2013/04/22

Cita –Cita


Setiap pasti punya keinginan tertentu ya kawan. Entah apa itu bentuknya. Ada yang ingin jabatan ini itu, harta atau kekayaan ini itu, macam – macam bentuknya. Banyak memang orang – orang sukses yang memiliki cita – cita tinggi. Dan kerennya mereka tidak sekedar hanya bercita – cita namun juga berusaha untuk mewujudkan cita – cita itu. Macam – macam caranya. Bisa dengan “menghipnotis” diri sendiri untuk mencapai tujuan yang dicapai. Tulis keinginan di selembar kertas taruh di tembok / tempat lain yang sekiranya sering dilihat setiap hari. Katanya, dengan cara seperti itu maka kita bisa lebih fokus untuk meraih apa yang kita cita – citakan.
Dan dengan fokusnya kita mengejar cita – cita maka alam semesta juga mendukung.  Apa ya namanya, the law of attraction atau apalah itu. Jika kita menginginkan sesuatu dan berusaha sungguh – sungguh untuk mewujudkannya maka seluruh alam semesta ini akan bersatu padu untuk membantu mewujudkan keinginan kita. Dan mungkin memang banyak yang menerapkan cara ini dan berhasil pada akhirnya menjadi orang yang sukses menurut versi masing – masing.
Lantas bagaimana dengan orang yang tidak punya cita – cita. Hmm. Kayaknya terlalu berlebihan, mungkin lebih tepat orang yang tidak terlalu bercita – cita. Tipe orang yang justru tidak tenang jika mungkin disuruh menginginkan sesuatu yang muluk – muluk. Dan mungkin saya termasuk tipe yang satu ini. Disaat menghadapi sesuatu yang sifatnya merupakan tantangan, kebanyakan orang di dalam hati pasti mengucapkan “pasti bisa” “aku pasti bisa”. Entah kenapa saya lebih memilih versi “saya coba dan semoga bisa”. Demikian juga dengan cita – cita. Kayaknya saya bakalan stres jika setiap hari setiap saya terbangun dan hal pertama yang saya lihat adalah sebuah kertas yang bertuliskan cita – cita yang saya inginkan dan tentu saja harus saya wujudkan.
Saya juga bakalan merasa aneh kalau setiap pagi sebelum menjalankan aktifitas, sebelum keluar rumah mengatakan pada diri sendiri berulang – ulang hal yang ingin dicapai hari ini, memejamkan mata, ambil nafas dalam – dalam dan mengepalkan tangan ke atas sembari berkata, “aku pasti bisa”. Saya pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kawan tipe seperti ini. Hampir setahun saya menyaksikan rutinitas seperti ini. Tapi memang kelihatannya sangat membangkitkan semangat. Setelah melakukan “ritual” seperti itu seolah olah apapun rintangannya pasti akan dilalui, gunung tinggi akan didaki, lautan luas pun akan diseberangi. Dan selama setahun mengamati, ternyata tidak terlalu sukses – sukses amat. Semoga saja yang lainnya diluar sana banyak yang lebih sukses.
Wajar bagi yang memfokuskan dirinya untuk sukses ternyata pada akhirnya benar – benar menjadi orang yang sukses. Lantas bagaimana dengan orang tipe lainnya, seperti saya juga, yang memilih untuk tidak terlalu bercita – cita. Apakah nantinya bisa ikut – ikutan sukses. Atau mungkin memang sukses bukan tujuan utama saya. Saya lebih memilih untuk bahagia kawan daripada sukses. Bahagia bisa datang dari sukses. Namun kayaknya belum tentu yang sukses pun bahagia. Dan saya setuju dengan kutipan dari pak dahlan dari buku yang beberapa waktu lalu saya beli, “untuk mencapai kebahagiaan mudah, jangan pasang keinginan terlalu tinggi dan jangan menaruh harapan terlalu banyak”. Kalau yang mengatakannya adalah orang yang tidak sukses mungkin biasa. Namun ternyata kutipan ini dicetuskan oleh orang yang kesuksesannya tidak diragukan lagi. Siapa yang tidak kenal Dahlan Iskan yang sekarang menjadi Menteri Bumn. Bos grup media raksasa di indonesia (saya sempat mencicipi di salah satu medianya). Belum lagi bisnis lainnya yang berserakan termasuk pembangkit listrik. Pak Bos ini pingin bahagia dengan tidak terlalu menginginkan sesuatu yang muluk – muluk. Tapi kenyataanya apa yang dia miliki sekarang melampaui bahkan kalaupun dia menginginkan sesuatu yang muluk muluk sekalipun. Ternyata yang mengejar kebahagiaan juga bisa sukses kawan. Dan ini baru menarik. 

