2013/01/29

Membuat Foto Bokeh / Blur dengan Lensa Kit 18-55 mm untuk Pemula

Salah satu keunikan foto yang dihasilkan dari kamera DSLR adalah memungkinkannya kita mengatur ruang tajam di dalam foto. Hal ini bisa dilakukan dengan mengatur tingkat aperture. Dengan memberikan pengaturan pada aperture kita bisa membuat foto dengan objek fokus dan background blur dan sebaliknya.

Dengan lensa fix yang memang spesialis portrait foto semacam ini mudah untuk dihasilkan. Namun dengan lensa kit bawaan 18-55 mm memerlukan beberapa trik tersendiri agar bokeh yang dihasilkan lumayan halus. Berikut beberapa tips dari saya, yang juga baru belajar.

- set aperture ke angka yang lebih kecil namun jangan yang paling kecil, set nilai setelah nilai maksimal
- pilih background yang agak jauh, semakin jauh terlihat semakin blur
- hasil coba – coba saya ternyata hasilnya agak lumayan di focal length maksimal, jadi saya set di 55mm dan saya biarkan, saya yang bergerak maju / mundur seolah – olah lensa fix
- untuk pemula dan amatir (seperti saya) mode A dianjurkan dipakai untuk membuat foto semacam ini, karena kita tidak perlu dipusingkan mengenai pencahayaan.

Demikian tips dari amatiran, semoga bermanfaat bagi sesama pemula.

Foto bisa dilihat di http://fotoduniaku.wordpress.com

Fotografi Anak

Anak – anak adalah obyek foto yang lumayan menarik kawan. Ekspresi natural dan polos memberikan keunikan tersendiri. Untuk mengambil gambar pun tidak semudah orang dewasa. Hal ini dikarenakan anak – anak sulit untuk diarahkan. Namun justru itu keunikannya. Kita dituntut untuk lebih sabar menunggu momen tertentu yang menarik. Pengalaman demikian saya dapatkan ketika jalan – jalan bersama keponakan beberapa waktu yang lalu. Usia keponakan saya ini 2 tahun. Masih semangat – semangatnya lari – larian kesana kemari.

Mumpung lagi pulang kampung saya mengajak keluarga untuk jalan – jalan ke pantai, termasuk keponakan saya ini. Ternyata ini pertama kali dalam hidupnya pergi ke pantai. Setelah beres menggelar karpet yang sudah dipersiapkan saya bongkar tas kamera dan mulai jepret – jepret. Susah sekali kawan. Kita harus bersiap – siap membidik sewaktu – waktu ada momen yang menarik. Jangankan untuk diarahkan, lawong menoleh pun tidak. Sesekali saya perlu memanggil keponakan saya ini dan ketika menghadap kamera langsung jepret.

Karena baru pertama kali keponakan saya ini masih takut – takut mendekat ke air. Begitu terkena ombak langsung menangis dan minta digendong. Dan ternyata lumayan berat juga kawan. Saya tidak pernah membayangkan menggendong anak umur 2 tahun tenyata lumayan bikin keringetan juga. Apalagi ditambah cuaca yang cukup panas. Sepulang dari pantai pun masih berlanjut naik odong – odong di halaman pasar tradisional yang kami temui di perjalanan pulang.

Berikut beberapa hasil jepretan saya:

Dari percobaan saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mengambil gambar anak – anak:
- sebisa mungkin kamera dalam posisi siap bidik, jadi begitu ada momen menarik langsung jepret.
- nggak usah diarahkan untuk bergaya, justru semakin natural akan semakin menarik kawan
- untuk membuat si anak menghadap kamera panggil namanya, namun sebelumnya kita sudah siap dengan kamera dalam posisi membidik
- Untuk tipe pemalu seperti keponakan saya, kayaknya menggunakan lensa telephoto lebih menarik karena bisa mengambil gambar dari kejauhan.

