memiliki penghasilan. Temannya tidak pernah main gaple lagi dan dengan semangat mengajarkan nasionalisme. Pipit tidak lagi hobi mengirim kuis dan berharap hadiah jutaan. Anak-anak pencopet pun berubah. Mereka menjadi nasionalis sekaligus religius. Suatu hari ayah muluk, calon ayah mertua, dan ayah pipit datang. Ketika mereka tahu gaji yang diterima anak anaknya dari mencopet mereka pun kecewa. Selama ini Muluk mengatakan kepada ayahnya bekerja di bagian pengembangan sumber daya manusia. Muluk pun memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya dengan para pencopet ini. Namun, sebelum pergi muluk menawari beberapa anak untuk menjadi pengasong. Awalnya tidak ada yang mau. Namun, setelah Muluk pergi, bos si pencopet menawari lagi dan beberapa anak bersedia. Resmilah beberapa anak tersebut berhenti mencopet dan menjadi pengasong.
Suatu ketika, muluk tengah mengikuti kursus mengemudi, agar lebih mudah memperoleh pekerjaan kalau bisa menyetir. Di tengah jalan muluk bertemu dengan mantan anak pencopet yang kini mengasong di jalan. Ia bangga sekali karena kini si anak bekerja halal. Namun, tiba tiba datang rombongan satpol pp dan berusaha menangkap anak anak mantan pencopet. Untunglah, dengan bantuan Muluk mereka bisa lolos, dan sebagai gantinya si Muluk yang ditangkap. Diiringi lirik soundtrack, tanah air... kutidak kulupakan.., si muluk diangkut petugas, dan anak anak mantan copet hanya bisa melihat dari jauh dan menangis. Di akhir film disebutkan salah satu pasal dalam UUD, yakni pasal 34, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, yang tentu saja akan membuat tersenyum yang melihatnya.
Film ini sangat detail dan sangat lengkap pesan yang disampaikan. Seringkali kita dibuat tersenyum sendiri. Dan memang benar. Negeri ini memang lucu, ironis dan lucu. Undang undang di negara ini begitu bagus dan terdengar begitu indah. Namun kenyataanya? Sebuah ironi. Pesan pesan di dalam film ini tersampaikan dengan baik dengan didukung pemain pemain dengan akting yang bagus. Semua juga sesuai proporsinya. Dan yang penting yang disampaikan film ini berimbang. Tidak hanya kritik, namun juga memberikan inspirasi untuk perubahan. Dan di akhir film dipertegas lagi bahwa bagaimanapun negeri ini harus kita cintai. Negeri ini, dengan carut marutnya kondisi yang ada sangat membutuhkan kita.
2011/02/28
My Sister’s Keeper
Satu lagi drama keluarga yang mungkin layak dimasukkan dalam list film yang akan ditonton. My Sister’s Keeper, yang juga ada dalam bentuk novel, siap mengaduk aduk perasaan anda ketika menontonnya.
Kisah film ini berpusar kepada dua kakak beradik, Kate dan Anna. Sejak kecil Kate didiagnosis menderita leukimia. Kate membutuhkan transplantasi. Namun ternyata kedua orang tuanya dan adik laki lakinya bukanlah donor yang tepat. Nah, si dokter memiliki ide nyeleneh. Bagaimana kalau punya anak lagi? Yang cocok untuk donor si kate. Orang tuanya pun bertanya, bagaimana bisa yakin kalau punya anak lagi bisa cocok untuk donor Kate? Si dokter menjawab, teknologi memungkinkan itu. Akhirnya dari sperma sang ayah dan sel telur si ibu yang dibuahi secara buatan, lahirlah anna.
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Anna sangat cocok untuk donor si Kate. Anna pun mulai menjadi penyelamat Kate sejak ia berusia 5 tahun. Walaupun masih sangat kecil, Anna harus sudah menghadapi resiko yang sangat besar mempertaruhkan nyawa di meja operasi. Dan beberapa kali operasi berikutnya pun menyusul.
