2010/07/15

Jumatan yang Berbeda

Hari ini saya ke kampus sekalian melihat kalau2 pengumuman seminar hasil sudah ditempel atau belum dan juga menghadiri seminar hasil salah satu teman. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam 11 lewat. Saatnya sholat jumat. Awalnya saya berencana untuk jumatan di luar kampus karena biasanya di kampus penuh sesak masjidnya. Tapi teman saya mengajak untuk sholat jumat di gedung rektorat.

Setelah naik ke lantai lima naik lift, sampailah saya ke sebuah ruangan yang lumayan luas yang disulap menjadi semacam mushola. Untung ada beberapa sendal jepit entah punya siapa. Pinjam sebentar buat wudhu. (ya Allah berilah balasan yang setimpal kepada pemilik sendal, amiin).

Biasanya saya jumatan di sekitar kosan. Dan topik kutbah nya bisa ditebak dan monoton. Nah, kali ini saya menemukan sesuatu yang berbeda. Biasanya saya terkantuk kantuk. Kali ini melek dan mendengarkan dengan serius. Temanya mungkin sama dengan tema kutbah yang lain, yaitu masalah ketakwaan. Namun, disampaikan dengan cara yang berbeda. Diawali kalau ketakwaan ibaratnya usaha kita untuk mendapat surga yang sejatinya kaplingannya sudah ditentukan. Untuk memiliki kaplingan tersebut kita harus memiliki ketakwaan. Dengan ketakwaan manusia juga memiliki kecerdasan secara ekonomi, sosial, emosional, spiritual, dsb (saya agak lupa). Saya tidak tahu bagaimana sosok khotib ini karena tertutup sebuah tiang yang lumayan besar. Saya hanya mendengar suaranya saja. Mungkin ini juga menambah ketertarikan saya. Khotib ini menyampaikan ayat Al Quran dengan menghubungkannya dengan fenomena nyata disekitar. Tentang kerusuhan mojokerto, anak sd yang mencoba bunuh diri saking kepinginnya sekolah. Selain mengambil Al Quran dan Hadits juga ditambah buku buku populer dan penelitian penelitian ilmiah. Ini yang membuatnya tidak terlalu di awang awang dan mudah dicerna terutama yang ilmunya cetek seperti saya ini.

Satu hal yang saya paling ingat. Khotib berkata bahwa dalam Islam manusia yang paling baik bukan manusia yang tidak pernah berbuat salah, namun manusia yang belajar dari kesalahan dan bertobat.

Ketika pulang ternyata lumayan ramai (saya tidak tahu karena di shaf nomor dua dari depan). Ketika saya menunduk untuk mengambil sepatu seseorang dengan santainya menginjak sepatu saya dan dengan tenangnya dia (cukup lama) mencari cari kemudian memakai sendalnya. Hati sudah mulai panas, namun teringat tentang kecerdasan sosial yang dijelaskan tadi. Ya sudahlah, saya lebih memilh kaplingan di surga dari pada ribut karena hal sepele.

2010/07/11

Nonton Bareng Final Piala Dunia 2010


wajah - wajah mengantuk

seandainya punya big screen kaya gini asik y..hehe

huaaahhhmm..... badan rasanya aneh semua setelah semalaman begadang. Baru kali ini saya bener2 begadang alias tidak tidur satu menitpun. Tadi malam saya nonton bareng dengan lima teman di sebuah rumah baca. Rumah baca ini lumayan mewah berada di sebuah perumahan elit. Tempatnya enak kecuali asap rokoknya. Padahal ber ac. Ac + rokok wuiih dahsyat. Sepanjang pertandingan saya memakai jaket saya sebagai masker.

Kami datang terlalu awal. Pesan makanan dan minuman, ngobrol - ngobrol dulu. Tak lama kemudian pesta penutupan hajatan sepak bola terbesar dunia ini dimulai. Mewah sekali pesta penutupannya. Tak heran, karena FIFA untung triliunan dalam gelaran piala dunia kali ini.