Membuat Dry Box Kamera Murah, Efektif, Tested dengan Hygrometer

Membeli kamera DSLR ternyata buntutnya panjang kawan. Bukan hanya aksesorisnya yang seabrek dan menggiurkan dan tentu saja harganya lumayan mahal, kamera ini juga memerlukan perlakuan khusus dalam penyimpanannya. Setelah baca – baca berbagai artikel tentang lensa jamuran saya jadi lumayan ngeri juga. Ternyata lensa bisa panuan juga kawan. Dan kalau sudah ada bakal jamur di lensa, tinggal tunggu waktu jamur tersebut berkembang dan menjalar di permukaan lensa. Efeknya? Yah bayangkan saja mata kawan jamuran. Pasti nggak bisa melihat dengan jelas kan?

Ditambah lagi kamar saya lumayan lembab. Sinar matahari terhalang oleh jajaran kamar kos depan dua lantai membuat kamar saya hanya kebagian seuprit sinar matahari. Jaket kulit yang saya gantung saja dijangkiti fungi ini. Kalau jaket kulit sih masih bisa ditanggulangi dengan dilap dengan agak keras. Kalau lensa? Harus diperbaiki. Dan tidak murah.

Browsing sana sini akhirnya sampailah saya di toko – toko online yang memajang drybox untuk kamera. Kotak plastik ini dari sononya memang didesain untuk menyimpan kamera. Harganya bervariasi dari yang paling kecil seharga 300 ribuan sampai jutaan. Karena sudah didesain khusus, kamera ini juga dilengkapi dengan alat mengukur kelembaban atau hygrometer dan penyerap lembab silica gel. Versi mahalnya malah memakai silica gel listrik.

Mau simpel dan kamera awet? Gampang. Beli saja drybox jadi. Namun saya memerlukan jurus kere aktif. Ditambah lagi pengeluaran bulan ini sudah lumayan jadi harus agak mengencangkan ikat pinggang. Harus dicari alternatifnya. Jadilah saya keluar masuk supermarket melihat lihat toples semacam Tupperware. Dan ternyata sejenis Tupperware dan lock and lock juga tidak murah kawan. Kedua jenis ini lumayan kedap. Namun  harganya selisih sedikit dengan drybox asli, fiuh. Akhirnya nemulah semacam toples kerupuk, hehe. Untuk lebih menyamarkan toples kerupuk ini saya memilih yang kotak. Ada sejenis yang bulat tapi terlihat sekali kalau toples kerupuk, hehe. Tutup toples ini tidak memiliki pengait seperti lock and lock namun lumayan lentur dan rapet. Dan satu hal yang penting. Harganya terjangkau ukurannya besar. Toples ini saya boyong seharga 35 rb rupiah.

Setelah toples berhasil didapat buruan saya selanjutnya yaitu penyerap lembab. Saya bingung dimana membeli silica gel. Banyak sih toko online yang menyediakan. Namun karena saya butuhnya cepat akhinya saya akali dengan penyerap lembab untuk lemari / ruangan. Kawan semua bisa memperolehnya di supermarket bagian kapur barus dan semacamnya. Harganya 10.500 rupiah. Sekalian saya beli refilnya seharga 10.000 rupiah tiga bungkus.

Saatnya merangkai. Penyerap lembab saya tempatkan di dasar toples. Toples saya bagi dua atas dan bawah. Untuk sekat diantara keduanya saya memakai kardus. Pastikan antar kardus masih ada rongga sehingga udara bisa bersirkuasi. Kamera saya letakkan di bagian atas.

Sampai tahap ini toples drybox sudah bisa digunakan namun masih ada yang mengganjal. Sebenearnya berapa sih kelembaban di dalam toples? Kan nggak lucu juga saya susah payah menyiapkan tempat, eh ternyata kelembaban di dalam toples masih jelek. Akhirnya saya memesan hygrometer di salah satu seller online. Hygrometer saya beli setelah ditambah ongkir menjadi 50rb rupiah. Hygrometer saya letakkan di ruang kamar saya. Tara, ternyata kamar saya memang lembab kawan. Kelembaban 80 persen. Padahal kelembaban normal 40-60 persen. Hygrometer pun saya masukkan toples drybox saya. Hasilnya? Kelembaban di dalam toples hanya 20 persen saja. Hehehe. Proyek Toples drybox ini lumayan berhasil.