2013/04/03

Foto Prewed Murah Meriah Bonus Kamera DSLR

Kelanjutan dari hobi foto -foto saya kawan, saat ini saya tertarik untuk mencari info yang berbau foto preweding. Dan ternyata biaya foto prewed lumayan juga kawan. Lumayan mengharuskan kita merogoh kocek cukup dalam. Namun sebenernya hal ini bisa diatasi tentu memerlukan sedikit kreatifitas.

Gimana caranya? Simpel. Gunakan uang yang sudah dianggarkan untuk membeli kamera. Kalaupun yang baru kemahalan boleh juga yang second dengan kualitas bagus. Cari kamera yang bisa dikontrol dengan remot. Untuk tipe - tipe yang bisa menggunakan remot silahkan browsing aja ya, saya juga tidak hapal, hehe. Peralatan berikutnya yang diperlukan adalah tripod. Kalau masih kemahalan boleh juga pinjam saja tripodnya. Atau kamera ditaruh di tempat / benda di sekitar lokasi foto.

Untuk foto prewed do it your self ini perlu dibuka pintu kreatifitas seluas - luasnya. Terserah tema apa yang diinginkan. Silahkan diskusikan dengan calon partner hidup anda. Bagaimana dengan lokasinya? lokasi pun nggak perlu yang wow wow kawan. Nggak perlu jauh - jauh ke Bali atau Lombok. Bahkan sekedar di lapangan atau area persawahan pun juga bisa menarik. Toh kalau ingin lebih menajamkan model, background belakang akan dibuat full bokeh alias blur.

Bagaimana caranya? Yah, tentunya harus bisa mengoperasikan kameranya kawan. Nggak perlu bisa banget. Tutorialnya pun bertebaran di internet. Silahkan dibaca dan dipraktekan. Setelah mulai bisa mengoperasikan kamera, sudah bisa mengambil gambar yang tajam tidak terlalu terang atau gelap, fokus pas, saatnya beraksi.

 Minta pasangan kawan untuk berada di posisi pengambilan gambar. Atur iso, fokus dan sebagainya. Set mode pengambilan gambar menggunakan remot + timer. Jadi saat shutter diaktifkan menggunakan remot akan ada jeda waktu sesuai timer. Setelah diset silahkan ikutan berpose bersama pasangan. Pencet remotnya.. say cheeseee, jepret!! jadilah satu buah foto prewed. Simpel, terserah gaya apa, tidak perlu sungkan dengan sang fotografer. Biaya hampir sama namun bonus kamera.

Sempet juga bereksperimen mengambil foto dengan metode seperti ini. Saya menggunakan nikon D90, Lensa Nikon 55-200mm dan remot. Remot sengaja khusus saya beli untuk eksperimen ini. Murah meriah kawan, cukup 50rb rupiah, remot nikon mungil sudah ditangan. Hasilnya? lumayan juga kawan. Untuk sesi narsis berdua. Kali ini bahkan tukang foto pun ikut - ikutan pingin difoto, hehe.
Semoga bermanfaat.

2013/03/24

FOTODUNIAKU.WORDPRESS.COM


Sebenarnya agak lupa juga apa saya sudah menulis tentang blog baru saya ini ya? Berhubung ternyata koleksi foto saya sudah lumayan banyak kawan akhirnya saya iseng membuat satu blog khusus untuk menampung hasil jepretan amatiran saya. Blog ini tidak terlalu banyak cuap cuap nggak penting seperti blog ini, hehe, tapi berisi kumpulan koleksi foto saya. 

Foto - foto amatiran sih sebenarnya, sekedar iseng sembari jalan - jalan atau pas menemukan momen / obyek yang menarik. Sekaligus juga memudahkan saya pas lagi pingin melihat - lihat  hasil jepretan saya yang dulu - dulu daripada capek membongkar file di hardhisk. 

Oke, silahkan kunjungi blog foto amatiran saya, silahkan beri komentar, keripik pedas, kritik dan sebagainya.

2013/03/18

Review Amatiran Nikon D90

Setelah beberapa saat berpartner dengan Nikon D3100 dan mulai mengerti sedikit bagaimana mengatur seting manual di kamera DSLR akhirnya saya mulai melirik partner yang lain. Yah, memang sih belum bisa dikatakan sangat menguasai menggunakan partner saya terdahulu, namun saya putuskan untuk sekalian belajar menggunakan partner lain dengan fitur yang berbeda.