Saya mulai bosan dan membuka buka majalah yang banyak disediakan di tempat tesebut. Tiba - tiba saya dikejutkan oleh teriakan para penonton. Ternyata Belanda dan Spanyol sudah mulai memasuki lapangan. Baru kali ini saya nonton bareng. Semua heboh untuk hal yang saya tidak tahu apa. Sekedar pemain idolanya masuk lapangan semua suit - suit dan berteriak - teriak heboh.

Malam tadi saya termasuk pendukung Belanda. Ketika mas pembawa acara meminta pendukung belanda angkat tangan untuk memberikan kuis, saya langsung angkat tangan. Padahal saya tidak tahu apa apa tentang bola, hehe. Untung bukan saya yang ditunjuk. Saya tidak suka spanyol karena tempo permainannya lambat dan seringkali membuat saya mengantuk. Spanyol juga mengalahkan Jerman. Saya suka Jerman karena rajin sekali mencetak gol. Saya paling malas kalau nonton bola gak gol gol.

Permainan berjalan seru walaupun kedudukan 0-0 berjalan sampai akhir akhir pertandingan. Spanyol berhasil menjebol gawang Belanda di babak tambahan kedua dan untuk pertama kalinya menjadi juara dunia. Sneijder dkk pun menangis merana.

Sekali lagi Paul si gurita menunjukkan kemampuannya dengan sebelumnya memprediksi spanyol akan memenangkan pertandingan. Ternyata benar. Dan menurut saya prediksi Paul jauh lebih menarik dari pada Dedy Corbuzier yang hanya disimpan di sebuah kotak tidak ditunjukkan langsung.

Selamat berpesta spanyol......good job!

2010/07/10

Manusia dan Kehidupan

Hari ini saya dan bapak ibu saya berkunjung ke sebuah daerah, pedesaan, masih di kabupaten malang karena ada beberapa keperluan. Selain untuk nyekar ke makam nenek, juga untuk menyelesaikan beberapa permasalahan dan menjenguk kakak almarhumah nenek saya yang sakit. Hari ini saya mempelajari beberapa hal tentang hidup. Akan saya bagi kisahnya.

Setelah nyekar ke makam nenek, perjalanan dilanjutkan ke rumah kerabat ibu, lebih tepatnya sepupu ibu saya. Ada beberapa masalah yang harus diselesaikan, mengenai status tanah warisan dari buyut saya. Karena ada saudara nenek saya yang tidak punya anak, maka warisan dari buyut dibagi merata ke saudara - saudara yang lain. Naa.. masalah pun muncul. Jaman dulu tidak ada sertifikat, atau perjanjian tertulis. Hanya mulut ke mulut. Sampai disana ternyata ada sebagian tanah yang sudah dijual. Ya sudah, keluarga saya mengalah dan menerima bagian dari penjualan untuk diberikan ke masjid. Dan memutuskan untuk memperjelas status tanah yang lainnya. Sebenarnya, kalau dirupiahkan tanah ini tidak seberapa karena letaknya yang di pelosok pedesaan. Namun, karena hak, dan untuk memperjelas masalah maka hal ini menjadi sangat penting. Akhirnya kami langsung menuju lokasi tanah tersebut. setelah beberapa saat mengukur, terjadi perdebatan. Kami sendiri tidak tahu apa apa tentang tanah tersebut. 2 kerabat yang tinggal di sekitar lokasi lah yang paham. Dan salah satu kerabat meyebut panjang tanah 21 meter, sedangkan satunya 20 meter. Saya jadi paham, kenapa orang bisa saling bunuh hanya gara gara masalah tanah. Kalau tanahnya miliaran sih gpp. la ini, gak sebanding. Akhirnya saya membantu mengukur ulang, dan memang panjangnya 21 meter. Si kerabat yang satunya mencoba korupsi 1 meter karena memang mepet tanahnya. Jadi lumayan kalau nambah 1 meter. Sebenarnya, walaupun mereka berbohong kami pun tidak tahu. Kami pasrah saja, demi kebaikan. Setelah proses mengukur selesai, dibagi, dibuatkan perjanjian agar ke depannya tidak kisruh lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke rumah kakak almarhum nenek saya. Beliaunya baru jatuh sehingga tidak bisa berjalanan. Kakak nenek saya ini unik. Lucu. Kata budhe anaknya mbah ini, 6 bulan cuma tidur tiduran saja. Tadi sudah bisa pindah ke kursi roda dan ikut ngobrol di ruang tamu. Mungkin karena senang rumahnya ramai, si mbah bercerita aneh2. Lucu. Cerita kalau beliaunya gak ingat kami2 yang berkunjung. Bapak saya malah bercanda dan bertanya siapa nama suaminya dulu. Mbah ini menikah 3 x lo! nama suami yang pertama masih ingat, namun yang kedua dan ketiga sudah lupa. Nama anak anaknya pun juga lupa. Malah ada salah satu anaknya yang dikira pembantu. Saya diceritai banyak hal. Mulai giginya yag sering copot pas makan, juga tentang sawahnya yang katanya habis. Ibu saya memberi uang 50rb kepada mbah ini, dan bertanya ini berapa. Si mbah menjawab 500 sambil menyahut, lek duwik aku yo sik ngerti (kalau masalah uang aku juga masih tau) walaupun jawabannya salah. Kemudian anaknya memintanya menghitung jumlah nol, dan dijawab empat. Na terus kalau 5 nolnya empat berapa? tanya si anak lagi. Si mbah menjawab 500. kami pun tertawa lagi. Saya pun membayangkan, hemm... bagaimana kalau suatu saat nanti saya yang duduk di kursi roda itu. Sudah pikun dan tidak tahu lagi saudara bahkan anak sendiri. Membaca blog ini (kalau masih inget punya blog) dan tersenyum sendiri. Semoga cepat sembuh mbah ya...