Jadi rincian biaya untuk membuat toples drybox ini:
Toples                    : 35rb
Penyerap lembab    : 10500
Refil penyerap lembab: 10500
Hygrometer             : 50rb
Total                        : 106rb

Ternyata biayanya kurang dari sepertiga drybox asli. Apalagi dengan ukuran yang lebih besar. 106 ribu rupiah tentu jauh lebih murah dari harga kamera yang mungkin saja bisa rusak karena lembab.

Demikian, semoga bermanfaat.

2012/12/13

Pemimpin

Apakah kawan semua memperhatikan tayangan televisi dan pemberitaan media beberapa waktu lalu? Pemberitaan dipenuhi dengan kisah pertarungan pemilihan gubernur DKI Jakarta. Walaupun Cuma gubernur di salah satu provinsi dari sekian banyak provinsi di Indonesia, namun hebohnya dirasakan masyarakat satu negara.

Akhirnya kehebohan itupun berakhir dengan ditetapkannya salah satu pasangan yang walaupun bukan asli orang Jakarta, ternyata lebih banyak didukung oleh warga Jakarta. Siap memimpin Jakarta yang besar dan ruwet.

Walaupun Jakarta ruwet dengan macet dan sebagainya ternyata masih ada yang mau mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin. Terlepas memang gaji gubernur dan tunjangan lainnya yang mungkin lumayan, dengan beban kerja yang demikian kelihatannya gaji besar masih kurang. Sebenarnya enak nggak sih menjadi pemimpin? Sehingga banyak sekali orang yang berlomba lomba untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan ada yang sangat kerasan dan berusaha agar tetap jadi pemimpin walaupun sudah berkuasa lebih dari 30 tahun.

Yah memang saya belum pernah menjadi gubernur atau semacamnya, namun dari lingkup yang mungkin jauh lebih kecil yang saya amati menjadi pemimpin tidak selamanya enak juga. Bayangkan seandainya kawan semua memiliki suatu kekuasaan yang mungkin berhubungan dengan banyak orang. Setiap kebijakan yang diambil pasti entah berapa derajatnya ada yang tidak suka bahkan benci. Kita tidak bisa memuaskan satu persatu harapan orang bukan? Pasti ada yang akan benci walaupun juga ada yang suka. Kata benci mungkin sesuatu yang harus diakrabi. Dan ini yang saya agak kurang bisa. Entah mengapa saya tidak terlalu suka dibenci. Bayangkan saja ada tatapan – tatapan tidak suka di sekeliling kawan semua. Betapa tidak nyamannya.

Masih di seputar tidak bisa memuaskan semua orang. Pernahkah kawan mendengar / membaca kisah orang tua dan anaknya yang memiliki seekor keledai? Suatu ketika seorang ayah mengajak anaknya berjalan – jalan dengan membawa seekor keledai. Sang anak diminta untuk duduk menunggang keledai. Suatu ketika di perjalanan bertemu dengan orang lain dan berkata. Anak ini kok tidak sopan. Masak ayahnya yang sudah tua disuruh menuntun keledai sedangkan dia sendiri enak enakan menunggang. Sang anak kemudian turun dan ganti sang ayah menunggang. Perjalanan pun diteruskan. Bertemulah mereka dengan orang lain lagi dan berkata. Ayah ini kok nggak kasihan ya dengan anaknya yang masih kecil? Anaknya disuruh menuntun sedangkan dia sendiri enak menunggang keledai. Ya sudah, karena jengkel sang ayah kemudian menyuruh sang anak ikut naik ke punggung keledai. Mereka menunggang keledai itu bersama sama. Bertemu lagi dengan orang lainnya di perjalanan dan berkata, ayah dan anak ini nggak punya rasa kasihan sama sekali ya? Keledai kecil kurus seperti itu masak dinaiki dua orang? Habis sudah kesabaran sang ayah. Sang ayah pun turun dan meminta anaknya ikut turun. Mereka berdua akhirnya menuntun saja sang keledai tanpa ditunggangi. Perjalanan pun diteruskan dan bertemu lagi dengan orang lainnya dan berkata. Ayah dan anak ini bodoh atau gimana? Masak ada keledai kok nggak ditunggangi? Malah jalan kaki dan Cuma dituntun saja. Gubrak!!