Awalnya ada beberapa pilihan. Saya suka Nikon namun tidak ada salahnya juga mencoba canon. Lihat sana sini berbagai review agaknya yang menarik adalah 60D. Namun mempertimbangkan saya sudah familiar dengan Nikon dan saya juga sudah punya lensa untuk Nikon akhirnya pilihan kepada canon dicoret. Untuk Nikon pun masih mengerucut dua pilihan Nikon D5100 dan D90. Dengan budget yang saya siapkan agaknya dua kamera ini yang masuk kriteria.

D5100 merupakan kakak dari partner saya sebelumnya D3100 namun dengan fitur yang lebih lengkap. Disebut – sebut sudah menggunakan sensor terbaru seperti yang digunakan kamera dslr tipe elit sehingga kualitas gambarnya pun bagus. Dilengkapi dengan layar flip yang memudahkan mengambil angle ekstrim. Nggak perlu dlosoran untuk mengambil sudut gambar aneh – aneh. Di salah satu review pun dijelaskan bahwa kamera ini jelas – jelas mengalahkan D90 dalam berbagai hal. Sensor lebih baru, ringan, lebih murah. D90 jadul mahal dan berat.

Namun yang dibahas di forum – forum penggemar kamera berbeda. Ternyata justru D90 mendapat tempat di hati para anggota forum. Kamera jadul dan berat ini ternyata masih banyak diminati. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil kamera ini.

Kesan pertama memegang Nikon D90 ini berat namun lebih mantap digenggam. Di bodynya banyak tombol aneh – aneh yang kemudian saya tahu tombol –tombol ini sangat memudahkan dalam mengambil gambar. Misalnya tombol putar untuk speed dan aperture yang terpisah yang sangat memudahkan mengatur speed dan aperture. Di bagian atasnya juga ada lcd monochrome kecil untuk melihat berbagai indicator.

Bagaimana dengan hasil fotonya? Teman saya pernah bilang mungkin hasilnya tidak jauh berbeda tinggal bagaimana kita mengambil gambar. Namun ternyata harga memang tidak bohong kawan. Orang jawa bilang ono rego ono rupo. D90 body nya saja tanpa lensa lebih mahal dari D3100 beserta lensa kitnya, fiuh. Entah Cuma perasaan saya saja atau bagaimana, namun hasil foto terlihat lebih “cling” bersih, warnanya tajam. Rasanya nggak usah diedit juga nggak papa. Hasil yang terlihat di LCD kamera sama setelah dipindah ke laptop. Dulu sewaktu masih memakai D3100 di lcd kamera hasil foto terlihat tajam dan keren, namun entah mengapa setelah dipindah ke laptop hasilnya kurang bagus. D90 ini saya pasangkan dengan 55-200mm dari Nikon juga. Pinginnya saya pasangkan juga lensa fix, tapi ambil nafas dulu, biar kantong nggak jebol.

Untunglah puas dengan hasilnya walaupun sebenarnya saya agak tergesa – gesa memilih kamera ini. Belum terlalu banyak lihat review ini itu saya putuskan untuk memilih tipe ini. Maklum agak kejar tayang soalnya saya pingin jepret2 perayaan nyepi semacam ogoh – ogoh dan omed – omed an. Untuk contoh hasil fotonya bisa dicek di blog saya khusus jeprat - jepret fotoduniaku.wordpress.com.

2013/01/29

Akhirnya Jemari Ini Bisa Menari Lagi

Sudah lama sekali rasanya jari – jari tangan saya tidak memencet tuts keyboard untuk mengetik artikel. Berawal dari erornya beberapa tuts keyboard saya secara tiba – tiba. Rusaknya pun nanggung kawan. Hanya beberapa huruf saja yang eror. Eror satu atau seluruh tuts pun sebenarnya sama. Sama – sama harus ganti keyboard. Tuts sempat bisa dipakai kembali setelah saya utek – utek. Saya preteli si tuts membandel ini. Ternyata dibalik tuts ini lumayan mengerikan. Banyak debu dan benda nggak jelas lainnya termasuk rambut. Namun akhirnya jurus ngawur ini tidak bertahan lama karena beberapa tuts membandel itu akhirnya eror lagi. Sementara untuk kerja di kantor saya menggunakan keyboard usb biasa yang dipakai pc.