2010/07/05

Apa Jadinya Dunia Tanpa Lagu?

Entah kenapa saya suka sekali bersenandung. Dimanapun, kapanpun. Mungkin warisan ibu saya kali ya? (kalau bapak saya gak mungkin soalnya, hehe, dulu pernah sekeluarga terpingkal pingkal karena pertama kali dan terkahir kalinya mendengar bapak saya bersenandung lagunya Broeri Marantika). Dan ibu saya mewarisi dari kakek saya (berdasarkan cerita, kakek saya pernah punya grup musik, keroncong ato apa gitu). Saya tidak bisa membayangkan misalnya kalau lagu dilarang diputar di negara ini. Apa jadinya hari – hari tanpa lagu?

Lagu ibarat mesin waktu. Ketika mendengar lagu tertentu seseorang bisa tersenyum sendiri. Atau mungkin menangis tersedu sedu. Karena lagu merupakan mesin waktu. Seseorang akan tersenyum ketika lagu itu membawanya kedalam sebuah kenangan manis. Demikian pula sebaliknya. Seseorang pun bisa menangis tersedu sedu ketika mendengar sebuah lagu, karena lagu itu mengingatkannya pada kenangan pahit masa lalu.

Sebuah lagu bisa membawa seseorang yang sedang kasmaran terbang keangkasa, namun juga bisa membuat orang yang patah hati bunuh diri. Sebuah lagu bisa membakar semangat pasukan yang akan bertempur di medan perang. Sebuah lagu juga bisa membuat kita merenungi hidup.

Hebat ya susunan nada yang bernama lagu ini? Tangga nada hanya tujuh namun bisa membawa efek yang luar biasa. Terima kasih saya ucapkan kepada para pencipta lagu dan penyanyi apapun jenis musiknya. Terima kasih Goo Goo Dolls untuk Iris nya, Boys II Men untuk One Sweet Day, Danield Badingfield untuk If You’re not the One, Five For Fighting untuk One More For Love, Same Same untuk Love Isn’t, Oka ft Sabria untuk So Special, Vidi Aldiano untuk Pelangi Dimalam Hari, D’Cinnamon, Dygta, Ada Band, Ten 2 Five, Sheila on 7, Padi, Gigi, Ebiet G Ade, Yovie Nuno, dllll. Terima kasih karena telah menghiasi hari hariku.