Memuaskan setiap orang adalah sesuatu yang tidak logis. Hal ini yang menurut saya hal yang agaknya lumayan ribet ketika menjadi seorang pemimpin. Pasti akan ada suara – suara miring diluar sana atas apapun kebijakan yang dilakukan. Walaupun sebenarnya kebijakan yang dilakukan adalah kebijakan yang benar dan baik. Menjadi orang baik tidak menjamin tidak ada yang membenci kawan. Kadang ada orang tertentu yang benci justru karena kebaikan yang dilakukan. Bingung ya? Sama. Tapi begitulah hidup.

Apakah suatu saat nanti saya akan menjadi pemimpin? Tidak tahu, dan tidak berambisi untuk itu. Namun jikalau memang saat itu ada dan datang menghampiri kelihatannya saya harus punya telinga yang tebal dan hati yang keras tegas. Berjalan sesuai dengan keyakinan yang saya percaya. Mungkin akan banyak orang yang berkomentar atas anak dan keledai saya, itu wajar. Karena memuaskan keinginan setiap orang sepertinya bukan suatu hal yang logis.

2012/09/26

Cara Mudah Mengolah Foto HDR

  
 


Akhirnya saya punya hobi baru kawan. Sebenarnya hobi yang sudah lama terpendam namun belum dikeluarkan karena peralatan yang dimiliki belum memadai. Sekarang sudah agak lumayan walaupun masih menggunakan peralatan entri level, buat belajar dulu. Sekarang seminggu sekali saya muter – muter jeprat jepret sekalian mengeksplor Bali lebih luas.

Setelah jepret sana sini dan saya bandingkan dengan foto di forum – forum fotografi hasil foto saya kurang tajam. Di forum – forum tersebut warna yang dihasilkan begitu tajam. Biru bisa nampak begitu biru. Begitu juga warna –warna yang lain. Ternyata oh ternyata ini salah satu rahasianya. Mau?
Namanya HDR kawan. High Dynamic Range. Pada prinsipnya, mengolah foto HDR ini yaitu menggunakan beberapa foto yang memiliki exposure yang berbeda – beda kemudian disatukan sehingga memiliki rentang tone yang lebih luas. Efeknya? Warnanya pun tajam.

Sebenarnya untuk membuat foto HDR ini diperlukan 2 hal yaitu bahan dan proses. Bahannya adalah foto dengan tingkat exposure yang berbeda – beda, bisa 3-5 foto. Foto nya harus sama persis hanya exposure nya saja yang berbeda – beda. Di kamera DSLR dapat memanfaatkan fitur auto bracketing. Dengan  fitur ini, dalam sekali jepret dapat dihasilkan beberapa foto sekaligus dengan exposure yang berbeda beda. Untuk menjaga kualitas gambar juga sebaiknya menggunakan tripod. Nah, masalahnya, DSLR yang saya miliki tidak memiliki fitur ini. Jadi kalau mau exposure yang berbeda saya harus menge set exposure nya secara manual. Nah, padahal obeyek harus sama persis. Untuk memastikan saya mengambil obyek yang sama persis diperlukan tripod. Saya juga belum punya tripod, hehe.

Lantas bagaimana membuat foto HDR? Nggak usah kuatir kawan. Kita masih bisa membuat foto HDR HDR an dengan modal foto JPEG biasa, hehe. Tentunya pilih koleksi foto JPEG yang kualitasnya bagus (jangan hasil foto blackberi dipake…). Sudah siap? Baiklah mari kita mulai. Software yang diperlukan dalam prakarya ini adalah adobe photoshop (terserah versi berapa, saya masih menggunakan photoshop 7, maklum laptop jadul) kemudian yang kedua adalah photomatix pro. Dimana downloadnya? Silahkan search sendiri di google.

Setelah menemukan foto yang sekiranya pas, buka adobe photoshop. Disini photoshop kita perlukan untuk mengubah terang dan gelapnya foto. Efek yang sama saat seting exposure digunakan pada DSLR (yah walaupun nggak sama banget sih, setidaknya mirip).

Buka image > adjustment > variations


Di pilihan variations ini kita dengan mudah membuat foto menjadi lebih gelap dan lebih terang. Untuk percobaan pertama ini saya hanya menggunakan 2 variasi dari foto normal hasil jepretan yaitu 1 foto lebih terang dan 1 foto lebih gelap. Save as masing – masing foto tersebut ke dalam format JPEG.