Atas pertolongan Anna, akhirnya Kate bisa bertahan hingga remaja. Namun kondisinya pun terus memburuk. Dan kali ini, Kate membutuhkan transplantasi ginjal. Dan tentu saja orang yang cocok sebagai donor tak lain adalah Anna.
Tanpa diduga Anna berontak. Dengan uang seadanya ia pergi ke seorang pengacara. Ia mengatakan kepada sang pengacara bahwa ia ingin memiliki kemerdekaan atas tubuhnya dan tentu saja organ organ yang ia miliki di dalamnya.
Anna mendapat tentangan yang hebat dari ibunya. Dari seluruh anggota keluarga, ibunya lah yang sangat bersikeras agar Kate tetap hidup, karena dia adalah bagian dari keluarga. Anna pun harus mengahadapi ibunya sendiri di pengadilan. Ibu Anna sebenarnya adalah pengacara. Namun akhirnya memutuskan berhenti bekerja dan fokus untuk merawat Kate. Selama persidangan kondisi Kate pun terus memburuk.
Dalam persidangan akhirnya fakta yang sebenarnya terungkap. Seseorang dibalik pengaduan anna kepada pengadilan tak lain adalah Kate sendiri. Kate lah yang mendorong Anna untuk ke pengadilan. Kate mengatakan kepada Anna bahwa ia berhak atas hidupnya sendiri, bukan sebagai suku cadang untuk dirinya. Anna berhak untuk tumbuh dewasa menjadi gadis yang cantik, menjadi chearleader atau apapun yang ia inginkan. Dan dia sendiri tidak keberatan terkikis sedikit demi sedikit oleh penyakitnya. Penyakit itu boleh membunuhnya, namun ia tidak ingin penyakit itu juga membunuh keluarganya. Memang, banyak hal berubah. Ibunya berhenti bekerja, sehingga ayahnyalah satu satunya yang harus bekerja keras dan jarang di rumah. Adik laki lakinya bermasalah dengan sekolahnya.
Namun yang membuat berat Kate adalah ibunya, yang tidak pernah rela melepasnya, walaupun dia sendiri tidak masalah dan sudah pasrah kalaupun akhirnya meninggal dunia. Setelah diberikan penjelasan oleh Kate akhirnya ibunya menerima, dan operasi cangkok ginjal pun tidak dilakukan.
Karena tidak adanya organ baru yang dibutuhkan, seperti yang telah diprediksi, Kate pun meninggal dunia. Setelah kepergian Kate pelan pelan anggota keluarga yang lain pun mulai menata hidup. Sang ibu menjadi pengacara lagi. Adik laki laki Kate masuk sekolah seni dengan beasiswa. Sang ayah melatih tinju untuk anak bermasalah.
My Sister’s Keeper. Sebuah film yang layak untuk ditonton. Mengajarkan kepada kita bahwa untuk sebagian orang, sekedar hidup saja butuh perjuangan yang luar biasa. Alangkah ruginya bagi orang orang yang begitu saja menyia nyiakan hidup. Dan dalam kondisi yang paling buruk sekalipun kita masih bisa menjadi orang yang paling kuat. Seperti yang dialami oleh Kate. Bagi Kate mungkin bayang bayang kematian adalah temannya yang paling akrab. Namun itu tidak serta merta menjatuhkannya. Justru ia semakin kuat dan berani menghadapinya, karena ia begitu menyayangi adiknya, Anna, dan juga seluruh keluarganya.
2011/02/15
Manusia dan Tuntutan Sosial
Kalau dipikir pikir manusia hidup di dunia ini cuma sebentar. Ibaratnya sekedar singgah, mampir. Namun dalam waktu yang sebentar itu hidup manusia selalu disibukkan dengan berbagai pertanyaan pertanyaan yang tidak pernah habis.