Laptop saya ini sudah lumayan jadul kawan. Dibeli sejak tahun pertama kuliah tahun 2006 akhir. Jaman laptop masih lumayan mahal. Laptop sejenis milik saya ini mungkin sudah banyak bertebaran di rongsokan servis komputer. Namun entah kenapa punya saya yang satu ini lumayan bandel. Bahkan dulu pas saya kuliah pada saat membawa pernah kecelakaan motor dan layar laptop ini pun mangap. Namun ternyata masih bisa dipakai, hingga sekarang. Kalau saja saya tidak kecantol kamera dan segala atribut perlengkapannya pasti laptop ini sudah pensiun.

Dengan keyboard usb laptop ini pun tidak masalah dipakai kerja. Namun menjadi hal yang repot ketika saya ingin mengetik di kos. Untuk mengedit beberapa huruf sih tidak masalah menggunakan on screen keyboard yang harus dipencet satu – satu menggunakan mouse. Repotnya ketika ingin mengetik artikel. Akhirnya saya membeli satu keyboard usb untuk dipakai di kos. Keyboard usb ini terbuat dari karet dan elastis. Awalnya saya pikir aman dari debu. Ternyata setelah sampai dikos keyboard jenis ini susah sekali untuk dipakai mengetik cepat 22 jari (2 jari tangan kiri 2 jari tangan kanan) gaya mengetik yang saya temukan sendiri. Terpaksa mau tidak mau keyboard bawaan ini harus diservis.

Seharian browsing servisan laptop telpon sana sini ternyata sudah lumayan susah untuk mencari keyboard laptop saya ini. Ada satu yang lumayan mahal itupun bukan keyboard aslinya. Saya keliling toko komputer pun demikian. Kosong. Akhirnya saya coba ke sebuah mall khusus komputer dan iseng tanya ke salah satu counter servis. Counter servis tersebut tidak punya stok namun dicoba dicarikan. Laptop saya dibawa dan si tukang servis berkeliling memperlihatkan laptop jadul saya ke counter yang lain. Akhirnya salah satu counter ada yang punya. Saya lihat terongok laptop seperti milik saya dengan kondisi mengenaskan tanpa layar monitor. Keyboardnya kemudian dicopot dan dipasangkan ke si jadul milik saya. Tara.. masih berfungsi kawan. Lumayan daripada tidak ada sama sekali. Keyboard ini pun asli bawaan pabrik. Melihat sekeliling counter servis saya jadi bangga dengan si jadul ini. Di sana sini terongok laptop keluaran baru bertumpuk – tumpuk. Bahkan dari merek yang terkenal mahal. Kata si tukang servis laptop saya bisa masuk muri karena masih bisa bertahan sampai sekarang.

Sekarang jari – jari ini sudah bisa menari lagi diatas tuts keyboard. Masih kepikiran untuk mengganti dengan yang baru. Tapi nanti sajalah. Setelah ganti adaptor, keyboard dan diinstal ulang laptop ini kembali fresh dan siap menemani saya mengetik atau sekedar edit foto hasil hunting.

Berburu Barang Murah Lewat Internet

Permisi mbak, mau beli barang A ada? Ritual yang sering kita lakukan pada saat akan membeli sesuatu. Jual beli konvensional di toko – toko yang ada di daerah kita. Namun apa jadinya ternyata kita juga bisa membeli sesuatu yang lain di luar pilihan yang ada di toko? Bahkan dari suatu tempat yang jauh? Pasti menarik.

Yup, itulah yang saya rasakan akhir – akhir ini kawan. Saya punya hobi baru. Browsing barang – barang nggak jelas di situs jual beli online. Saya banyak menemukan benda benda menarik dan tentunya harganya lebih murah / sulit didapat di sekitar tempat saya berada. Barang barang tersebut bisa baru atau bekas pakai. Ada ungkapan apa yang berarti untuk kita belum tentu juga berarti untuk orang lain bukan? Dalam jual beli barang bekas hal ini sangat menarik. Karena sudah nggak diperlukan lagi, daripada membuat penuh rumah lebih baik dijual saja. Disisi lain nun jauh entah dimana ternyata ada orang yang sedang memerlukan barang yang kita jual tersebut. Terjadilah transaksi saling menguntungkan. Pihak pertama mendapat tambahan pemasukan dari barang yang sudah tidak terpakai dan pihak lainnya memperoleh barang yang dicari yang tentunya harganya lebih murah daripada membeli baru.

