Pernah nggak menyadari bahwa kita adalah orang - orang yang sangat beruntung? Akhir - akhir ini saya semakin merenungi pertanyaan ini. Dalam training ojt yang saya jalani, sesekali saya terjun langsung ke lapangan. Berbeda dengan situasi kantor yang sejuk ber ac, di lapangan terhampar kehidupan yang keras.
Sekumpulan pemuda, bahkan lebih muda dari saya bekerja di bawah terik matahari yang menyengat berhadapan dengan gelondongan kayu besar. Sebagian mengoperasikan alat - alat berat untuk memindahkan kayu gelondongan tersebut ke truk trailer. Seorang mandor mengawasi dari jauh.
Sebuah pekerjaan yang berat dan penuh resiko. Saya tidak berani membayangkan bagaimana seandainya kayu gelondongan yang hanya diikat tali itu lepas dari crane dan menggelinding. Ngeri.
Beberapa menit saja di lokasi peluh sudah mengalir. Kerah dan lengan baju putih saya sedikit menghitam kotor terkena debu. Bagaimana kalau seharian bergelut dengan gelondongan kayu ini? Salut saya dengan mas mas pekerja ini. Mereka orang - orang yang tangguh dan pekerja keras.
Sekembali dari lapangan saya dihadapkan dengan meja, laptop / komputer, fotokopian yang berserakan dan buku catatan saya. Jadi menyesal karena sempat mengeluh bosan di kantor, sedangkan di luar sana banyak yang membanting tulang demi sesuap nasi. Mungkin memang dari sananya yang namanya manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Punya motor inginnya mobil. Punya mobil satu belum juga puas kalau nggak dua. Demikian seterusnya. Ketika melihat orang lain yang keadaannya jauh lebih baik terkadang kita ngresulo. Merasa menjadi orang paling tidak beruntung di dunia. Padahal di luar sana banyak yang menginginkan bahkan bermimpi memiliki apa yang kita miliki. Dan kunci dari kondisi ini ternyata sederhana. Bersyukur. Karena ternyata setiap diri kita ini adalah orang yang beruntung. Entah dalam hal / bidang apa. Semakin bersyukur semakin terasa bahwa kita adalah orang yang beruntung.
2011/07/13
Beruntung
2011/07/08
Pendidikan itu penting atau tidak? sekarang saya bisa menjawab pertanyaan inii

Ketika saya lulus kuliah tahun kemarin, sama sekali belum terlintas di benak saya mau kerja apa. Sempat mau kuliah lagi. Namun akhirnya saya urungkan dulu. Disela sela menganggur saya yang tidak jelas, sesekali saya isi dengan menonton film. Salah satu film yang saya tonton adalah "alangkah lucunya negri ini". Dialog yang paling saya ingat adalah ketika Dedy Mizwar dan Jaja Miharja berdebat soal penting atau tidak sebenarnya pendidikan itu.
Sebenarnya penting atau tidak pendidikan itu? Kadang - kadang bingung juga. Motivasi seseorang untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin kebanyakan tidak lepas dari faktor ekonomi. Berharap suatu saat memperoleh pekerjaan yang baik. Seperti yang diperdebatkan Dedy Mizwar dalam film tersebut. Muluk, anak Dedy Mizwar dalam film tersebut adalah seorang sarjana manajemen dan belum juga memperoleh pekerjaan.
Bagi orang yang pesimistis mungkin akan berpikiran bahwa mengejar pendidikan itu tidak ada gunanya. Toh banyak sarjana yang menganggur. Sarjana saja menganggur apalagi D3, atau bahkan SMA? Bangku kuliah hanya mencetak pengangguran intelektual. Menjadi sukses tidak usah kuliah. Banyak orang yang bahkan tidak tamat SD namun dari sisi ekonomi bisa dikatakan sangat makmur.
Memang tidak salah pemikiran seperti ini. Karena kenyataannya yang terjadi demikian adanya. Namun kalau pertanyaan penting atau tidakkah pendidikan itu mampir ke saya, jawabannya simpel, pendidikan itu Penting!
Mengejar pendidikan setinggi mungkin itu penting. Tidak ada ilmu yang sia sia kawan. Sejauh itu positif pasti akan membawa manfaat bagi kita. Entah nantinya mungkin pendidikan yang kita miliki justru tidak terpakai ketika akhirnya memiliki pekerjaan. Suatu saat nanti ilmu yang kita miliki pasti berguna.
Niatkan saja mengejar pendidikan untuk mencari ilmu. Dan sebagai bonusnya mungkin suatu saat nanti kita akan memiliki pekerjaan yang cocok dan sesuai bidang pendidikan kita.