Ketika lulus sekolah, ada pertanyaan yang datang. “Wih, sudah lulus, kerja dimana?”. Pekerjaan bukan semata mata ladang penghasilan. Kadang diperlukan juga untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan semacam ini. Bukti bahwa sebagai manusia benar benar telah berdaya guna.
Akhirnya setelah mencoba mencari berbagai lowongan pekerjaan ada yang nyantol dan diterima. Sudah punya penghasilan sendiri dan hidup mulai mapan. Pertanyaan berikutnya pun datang. “wah, sudah punya pekerjaan, sudah mapan sekarang, kapan mau nikah?”. Pertanyaan yang mungkin sepele dan hanya ditanyakan karena sekedar berbasa basi. Namun sebenarnya efeknya dalam. Siapa juga yang nggak mau nikah (lawong masih normal), tapi gimana mau nikah kalau yang diajak nikah belum ada? Mungkin pertanyaan basa basi yang ditanyakan oleh orang yang sudah menikah / akan menikah ini sepele. Tapi ternyata tidak. Apalagi bagi mereka yang usia sudah lampu kuning namun belum juga bertemu dengan jodohnya. Pertanyaan basa basi sepele ini bisa jadi menohok hati yang paling dalam. Mungkin masyarakat lupa kalau urusan jodoh itu hak prerogatif Sang Pencipta alam semesta ini. Jodoh juga berbeda dengan sekedar jatuh cinta atau rasa suka.
Alhamdulilah, ternyata Allah mengabulkan doa hambanya yang kesepian, dan akhirnya mempertemukan dengan jodohnya dan menikah. Belum juga bernafas, pertanyaan berikutnya datang. “Selamat ya... semoga langgeng bla bla bla... kapan punya momongan?”. Baru juga menikah, sudah ada tuntutan lain yang lagi lagi pertanyaan basa basi. Pada umumnya setahun menikah insya Allah juga sudah mengandung, namun tidak semua demikian. Banyak juga pasangan yang bertahun tahun belum juga dikaruniai anak. Sudah berusaha kesana kemari belum juga berhasil. Bahkan menggunakan teknologi canggih macam bayi tabung dan sebagainya.
Setelah berdoa sungguh dan berusaha keras, akhirnya Allah pun luluh dan memberikan seorang anak. Belum juga si anak bisa berjalan pertanyaan berikutnya muncul. “Kapan nih punya adik? Kasihan lo nggak punya temen”. Heran juga. Kadang kala saudara bukan, tapi kok sampai juga mengurusi masalah punya adik. Memang masyarakat kita unik. Akhirnya setelah berdoa dan berusaha lagi, dikasih lagi seorang anak.
Bertahun tahun tahun kemudian yang juga dipenuhi pertanyaan pertanyaan lainnya, akhirnya tidak terasa anak anak pun beranjak dewasa.
Anak pertama sudah lulus kuliah dan bekerja. Si adik masih berjuang menyelesaikan sekolahnya. Pertanyaan pun muncul kembali. “Wah, putranya sudah lulus dan bekerja ya? Kapan nih mau ngunduh mantu?” dan pertanyaan pertanyaan pun berulang, seakan akan sebuah siklus yang tidak pernah berhenti, hanya berganti masa.
Hidup ini hanya persinggahan, sekedar mampir. Alangkah eman nya kalau habis hanya untuk berpikir untuk sekedar menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut. Nikmati setiap tahap yang akan dilalui dengan berdoa dan berusaha. Namun memang, tahap tahap tersebut tidak sama untuk setiap orang. Ada yang mudah, namun ada yang perlu waktu yang lama untuk bisa ke tahap berikutnya dalam hidup. Dan sebenarnya pertanyaan basa basi tersebut tidak perlu ditanyakan. Karena tidak usah ditanyakan pun sebenarnya kita pasti akan berusaha bertanya dan mencari jawabannya sendiri.