Sekarang saatnya membuka Photomatix Pro.
Load Bracketed Photos > dan browse ketiga gambar yang sudah kita persiapkan. Silahkan atur tingkat exposure nya die v spacing (sebenarnya sesuai yang kita ambil di dslr). Klik OK dan ikuti pilihan yang disediakan klik OK lagi.



Muncul berbagai pilihan hasil foto. Tinggal pilih yang disuka dan sesuaikan parameter yang disediakan, misal saturasi dan sebagainya sesuai selera. Setelah selesai klik > proses.

 
Taraaa…

Foto sebelum diedit:




 

Foto sesudah diedit:

  

Bagaimana??

2012/09/06

Pekerjaan Ini Mulai Agak Menarik

Nggak terasa sudah setahun lebih saya secara resmi mandiri kawan. Rasanya baru kemarin lulus kuliah dan foto – foto kehujanan di depan gedung rektorat. Dan ternyata entah kapan terakhir kali saya menginjakkan kaki lagi disana. Setahun mungkin kalau nggak salah. Pingin lagi menyusuri jalan – jalan yang dulu sering saya lalui saat pulang kampung. Perjalanan 3 jam bermotor yang rasanya sudah sangat amat jauh sekali. Menuju kota tempat saya pertama kali merantau untuk kuliah.

Sekarang sudah berbagai kota saya singgahi. Berbagai pulau saya seberangi bahkan sempat mampir ke negri tetangga. Dan saya juga tidak pernah membayangkan bisa tahan lama ternyata bekerja di suatu tempat. Hal pertama yang saya pikirkan saat mendaftar suatu pekerjaan adalah satu hal. Bagaimana caranya keluar. Aneh ya? Bahkan sebelum mulai mendaftar pun saya sudah memikirkan bagaimana caranya untuk berhenti dari pekerjaan itu. Karena saya membayangkan pasti saya tidak betah lama bekerja sebagai pegawai di sebuah kantor atau perusahaan dengan pakaian rapi, bersepatu mengkilat. Karena saya lebih senang berkotor – kotor menciptakan pekerjaan saya sendiri. Jangan anggap remeh pekerjaan yang ada hubungannya dengan sesuatu yang kotor kawan, biasanya dompetnya tebal.

Saya membayangkan pekerjaan kantoran dengan berkas – berkas bertumpuk di depan meja yang tentunya membuat stress dan bosan. Ya, kadang itu terjadi tapi tidak lama. Karena pekerjaan yang saya hadapi berganti ganti. Dan kali ini membawa bermacam – macam pengalaman yang unik. Bertemu dengan berbagai karakter orang dari berbagai suku bangsa bahkan negara.

Berkeliling dengan orang perancis yang entah kuping saya eror atau gimana menysipkan nada sengau saat berbicara. Berhadapan dengan orang kanada yang ternyata tidak memakai blackberry kawan walaupun dibuat di negaranya. Orang itali yang saya sampai frustasi menyebutkan namanya yang sulit walaupun sudah dieja, bahkan orang nya sendiri pun frustasi mengeja namanya untuk saya. Orang amerika yang ternyata salah satu orang penting dan sangat ramah untuk ukuran orang penting. Ibu – ibu yang cukup berumur entah amerika atau Australia yang saya khawatir kenapa – napa karena jalan cukup jauh dan ternyata saya sendiri yang ngos –ngos an. Orang Jepang yang membuat saya kikuk karena berkali – kali saya membungkuk saat membalas ucapan terima kasihnya. Orang Jepang ini salah satu favorit saya. Kenapa? Karena bahasa inggris kami sama – sama kacaunya kawan, hehe.

Belum lagi berbagai pengalaman pekerjaan lapangan yang saya berani jamin tidak akan pernah ada dalam pelatihan apapun atau di bangku sekolah. Pengalaman yang baru tahu kalau kawan sendiri yang mengalaminya.
Satu tahun lebih. Cukup lama mengingat pekerjaan resmi pertama saya tidak bertahan lebih dari dua minggu. Pekerjaan yang sudah cukup membuat saya kaget bahkan di hari pertama kerja. Untungnya di pekerjaan yang ketiga kali ini tidak demikian. Pekerjaan ini bahkan mulai agak menarik kawan. Dan semoga dapat terus begini.