Saya sendiri menyadari bahwa pendidikan itu penting justru ketika saya lulus kuliah. Dulu ketika masih sma, tidak ada motivasi untuk kuliah atau melanjutkan ke jenjang lain yang lebih tinggi. Saya ingin berwiraswasta. Namun karena mayoritas teman - teman saya kuliah, dan alhamdulilah kondisi keuangan memungkinkan akhirnya saya kuliah. Kuliah pun dijalani saja, tidak ada bayangan nantinya mau jadi apa.
Ternyata kuliah memang ada manfaatnya. Setelah kuliah alhamdulilah saya mendapat bonus pekerjaan pertama, kedua, dan ketiga.
Kalau kondisi keuangan memungkinkan,punya kemampuan dan kemauan nggak ada salahnya untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Namun kalau memang ada kendala dan akhirnya tidak bisa melanjutkan, tidak usah berkecil hati. Ilmu bisa dicari dimana saja, tidak harus di bangku sekolah. Dan sebagai bonus dari ilmu yang kita cari tersebut semoga kelak akan mendapatkan pekerjaan yang baik dan barokah.
2011/07/02
Selamat Datang Hidup Baru
Selamat datang hidup baru. Yup, sekarang ini saya memasuki tahap kehidupan yang benar - benar baru kawan. Dulu pas kuliah saya memasuki hidup baru, namun masih banyak teman - teman sma saya menyertai. Demikian pula ketika bekerja. Dua orang teman sekantor, bahkan seruangan adalah teman sma saya, bahkan salah satunya teman sebangku saya di sma, dunia memang sempit. Kali ini dunia baru saya berbeda. Benar benar baru. Teman baru, tempat hidup baru, suasana baru.
Kadang - kadang masih mikir bagaimana ceritanya sampai akhirnya saya bercokol disini. Kalau saya ini sebuah mobil mobilan tamiya, maka hidup saya belakangan ini mirip sirkuitnya. Saya pasrah mengikuti saja kemana arah sirkuit ini.
Sekarang tidak ada lagi teman lama yang menyertai, jauh dari saudara. Sebagai gantinya saya banyak mendapatkan teman baru yang "bernasib" sama. Sama sama memulai hidup baru di tempat yang baru. Teman - teman seangkatan.
Sebuah babak baru dalam lembaran catatan saya akan dimulai. Semoga saya bisa melaluinya dengan baik dengan semangat, amiin.
2011/06/24
Jika aku menjadi - polisi
Salah satu rangkaian diklat yang harus saya ikuti setelah saya lolos seleksi salah satu BUMN adalah diklat pembentukan karakter. Entah karakter bagaimana yang harus dibentuk, karena 20 tahun umur saya masih berusaha membentuk karakter saya sendiri.
Setelah 10 hari asik menikmati fasilitas hotel, mandi air hangat, makan enak, hari itu, kami 117 peserta dibawa menggunakan truk brimob ke pusat pendidikan brimob watukosek. Perlu diketahui, pusdik watu kosek ini memiliki kontur mirip bukit. Menanjak dari bawah ke atas. Barak terdapat di puncak bukit sekitar 3 km dari bawah, dan menuju ke barak tidak lain tidak bukan adalah dengan berjalan kaki.
Setelah lumayan berkeringat sampailah kami di atas. Masuk ke barak masing masing dan meletakkan tas tas yang dibawa. Kami langsung disodori bejibun aktifitas yang dimulai malam itu juga. Yang paling awal dan harus dilakukan oleh peserta laki laki adalah digundul. Berbarislah kami dalam antrian menunggu saat penggundulan. Tidak perlu terlalu banyak prosedur / teknik untuk menggunduli kepala. Hanya beberapa menit rambut sudah habis dibabat. Tersisa beberapa mili bagian samping dan beberapa cm bagian atas. Resmilah kami menjadi kompi upin ipin malam itu.
keesokan harinya aktifitas sebenarnya dimulai. Memakai seragam lengkap, yaitu seragam pdl (mirip seragam satpam) dan sepatu boot tentara. Khusus sepatu boot ini penuh perjuangan memakainya. Sama sekali tidak nyaman. Keras dan berat. Tidak sedikit yang kakinya lecet lecet, karena memang kebanyakan kami hanya membawa kaos kaki tipis yang cocok untuk pantofel.
Kegiatan sehari hari lumayan padat. Selalu ada apel sebelum melaksanakan sesuatu. Kemana mana baris dan harus sama langkahnya. Jam 4 kurang saya sudah lari ke kamar mandi kalau tidak mau keduluan. Karena kamar mandinya hanya beberapa, kalau agak siang sedikit siap siap mandi bareng atau mandi terekspos dari luar karena pintu kamar mandi yang berlubang menganga.