Dari pengalaman saya sudah beberapa kali bertransaksi semacam ini. Bahkan kayaknya saya mulai agak hobi mengoleksi barang second buruan ini. Sebut saja kamera DSLR Nikon D3100, lensa Nikon 55-200mm, blackberry dan charger laptop jadul acer saya. Beberapa barang juga saya beli baru sebut saja perlengkapan untuk turing motor, dudukan gps, hygrometer, head set, tv, hingga mp3 player.

Nggak gengsi beli barang second? Oo tidaak. Bahkan terkadang lebih menarik kawan. Ada rasa kepuasan tersendiri setelah melakukan riset browsing berbagai situs akhirnya menemukan barang berkualitas dengan harga selisih cukup jauh dengan harga barunya. Setiap barang juga memiliki kisah tersendiri saat dibeli.

Belanja online tentu ada resiko utama yang menghantui. Bisa saja kita ditipu kawan. Karena kita tidak bisa bertemu tatap muka dengan penjual. Itulah mengapa sangat dianjurkan untuk menggunakan metode COD atau cash on delivery. Barang diantar / janjian di suatu tempat, cek barang, cocok dibayar di tempat itu juga. Untuk barang dengan nominal tidak terlalu besar barulah saya berani untuk transfer langsung.

Pertaruhan terbesar saya adalah ketika saya membeli lensa Nikon 55-200mm. di tempat saya berada lensa second jenis ini susah didapat. Akhirnya saya menemukan dengan kondisi yang lumayan baik di kota Surabaya. Setelah deal harga, penjual tidak menerima rekber di bawah nominal tertentu. Rekber maksudnya rekening bersama kawan. Pemilik rekening bersama ini me makelar i transaksi. Pembeli mentransfer uang ke rekber. Oleh rekber uang ditahan sampai dengan adanya konfirmasi pengiriman oleh penjual. Setelah penjual memberikan bukti pengiriman barulah uang yang ditahan rekber tadi diteruskan kepada penjual tentunya rekber ini memungut fee. Untunglah si penjual setuju untuk cod. Uang saya transfer kepada teman saya yang ada di Surabaya untuk cod dengan penjual. Pertaruhan tidak berhenti sampai disini. Saya sama sekali tidak bisa memeriksa kondisi lensa yang saya beli.namun akhirnya saya beranikan diri dengan berpedoman bahwa penjual ini memliki rating yang sangat baik. Dan untunglah lensa masih dalam kondisi baik dan aksesoris pendukungnya lengkap disertakan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat akan bertransaksi online:
1.    Sangat amat utamakan sekali (top priority) untuk cod, cari tempat yang ramai dan aman untuk cod.
2.    Periksa latar belakang si penjual apakah terpercaya atau tidak, telusuri forum lain tempat si penjual menjajakan dagangannya.
3.    Pastikan sudah mengetahui harga barunya sebagai perbandingan.
4.    Yang namanya barang second pasti tidak 100 persen sempurna, cari penjual yang dengan jujur menceritakan kelemahan barang yang dijual
5.    Utamakan memilih karena fungsi bukan karena tampilan si barang
6.    Jangan tergiur dengan harga yang terlalu murah, jangan serakah kawan.
7.    Hindari penjual yang setengah mendesak dan terlalu bersemangat agar kita segera mentransfer uang (saya pernah ditelpon lamaaa sekali oleh penjual kamera yang saya perkirakan penjual kamera tipu2 kw3 yang semangat sekali mendesak saya transfer untuk kamera dslr dengan harga sangat murah, sipnya si penjual mencatut nama toko kamera yang memang ada di sekitar saya berada namun tidak berani diajak cod, ocehan si penjual mirip ocehan fans mlm yang berusaha memprospek korbannya)
8.    Jangan bosan bosan membandingkan harga satu lapak dengan lapak lain di forum jual beli, selisihnya bisa lumayan.
9.    Berdoa : )

Bagaimana kawan? Tertarik mencoba? Selamat berburu!

Kesan Pertama Memakai Lensa Telephoto Nikon Dx 55-200mm Vr

Ketika membeli sebuah kamera DSLR biasanya disertakan pula lensa bawaan alias lensa kit. Demikian pula dengan kamera DSLR saya. Kebetulan untuk Nikon D3100 yang saya miliki dari sononya sudah dilengkapi dengan lensa kit bawaan Nikon DX 18-55 mm Vr. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan lensa ini sehingga harus diganti. Hasil jepretan lensa kit juga lumayan. Dengan sedikit trik bisa dihasilkan foto yang tajam. Bagi yang menyukai bokeh, lensa kit ini juga bisa menghasikan bokeh yang halus.