2012/08/12

Berdagang Jangan Berdagang Kalau Banyak Bohongnya

Salah satu profesi yang mungkin tertua di dunia mungkin berdagang. Entah dulu bagaimana cara berdagang dilakukan. Entah dengan menukar barang satu dengan yang lain atau dengan sesuatu benda yang bernilai sebagai standar nilai tukar. Sampai sekarang pun berdagang masih dilakukan tentunya dengan cara yang semakin beragam dan juga memanfaatkan teknologi canggih.

Salah satu yang menggelitik saya dari urusan dagang berdagang ini yaitu bagaimana cara si penjual meyakinkan pembeli. Beberapa waktu lalu saat berburu hp saya coba melihat – lihat hp second di salah satu daerah sentra jual beli hp di bali. Akhirnya saya mulai tertarik pada salah satu counter. Barang secara fisik masih mulus bagus. Harga juga tidak terlalu tinggi dan masih bisa ditawar. Garansi barang pun masih panjang dari garansi resmi. Sangat menarik. Namun saya memutuskan untuk tidak jadi beli. Kenapa? Karena si mas penjual semangat sekali meyakinkan saya. Mungkin secara ilmu marketing hal ini bagus ya? Berusaha meyakinkan calon customer bahwa produk yang dimiliki bagus. Tapi saya bukan tipe orang yang suka dengan cuap – cuap iklan kecap seperti ini. Semakin bersemangat penjual menawarkan sesuatu entah kenapa saya semakin curiga. Pasti ada apa – apanya. Pasti ada sesuatu yang berusaha disembunyikan. Walaupun mungkin kadang si penjual memang sedang menjual barang yang bagus. Kecurigaan saya semakin besar ketika sepuluh menit disitu terdapat kurang lebih lima orang yang komplain barangnya bermasalah. Si mas penjual kelihatan sangat kecewa ketika saya memutuskan melangkah keluar. Sudah berbusa busa ternyata nggak jadi, begitu mungkin pikirnya.

Lebih logis masuk ke kepala saya kalau si penjual melakukan metode apa adanya. Begini kondisinya mas.. kekurangannya ini blab la bla, namun secara umum kualitasnya masih bagus toh ada garansinya. Dan dengan penjual yang tidak terlalu banyak cuap cuap seperti ini akhirnya saya deal, barang berpindah tangan.

Pengalaman saya selanjutnya ketika hunting laptop di salah satu mall pusat IT. Di mall ini cara kerja salesnya agak ekstrim kawan. Enggak beda jauh dengan makelar penumpang di terminal Bungurasih Surabaya. Akhirnya saya mampir ke salah satu kios yang penjualnya kelihatan pasrah menunggu pembeli. Tanya sekilas lumayan, harga cukup miring. Terdapat dua penjual, mas dan mbak, di kios tersebut. Saya terlebih dulu tanya tanya harga ke mas nya. Sekilas harganya cukup lumayan lebih murah. Akhirnya setelah tanya ini itu saya mengulangi pertanyaan yang sama ke si mbak. Dan lucunya si mbak ini memberikan harga yang cukup mahal ditambah penjelasan, di tempat lain nggak ada mas yang semurah ini. Hehe, terlihat sudah, kurang koordinasi. Langsung saya sikat, saya jelaskan kalau si mas memberikan harga yang lebih murah. Si mbak melirik masnya dengan cemberut, campur malu tentunya. Sekalian serang saja, harga saya tawar lebih murah lagi dari yang ditawarkan masnya. Babat habis, gak pake bonus bonusan mbak, saya bilang. Si mbak akhirnya terpojok dan menyebutkan harga. Dan setelah saya muter – muter memang standar harganya di kisaran itu. Namun yang jelas saya tidak beli di situ. Saya hampir saja dibodohi kawan.

Dunia berdagang dan tawar menawar memang unik kawan. Setiap penjual pasti menjelaskan kalau kecapnya nomor satu. Tidak ada kecap yang nomor dua kawan. Jikalau ada lima merek kecap pasti semuanya menjelaskan kalau kecapnya nomor satu. Jadi mau memilih kecap dari penjual yang mana?