Beberapa hari awal badan rasanya aneh, pegel linu. Tidur pun juga menjadi sangat cepat. Begitu kepala nempel di bantal langsung bablas, saking capeknya. Hari - hari berikutnya sudah mulai "agak" terbiasa.
Untung cuma 10 hari. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana siswa sebenarnya yang menjalani pendidikan disini berbulan bulan. Siang bolong panas - panas berlari lari keliling pusdik tanpa baju. Jadi seperti ini ya bagaimana briptu norman caiya caiya dulu dididik. Briptu norman lulus dari pusdik ini tahun 2006.
Dan pantas saja Briptu norman pandai bernyanyi. Pusdik ini punya segudang stok nyanyian. Bahkan komandan kompi diklat kami pun mahir menciptakan puisi. Tampilan boleh garang, tapi hati ternyata lembut.
Akhirnya, setelah pertengahan minggu sempat diare dan diakhir minggu flu, diklat di pusdik ini pun berakhir. Ditutup dengan pesan, bawa yang baik baik dari pusdik dan tinggalkan yang jelek jelek di sini. Entah karakter saya berubah atau tidak (setidaknya warna kulit berubah). Yang jelas saya memperoleh pengalaman baru. Watukosek tak akan kulupa....
2011/06/05
Hidup Saya Memang Mengalir, Namun Jangan Seperti Air
Pernahkah terpikirkan akan menjadi apa ketika anda beranjak dewasa kelak? Mungkin ada yang mencita - citakan sesuatu dan kemudian benar benar meraih cita cita tersebut. Namun, kalau saya sendiri, saya tidak pernah tahu akan menjadi apa kelak. Dimulai ketika kuliah, jurusan yang saya pilih, masih belum bisa menjamin akan menjadi apa kelak. Bahkan bapak saya sendiri pun khawatir, mau kerja apa saya.
Akhirnya saat saat kuliah pun berakhir (kangen juga saat2 kuliah). Dihadapkanlah saya ke pasar kerja. Mencoba melamar kesana kemari. Saya tidak terlalu banyak melamar pekerjaan sebetulnya. Hanya beberapa saja. Pengalaman ketika saya melamar jadi supervisor sales LPG dan dipanggil, bapak dan ibu saya heboh, hehe. Setelah itu saya jarang melamar. Cuma beberapa saja yang sekiranya saya mengerti pekerjaan tersebut.
Karena saya suka menulis saya pun mencoba melamar menjadi reporter. Sempat dipanggil salah satu portal berita online, namun karena jauh saya batalkan. Saya pun kemudian diterima di salah satu koran lokal yang merupakan bagian dari media ternama. Namun hanya tahan tidak lebih dari 2 minggu.
Pekerjaan saya berikutnya masih terkait jurnalistik. Saya menjadi corporate journalist salah satu perusahaan. Pekerjaan yang menyenangkan kawan! Bayangkan saja pak bondan winarno yang dibayar untuk mencicipi makanan, atau valentino rossi yang dibayar untuk mengendarai ducati. Saya dibayar untuk ngeblog!!!
Namun, aliran nasib saya ternyata belum berhenti. Sebelum menjadi corporate journalist saya juga sempat mendaftar di salah satu bumn, dan ternyata lolos seleksi. Saya pun resign dari pekerjaan kedua saya ini. Selain karena bumn ini dendanya besar kalau tidak saya ambil, orang tua saya pun menyarankan untuk mengambil yang satu ini. Jadi, dalam setengah tahun saya berganti 3 pekerjaan.
Semakin bersyukur ketika saya masuk karena ternyata yang mendaftar di bumn tersebut totalnya 12.000 orang. Semua yang ikut seleksi pun bukan orang sembarangan, rata rata sudah berpengalaman. Kalau hanya mengandalkan kemampuan saya semata sejak awal pasti saya sudah rontok. Namun karena ini adalah takdir saya dari Yang Maha Kuasa, dan dengan doa orang tua saya, akhirnya saya lolos.
Entah bagaimana nantinya hidup saya. Mengalir saja. Namun jangan seperti air. Karena air selalu mengalir ke bawah. Saya ingin menjadi air yang anomali. Saya ingin menjadi air yang bisa mengalir ke atas.
obie, 5 juni 2011, tretes -prigen, pasuruan
2011/05/14
Mengantri

Dalam suatu masyarakat keberadaan suatu "antrian" adalah hal yang wajar. Semakin ramai suatu masayarakat tersebut antrian bisa tambah panjang. Entah mengantri untuk keperluan apa.