2010/07/03

walah, ketiduran

Hari ini untuk kesekian kalinya saya tes TOEFL. Sebenarnya saya sudah bosan. Bukannya sudah pinter dan nilainya bagus, tapi karena di kampus saya TOEFL ada tiap semester. Jadi, begitu mendengar kata TOEFL seolah olah saya sedang dihipnotis Romy Rafael dan tiba tiba saja mengantuk.

Demikian juga yang terjadi hari ini. Durasi TOEFL yang lumayan panjang membuat saya bosan. Seksi pertama, kedua, dan yang ketiga batrei sudah mau habis. Apalagi saya belum sempat sarapan, dan tadi malam tidur lumayan larut. Klop dah. Ruangan yag dingin ber AC semakin mendukung suasana. Saya sudah tidak begitu konsentrasi di soal - soal terakhir. Dan tiba - tiba saja zzz...

Saya tidak tahu apa yang terjadi, kaget. Mendengar suara pengumuman bahwa waktu habis. Sempat bingung sejenak dimana saya berada. Untung semua sudah saya kerjakan. kalau nggak, kacau. Pertama kalinya saya ketiduran di kelas. (beberapa kali sih, tapi yang lainnya di sengaja, hehe).

2010/06/30

Cita – Cita

Dulu sewaktu kita masih seusia upin dan ipin sering sekali mendengar pertanyaan, ”kalau dah gedhe mau jadi apa?”. Apa sebuah cita – cita hanya perlu dibuat ketika masih kecil? Bagaimana dengan anda? Apa cita – cita anda dulu? Hehe

Saya terakhir kali memiliki cita – cita ketika saya SMA. Ketika saya kuliah saya tidak memiliki cita – cita karena menganggap bahwa hidup tidak bisa dicita citakan. Dilakoni saja. Itu prinsip saya. Dulu waktu sma ketika saya ditanya oleh teman nanti mau hidup yang kaya gimana, saya punya jawaban begini. Nantii... kalau kamu ketemu saya, kamu akan menemui seseorang bersendal jepit, pakai celana pendek, dan kaos oblong (tipe orang yang kalau mau masuk mall dilirik petugas keamanan nya hehe). Tapi... di kantong saya ada sebuah benda kecil hitam dengan beberapa tombol, dan kalau tombol ini ditekan, tiit tiit.. sebuah Ford Ranger akan berbunyi di parkiran.

Itu dulu. Entah kenapa sekarang saya tertarik lagi untuk bercita cita. Cita cita saya pas sma diatas masih berlaku, namun saya punya beberapa tambahan. Hemm.. kalau bisa saya pingin punya pekerjaan yang masih ada hubungannya dengan ilmu yang saya peroleh. Untuk memuluskan cita cita yang satu ini saya punya rencana akan melakukan ”sesuatu” selepas lulus. ”sesuatu” yang bisa menambah ilmu saya. Kalau akhirnya pekerjaan itu bisa saya dapatkan saya tidak mau lama – lama. Saya pingin punya pekerjaan yang bisa memberikan saya kebebasan ruang. Dengan ilmu + pengalaman selama bekerja + internet saya ingin bisa bekerja dimana saja. Hal ini juga sebagai langkah preventif karena kelihatannya pada akhirnya nanti saya harus pulang kampung. Kebebasan ruang juga untuk menyalurkan hobi. Mudah mudahan kalau dikasih rejeki, saya pingin punya motor yang enak dipakai touring dan kamera digital SLR. Di akhir pekan atau akhir bulan saya akan berpetualang, entah kemana, berhenti di spot yang menarik dan mengabadikannya. Terakhir, saya pingiiin punya kos – kos an. Ini untuk kebebasan finansial ketika saya tua nanti. Jadi saya tidak perlu merepotkan anak cucu. Karena kelihatannya saya tidak mengarah untuk menjadi pegawai negeri, saya akan menciptakan dana pensiun sendiri dengan kos kos an itu. Hasil kos kosan memang kecil, tapi pasti, sepanjang universitas nya tidak bubar.