Salah satu profesi yang mungkin tertua di dunia mungkin berdagang. Entah dulu bagaimana cara berdagang dilakukan. Entah dengan menukar barang satu dengan yang lain atau dengan sesuatu benda yang bernilai sebagai standar nilai tukar. Sampai sekarang pun berdagang masih dilakukan tentunya dengan cara yang semakin beragam dan juga memanfaatkan teknologi canggih.

Salah satu yang menggelitik saya dari urusan dagang berdagang ini yaitu bagaimana cara si penjual meyakinkan pembeli. Beberapa waktu lalu saat berburu hp saya coba melihat – lihat hp second di salah satu daerah sentra jual beli hp di bali. Akhirnya saya mulai tertarik pada salah satu counter. Barang secara fisik masih mulus bagus. Harga juga tidak terlalu tinggi dan masih bisa ditawar. Garansi barang pun masih panjang dari garansi resmi. Sangat menarik. Namun saya memutuskan untuk tidak jadi beli. Kenapa? Karena si mas penjual semangat sekali meyakinkan saya. Mungkin secara ilmu marketing hal ini bagus ya? Berusaha meyakinkan calon customer bahwa produk yang dimiliki bagus. Tapi saya bukan tipe orang yang suka dengan cuap – cuap iklan kecap seperti ini. Semakin bersemangat penjual menawarkan sesuatu entah kenapa saya semakin curiga. Pasti ada apa – apanya. Pasti ada sesuatu yang berusaha disembunyikan. Walaupun mungkin kadang si penjual memang sedang menjual barang yang bagus. Kecurigaan saya semakin besar ketika sepuluh menit disitu terdapat kurang lebih lima orang yang komplain barangnya bermasalah. Si mas penjual kelihatan sangat kecewa ketika saya memutuskan melangkah keluar. Sudah berbusa busa ternyata nggak jadi, begitu mungkin pikirnya.

Lebih logis masuk ke kepala saya kalau si penjual melakukan metode apa adanya. Begini kondisinya mas.. kekurangannya ini blab la bla, namun secara umum kualitasnya masih bagus toh ada garansinya. Dan dengan penjual yang tidak terlalu banyak cuap cuap seperti ini akhirnya saya deal, barang berpindah tangan.

Pengalaman saya selanjutnya ketika hunting laptop di salah satu mall pusat IT. Di mall ini cara kerja salesnya agak ekstrim kawan. Enggak beda jauh dengan makelar penumpang di terminal Bungurasih Surabaya. Akhirnya saya mampir ke salah satu kios yang penjualnya kelihatan pasrah menunggu pembeli. Tanya sekilas lumayan, harga cukup miring. Terdapat dua penjual, mas dan mbak, di kios tersebut. Saya terlebih dulu tanya tanya harga ke mas nya. Sekilas harganya cukup lumayan lebih murah. Akhirnya setelah tanya ini itu saya mengulangi pertanyaan yang sama ke si mbak. Dan lucunya si mbak ini memberikan harga yang cukup mahal ditambah penjelasan, di tempat lain nggak ada mas yang semurah ini. Hehe, terlihat sudah, kurang koordinasi. Langsung saya sikat, saya jelaskan kalau si mas memberikan harga yang lebih murah. Si mbak melirik masnya dengan cemberut, campur malu tentunya. Sekalian serang saja, harga saya tawar lebih murah lagi dari yang ditawarkan masnya. Babat habis, gak pake bonus bonusan mbak, saya bilang. Si mbak akhirnya terpojok dan menyebutkan harga. Dan setelah saya muter – muter memang standar harganya di kisaran itu. Namun yang jelas saya tidak beli di situ. Saya hampir saja dibodohi kawan.

Dunia berdagang dan tawar menawar memang unik kawan. Setiap penjual pasti menjelaskan kalau kecapnya nomor satu. Tidak ada kecap yang nomor dua kawan. Jikalau ada lima merek kecap pasti semuanya menjelaskan kalau kecapnya nomor satu. Jadi mau memilih kecap dari penjual yang mana?