Seperti yang saya alami tadi siang. Karena menjadi anak kos lagi otomatis saya harus membeli makanan di luar. Saya menuju warung di depan kosan saya. Fiuh, ternyata antriannya lumayan. Saya pun ikut berjubel di dalam antrian.
Setelah beberapa pelanggan dilayani, mbak penjual bertanya kepada saya, dibungkus atau makan sini? saya menjawab, ibu ini duluan mbak. Si ibu pun dilayani oleh si mbak penjual. Selesai, kembali saya ditanyai, bungkus atau makan sini? bapak ini dulu mbak gilirannya. Si mbak pun heran, la terus sampeyan gilirannya kapan? saya jawab, setelah bapak ini baru giliran saya.
Mungkin si mbak penjual heran, didulukan kok malah nggak mau. Namun saya punya pengalaman juga tentang antrian. Dulu pas saya masih kuliah di malang, sepulang dari kampus saya biasanya mampir ke warung beli makan. saya pun ikut di barisan antrian. Tapi yang menyebalkan adalah ada 2 kali orang yang baru datang langsung dilayani oleh penjual. Saya bengong setengah mangkel. Akhirnya setelah akan dilayani oleh ibu penjualnya saya pun melengos pergi. Dan itu terakhir kalinya saya menginjakkan kaki di warung itu.
Disadari atau tidak, dalam sebuah antrian, kedewasaan seseorang sebagai bagian dari masyarakat diuji. Yang merasa datang belakangan ya nggak usah ngeyel minta duluan. Yang datang belakangan dan akan didulukan, kalau masih normal, dan merasa kalau bukan gilirannya ya seharusnya menyadari. Toh cuma selisih beberapa menit. Nggak mati kalau harus berdiri antri beberapa menit lagi. Malah tambah sehat karena membakar kalori.
2011/05/04
Totalitas Sang Pengamen Transgender
Kemarin malam, seperti biasa saya dan teman saya berburu makan malam. Karena masih asing dengan Surabaya saya manut saja mau makan dimana. Kami pun menuju ke sebuah gang di sekitaran salah satu kampus di Surabaya.
Di depan salah satu warung di gang tersebut dari kejauhan nampak seseorang sedang mengadakan "pertunjukan". Setelah agak dekat, ternyata ada pria yang berpenampilan wanita sedang mengamen. Semangat sekali aksinya. Dengan dandanan yang super menor dan alat musik seadanya dengan semangat bernyanyi dan menari.
Akhirnya mbak/mas pengamen ini pun saya lewati, untuk menuju ke salah satu warung. Tak berapa lama, mbak/mas ini pun sampai ke warung tempat saya antri membeli makanan. Dimulailah lagi aksinya. Masih dengan semangat yang sama menyanyikan sebuah lagu yang saya sendiri sebenarnya tidak paham lagu apa. Toh, siapa yang peduli dengan lagunya. Melihat aksinya saja sudah bikin melongo yang melihat. Hebat sekali mbak/mas yang satu ini. Walaupun diiringi tatapan aneh orang yang lalu lalang tetap tidak mengurangi semangatnya.
Dengan kepedean yang super terus saja menyanyi dan menari. Temannya juga sesama mbak/mas hanya melhat dari kejauhan. Tingkat pd mbak/mas ini mungkin jauh lebih besar dari pada seluruh rasa pd separo penduduk surabaya ini bila disatukan.
Akhirnya si mbak/mas yang beraksi masuk ke warung. Berkata kepada si penjual untuk cepat memberinya uang. Ternyata si mbak penjual ini sudah kenal. Mungkin karena seringnya ngamen disitu. Mbak penjual pun menggoda dengan mengenalkannya kepada orang orang yang sedang antri di warung tersebut, dan menyurhnya duduk dulu. Tentu saja seisi warung memandang mbak/mas ini. Tak lama mbak/mas ini berkata kepada mbak penjual "mbak ndang kek ono ak duwit, kabeh wedi karo aku iki lo" , "mbak cepet kasih aku uangnya, semua yang disini takut sama aku". Setelah beberapa godaan lagi, akhirnya seribu rupiah berpindah tangan diiringi senyuman mbak/mas ini.
Sepulangnya saya membeli makanan saya melihat mbak/mas ini sedang mengamen lagi di sebuah toko yang sudah agak jauh dari warung tempat saya membeli makanan tadi. Masih dengan semangat yang kelihatannya sama sekali tidak berkurang. Hebat sekali totalitas seniman jalanan yang satu ini. Sayang saya tidak sempat mengambil fotonya (sebenarnya memang agak takut mengambil fotonya, hehe, jadi diurungkan niat ini).