Hemm.. jadi membayangkan. Hehe. Menutup mata sejenak, menikmati.

Namun, tentu saja manusia hanya bisa berusaha. Hanya mengajukan proposal. Allah SWT yang memiliki hak prerogatif untuk meng ACC atau tidak. Saya juga tidak pernah menggunakan kata ”pokoknya” untuk hal hal yang saya inginkan. Karena apalah yang diketahui manusia dari keinginannya. Malah kadang kita menginginkan hal hal yang sebetulnya tidak baik untuk kita. Ibarat suspensi racing, cita cita saya ini adjustable. Akan saya usahakan sefleksibel mungkin dengan perkembangan situasi. O iya, saya juga punya cita cita untuk keluarga saya sendiri kelak, tapi belum saatnya di share di sini. Hehe.. Tidak boleh ketinggalan, saya juga ingin belajar untuk mengetahui komposisi yang pas antara pasrah dan berusaha. Di titik mana kita harus berusaha dan di titik mana pada akhirnya harus pasrah.

Sebuah Drama yang Bernama Sepak Bola

Sebenarnya saya tidak suka sepak bola. Hiruk pikuk piala dunia tidak memberikan efek pada saya. Demikian juga piala dunia kali ini. Apalagi saya tidak suka lagunya. Waka Waka ee eee bla bla bla this time for Africa. Namun kemarin malam entah kenapa tanpa saya sadari menonton piala dunia Paraguay vs Jepang. Setelah menonton monster inc di Global tv sambil mengerjakan skripsi saya pindah pindah chanel. Putus asa, karena tidak menemukan siaran yang cocok, akhirnya saya terdampar di RCTI.

Entah mungkin karena Jepang satu satunya negara asia yang tersisa menumbuhkan simpati saya. Tiba tiba saja mendukung Jepang. Kedua tim bermain lumayan bagus. Saling serang dan bertahan dan tidak ada yang berhasil mencetak gol walaupun dengan babak tambahan. Akhirnya pemenang ditentukan dengan tendangan penalti.

Di sinilah saya terbawa suasana pertandingan. Terlihat jelas para pemain sangat gugup terutama penjaga gawang. Ketika pemain lainnya memberikan pelukan dukungan penjaga gawang Paraguay tersenyum. Senyum yang menurut saya tidak natural. Senyum yang hanya di bibir karena terlihat gerak gerik dan raut wajah menampakkan ekspresi yang berbeda. Begitu pula dengan pemain lainnya. Bahkan pemain kelas dunia seperti mereka pun masih mengenal yang namanya nervous.

Ini merupakan hal yang wajar. Adu penalti kelihatannya sepele, tetapi efeknya dahsyat. Para pemain ini akan terlihat bodoh apabila tidak bisa memasukkan bola. Dengan jutaan pasang mata di seluruh penjuru bumi tekanan yang mereka hadapi semakin berat. Entah kenapa saya tiba tiba bersyukur berada di kosan saya, duduk santai, karena beribu ribu kilometer di afrika sana 22 orang berada di ujung nasib. Saya membayangkan kalau saya yang ditugasi menendang bola itu pasti tiba tiba kaki saya menjadi kaku dan ambruk.
Dan memang adu penalti tidak bisa diduga. 1 orang pemain Jepang entah siapa namanya gagal memasukkan bola, dan menyebabkan kekalahan Jepang. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan pemain ini. Mungkin berminggu – minggu setelah hari ini dia tidak bisa tidur. Bayangkan, pasti di media media dia dicap sebagai pemain gagal yang menyebabkan kekalahan. Entah berapa juta orang penduduk Jepang yang dia buat kecewa.

Layaknya sebuah drama, malam ini di Johannesburg Africa, banyak air mata yang tumpah. Air mata bahagia dan air mata duka cita. Sebagian meratapi nasib karena kekalahan, sebagian meluapkan emosi karena berhasil melangkah 1 tahap lagi yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Semoga saja harakiri sudah tidak diterapkan lagi oleh penduduk Jepang. Karena, mereka bisa kehilangan 11 pemain terbaiknya.