Namun dengan rentang yang cuma sampai dengan 55 mm tentunya lensa ini memiliki keterbatasan dalam hal zoom nya. Banyak obyek menarik yang terlewat dikarenakan keterbatasan ini. Obyek – obyek yang jaraknya agak jauh tidak bisa dibidik. Kita juga tidak bisa mengambil foto hewan tanpa membuat si hewan ini takut dan melarikan diri sebelum kita berhasil mengambil fotonya. Lensa ini juga tidak memungkinkan mengambil foto candid.

Karena alasan diatas akhirnya saya mulai tertarik dengan lensa telephoto dengan range yang lebih jauh lagi. Awalnya terdapat beberapa pilihan yaitu Thamron 18-200 mm, Thamron 70-300 mm, Nikon DX 55-200 mm VR. Thamron 18-200 mm masuk list karena rentang lensa ini sangat luas. Cukup bawa satu lensa kemana – mana. Bisa untuk jarak dekat maupun jauh. Itu mengapa lensa dengan range ini disebut lensa sapu jagad. Nggak perlu gonta – ganti lensa lagi. Namun akhirnya lensa ini saya coret karena harganya masih mirip – mirip dengan lensa Nikon dan toh saya sudah punya lensa kit 18-55mm untuk jarak dekat. Pilihan kedua adalah thamron 70-300 mm. dengan harga yang cukup terjangkau lensa ini menawarkan range yang cukup jauh 300 mm. Namun akhirnya lensa inipun harus saya coret karena belum adanya fitur VC yang mengurangi kemungkinan foto blur. Akhirnya pilihan saya jatuhkan ke lensa ketiga Nikon DX 55-200 mm Vr. Lensa ini pas sekali berpasangan melengkapi lensa kit saya 18-55 mm. Dan dari sisi brand pun tidak usah diragukan lensa keluaran Nikon. Harga terjangkau dan sudah dilengkapi VR. Rujukan lensa kenrockwell pun merekomendasikan lensa ini. Lensa yang memberikan lebih dari apa yang kita bayarkan.

Setelah lensa ditangan, uji coba dilakukan di lokasi yang tidak terlalu jauh. Cukup di area persawahan di belakang rumah saya. Sebenarnya pinginnya pagi – pagi buta sudah turun ke sawah hunting. Tapi efek sugesti bahwa hari itu hari libur membuat mata saya terlelap lagi setelah sholat subuh. Akhirnya matahari sudah lumayan tinggi ketika saya terjun ke sawah. Aktifitas petani sudah mulai rame. Padi di sawah sudah mulai menguning kawan. Sebentar lagi panen. Namun burung – burung tampaknya berusaha mengganggu kebahagiaan petani. Burung – burung berpesta pora memakan padi yang menguning. Pak tani pun berusaha mengusir burung – burung ini menggunakan berbagai cara. Dengan plastik yang diikat di tali kemudian digerakkan, kentongan, bahkan seringkali dengan teriakan – teriakan. Sebuah drama yang asik sekali untuk dibidik.

Tidak hanya itu, hewan – hewan kecil di sawah pun tidak luput menjadi target bidikan kamera saya. Beberapa ekor capung dan kupu – kupu berhasil saya bidik. Hal yang sulit dilakukan dengan lensa kit. Sebelum berhasil mengambil gambar pasti si kupu sudah terbang duluan karena kita terlalu mendekat. Dengan lensa baru ini cukup zoom dan si kupu – kupu cantik ini tidak terganggu ketika saya ambil gambarnya. Bagaimana hasilnya? Yah, walaupun tidak sedetail lensa khusus makro, namun saya cukup puas. Objek cukup tajam dan bokeh yang dihasilkan lumayan halus.

Demikian review singkat dari tukang foto amatiran mengenai lensa Nikon DX 55-200 mm VR. Maap saya bukan cak kenrockwell ahlinya lensa. Saya cuma amatiran pemula yang ingin berbagi. Buat rekan – rekan yang masih bingung memilih lensa, mungkin lensa telephoto Nikon DX 55-200 mm  VR ini layak untuk dipertimbangkan dan dikoleksi melengkapi lensa kit Nikon 18-55 mm VR. Lensa keluaran Nikon, sudah dilengkapi VR, motor di lensa untuk autofocus yang cocok digunakan DSLR tanpa motor di bodi, harga terjangkau.
foto bisa dilihat di fotoduniaku.wordpress.com